Bab 23

32.2K 2.1K 44
                                        

Berbekal informasi yang didapatkan dari Susan, Alika tahu kalau Susan memperoleh informasi itu dari Keyra, tanpa membuang banyak waktu Alika bergegas datang ke rumah sakit. Berhubung hari ini pun dia mendapatkan tugas pagi jadi sekalian saja dia mendatangi ruangan lelaki yang membuatnya tak berselera makan sama sekali.

"Dokter Alika, ya?"

Langkah kakinya terhenti sebelum Alika sempat berbelok menuju ruangan Darren, laki-laki yang berstatus sebagai kakak dari Andin itu menahannya.

"Ada apa, ya, Dok?"

Aden menggaruk kepalanya. "Dokter Alika kok tumben ada di sini, lagi cari seseorang, ya?"

"Iya, Dok."

"Masih pagi lho ini, memangnya orang yang dicari sudah datang?"

"Sudah. Dokter sendiri dari mana dan mau ke mana?"

"Saya dari ruangannya Darren, sekarang mau ke depan."

Kening Alika mengerut. "Ke depan?"

"Maksudnya ke UGD."

"Oh, gitu. Kalau begitu saya duluan ,ya, Dok."

"Iya, Dok. Silakan."

Hati Alika merasa gregetan karena mendapat gangguan dari Aden, untungnya Aden tidak berlama-lama menahannya. Setibanya dia di depan pintu ruangan Darren, dengan perlahan Alika mengetuk pintu itu. Karena tidak ada sahutan, Alika nekat menerobos masuk.

"Gue udah sarapan, Den. Batu banget sih, lo," ucap Darren.

Lelaki itu sedang memasang jas putih berserinya. Posisi Darren memang membelakangi pintu masuk, itulah sebabnya Darren tidak menyadari keberadaan Alika.

"Kok parfum lo kayak punya Alika? Sejak kapan lo pake parfum yang begi—Alika?!"

Alika tersenyum puas melihat wajah tercengang Darren ketika menyadari kedatangannya. Seolah belum cukup membuat Darren bungkam, Alika sengaja mengajak Darren beradu tatapan. Dengan langkah perlahan dia mendekati lelaki itu.

"Kamu bisa tau kedatangan aku hanya lewat aroma parfum?"

Lelaki itu menelan air ludahnya susah payah, Alika sampai bisa melihat gerakan jakun Darren yang bergerak-gerak.

"Aku tersanjung. Tapi, kesal juga, kenapa komentarku sama sekali nggak dibalas? Padahal kamu masih sempat balas-balasan komentar sama cewek-cewek itu."

"Ko-komentar apa?"

Sesampainya Alika di depan Darren, perempuan itu melingkarkan tangannya pada tubuh Darren. Hal itu tentu saja membuat Darren terkejut. Saking terkejutnya, dia sampai menahan napas.

"Alika, ja-jangan begini dong."

"Begini apa? Kemarin kamu sama sekali nggak hubungi aku. Balas pesanku pun kamu nggak mau."

Darren termenung. Kemarin dia memang sengaja mengabaikan Alika. Lelaki itu hanya ingin tahu sejauh mana pengendalian dirinya untuk berjauhan dari Alika. Rupanya, bukan hanya Darren yang kewalahan, perempuan itu juga merasakan hal yang sama. Kalau begitu apakah Darren boleh berharap?

"Aku kangen kamu," gumam perempuan itu, "tapi, kamu sama sekali nggak kangen aku."

"Si-siapa bilang aku nggak kangen? Aku kang—Shit!" Darren mengerjap. "Nggaklah, untuk apa aku kangen sama kamu?"

Alila mendongak dengan ekspresi wajah sendu. Perempuan itu membenamkan lagi tubuhnya dalam pelukan. "Hangat, ya, aku merasa nyaman saat dipeluk kamu."

Darren buru-buru melepaskan tangan Alika ketika tersadar telah memeluk perempuan itu. "Kamu kenapa sih? Lepas, Al. Aku mau praktek."

"Biasanya aku yang bilang begitu. Ternyata rasanya nggak enak, ya, kalau ditolak."

Oh, My Ex! (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang