Bersenandung kecil, dengan langkah kaki yang ringan, juga suasana hati gembira meskipun tubuhnya terasa lelah, Darren memacu semangatnya untuk datang ke rumah sakit lantas bertemu dengan Alika. Selama dia seminar di Bali, hubungan Long Distance Relationship benar-benar mereka lakukan. Rasa rindu ingin bertemu tak bisa diwakilkan hanya dengan lewat sebuah videocall.
"Hey, Dar!"
"Hey, Den."
"Kok bisa di sini? Kata mereka lo lagi seminar di Bali. Iya kan?"
"Seminarnya udah selesai."
"Oh, gitu." Aden mengangguk-angguk. "Gimana seminarnya?"
"Yah, begitulah."
"Kapan pulang?"
"Semalam."
"Emangnya lo nggak capek? Kenapa masuk kerja?"
Darren memijat pelipisnya. "Yah ... pengen aja. Capek sih pasti, ngantuk juga. Tapi, lagi males diem di rumah. Makanya gue datang ke sini."
"Tapi, bukan karena mau praktek kan?"
"Bukan."
"Gue curiga nih kedatangan lo ke sini karena mau cari seseorang."
Darren tergelak. "Apaan dah, sok tau lo! Eh, by the way, lo mau pulang?"
"Iya, jam kerja gue udah kelar. Gue mau pulang, terus makan siang, terus tidur siang."
"Parah lo. Kayak anak mamih aja."
Aden tertawa. "Ya, memang! Kan gue punyanya mamih, bukan bunda."
"Sialan lo! Sama aja!"
Aden kembali tertawa. "Ya, udahlah, gue pamit dulu."
"Awas nabrak semut!" celetuk Darren, "kasian semutnya."
Aden yang sudah berjalan agak jauh sontak tertawa kencang. "Kampret lo! Harusnya lo khawatirin gue, bukan si semut."
Mata Aden seketika melotot ketika melihat ada dua dokter senior yang melewatinya dari belakang. Ucapan kasarnya tadi sudah pasti terdengar oleh para seniornya. Kalau dilihat dari lirikan mata dua orang tersebut, sepertinya mereka kurang senang dengan ucapan kasar Aden tadi.
Darren yang menyaksikan Aden mati kutu hanya tergelak, Darren kembali melangkah tanpa ingin membuat Aden semakin mati kutu. Biarlah Aden yang menanggung malu karena tercyduk berkata kasar di depan senior.
Perasaan berdebar Darren rasakan ketika membuka pintu ruangan Alika. Wangi parfum perempuan itu sudah Darren ingat luar dalam di kepalanya. Tubuhnya langsung bereaksi hanya karena mencium aroma perempuan itu.
Seperti kebiasaannya dulu, Darren berbaring di ranjang Alika. Sebelum matanya tertutup, Darren merasakan getaran pada saku celananya. Ketika diperiksa, mata Darren langsung berbinar-binar karena melihat nama kakaknya.
"Halo?"
"Halo."
Darren mengernyit karena mendengar nada ketus dari kakaknya. "Gimana kabarnya, Mas?" tanya Darren basa-basi.
"Nggak usah basa-basi busuk deh. Kamu sudah pulang belum?"
"Yaelah, Mas. Adeknya mau kangen-kangenan padahal. Malah dijawab ketus."
"Nggak perlu banyak omong. Jawab pertanyaan Mas tadi."
"Udah, aku udah pulang. Emang kenapa? Mas beneran kangen?"
"Nggak sudi! Nggak penting!"
Darren melongo. Gitu banget, ya, ngomongnya, habis makan cabe atau gimana? Atau makan paku? Omongannya tajem bener dah!
KAMU SEDANG MEMBACA
Oh, My Ex! (END)
Romance⚠ Pastikan dulu usia Anda cukup. 👉Series kedua Argadinata . . . Selama tiga tahun tak pernah bertemu, Darren akui bahwa mantan kekasihnya telah berubah menjadi perempuan anggun dan mempesona. Darren tidak munafik, perubahan mantan kekasihnya saat...
