Selesai makan malam bersama keluarga, Darren dan Alika berlalu menuju ke dalam kamar. Dengan langkah pelan tapi pasti Alika menuntun suaminya sampai ke dalam kamar. Perempuan itu membuka pintu kamar lalu meminta suaminya untuk masuk lebih dulu.
Darren duduk di ranjang seraya berkata, "Kamu nggak perlu bantuin aku jalan, Sayang."
"Kenapa?"
"Nyerinya udah agak mending, jadi aku pikir jalan sendiri pun nggak masalah asalkan hati-hati."
"Oh, ya, sudah. Kalau memang sudah baikan. Yang penting jangan kamu paksa."
Darren tersenyum lebar. "Kamu baik banget, aku makin cinta."
"Makanya jangan sia-siakan istri kamu. Berani kamu macam-macam, lihat pembalasanku."
Darren mengangguk-angguk patuh. "Ngomong-ngomong, kita beneran mau tidur di sini?"
"Memangnya kalau bukan tidur di sini terus di mana?"
"Maksudnya, kemarin kan kita sudah tidur di sini, kamu nggak kepengin tidur di rumah Papa Aryo?"
"Aku malah kepengin kita hidup mandiri di rumah sendiri."
Darren menggaruk pangkal hidungnya pelan-pelan. "Kalau itu, aku minta maaf karena belum bisa mewujudkan."
"Lho, kenapa? Kamu punya apartemen kan?"
"Bukannya kamu maunya kita tinggal di rumah sendiri dan bukannya di apartemen?"
Alika mengangguk. "Iya, tapi selama kita tinggal di tempat milik sendiri meskipun hanya apartemen aku nggak keberatan."
"Beneran? Kamu nggak keberatan tinggal di apartemen?"
"Iya, memangnya kenapa sih? Kok kamu kelihatan kaget gitu?"
Darren menghela napas dalam-dalam. "Aku pikir kamu keberatan kalau kita tinggal di apartemen." Darren meraih satu tangan Alika. "Maaf, ya. Aku belum bisa membawa kamu ke rumah baru kita. Nanti setelah semuanya beres kita bisa pindah ke rumah baru. Untuk sementara ini kita bisa tinggal di apartemen."
Kening Alika mengernyit. "Kamu beli rumah?"
"Iya, tapi itu dulu."
"Kapan kamu beli rumah itu?"
"Udah lama, mungkin sebelum kita memutuskan untuk menikah. Sebenarnya aku belum ada niat untuk beli rumah apalagi bangun rumah. Tapi, kebetulan waktu itu aku diajak temanku jalan-jalan dan nggak sengaja melihat rumah kosong yang siap dibeli. Aku suka lokasinya dan halamannya luas."
"Rumah itu sudah berapa lama kosong?" Alika mengernyit lagi. "Aku nggak mau tinggal di rumah yang diisi hantu."
Darren sontak tertawa. Istrinya masih tetap takut pada hal-hal semacam itu. "Nggak, Sayang. Sebelum aku membeli rumah itu aku lebih dulu cari-cari informasinya. Rumah itu memang dijual sudah lama sekali, tapi karena terlalu mewah makanya di pemilik rumah sengaja menyewakan rumah itu beberapa kali."
"Terus kenapa bisa kamu beli rumah itu kalau sekarang masih disewakan?"
"Aku beli rumah itu setelah yakin dan mengira-ngira uang yang aku punya. Sampai saat ini rumah itu masih disewakan tapi hak miliknya sudah menjadi milik kita. Aku sengaja meminta si pemilik lama untuk mencari orang-orang yang menyewa sampai rumah itu selesai direnovasi."
Alika kembali mengernyit. "Kok gitu? Jadi, kamu menyewakan rumah yang lagi direnovasi?"
"Iya."
"Bagian mana yang kamu renovasi?"
"Semua, aku tambah beberapa ruangan lagi. Cat rumah aku ganti yang baru, terus aku perbesar lagi bagian dapur dan kamar utama. Lantai atas aku buat lebih luas dengan membongkar satu kamar, karena bagi aku di lantai atas cukup dua sampai tiga kamar."
KAMU SEDANG MEMBACA
Oh, My Ex! (END)
Romance⚠ Pastikan dulu usia Anda cukup. 👉Series kedua Argadinata . . . Selama tiga tahun tak pernah bertemu, Darren akui bahwa mantan kekasihnya telah berubah menjadi perempuan anggun dan mempesona. Darren tidak munafik, perubahan mantan kekasihnya saat...
