Retha merasa bosan malam ini, jadi ia memutuskan untuk keluar hanya sekedar untuk menikmati jalanan Jakarta malam itu. Rerha segera mengeluarkan mobilnya dan menancapkan gas tanpa tau tujuan pasti.
Selama perjalanan Retha hanya fokus menyetir dengan suara radio yang menyala, ada beberapa lagu yang Retha suka dan Retha senandungkan bersama dengan radio tersebut.
"okey sobat neo fm, kali ini ada requestan dari sobat kita namanya Silvia, dia request lagu Biar aku yang pergi dari Aldi Maldini" ucap salah satu penyiar radio tersebut
"wah kayanya dari requestannya sih nih ya, dia lagi galau gara-gara ada cinta segitiga antara Silvia, temennya bareng si cowo itu nih" ucap penyiar radio lainnya
"waduh, saran gua si ya Silvia, kalo lu denger ini mending lu pikirin apa yang bikin lu bahagia, kalo bahagia lu bareng si cowo ya bersaing secara sehat sama temen lu ini. Tapi kalo bahagia lu bareng temen lu ini ya lu relain si cowo" ucap penyiar pertama tadi
"ah lo segala nasehatin orang, udah deh kita puter aja lagu requestan sari Silvia, Aldi Maldini dengan lagu Biar Aku yang Pergi" ucap penyiar kedua itu lalu musik berlantun didalam mobil tersebut.
Tak ku sangka
Semua seperti ini
Semua yang indah
Berubah jadi sirna
Tak habis pikir
Kau tega seperti ini
Meninggalkan aku
Tanpa suatu kepastian
Ku hanya bisa berharap
Kau bahagia di sana
Dengan dia pilihanmu
Walau dia sahabatku
Biar aku yang pergi
Biar aku yang tersakiti
Biar aku yang berhenti
Berhenti mengharapkanmu
Oh tuhan kuatkan aku
Menerima semua ini
Jika dia memang untukku
Kuharap kembalikan dia padaku
Tanpa Retha sadari, lagu itu seperti menyindir Retha. Menyindir keadaan perasaan Retha saat ini. Retha pun ikut bersenandung mengikuti musik yang masih berputar di radio itu.
Dengan lagu yang masih terputar, Retha memberhentikan mobilnya didepan kafe yang lumayan ramai dengan ada life music disama, Retha pum tertarik dan memutuskan untuk masuk kedalam kafe tersebut.
Setelah memarkirkan mobilnya, Retha memasuki kafe yang bertuliskan Neo Kaffê diatasnya. Pintu masuk di kafe tersebut ada bel yang menandakan setiap bel berbunyi berarti ada seseorang yang pergi atau keluar dari kafe tersebut.
Setelah memesan dikasir, Retha memilih untuk duduk dimeja indoor dengan ke jendela disampingnya agar dapat meihat pemandangan yang ada disana.
"loh Retha?" sapa seseorang itu
"Naufal? Lu ngapain disini?" tanya Retha
"ini kafe om gua, jadi gua lumayan sering kesini. Lu sendiri?" tanya Naufal
"iyaa nih, gua gabut aja jadi pengen keluar" ucap Retha
"bentar lagi Laura juga dateng, katanya lagi belajar dulu besok ulangan. Lu gak belajar emang?" tanya Naufal
"lu tau lah jawabannya, ngapain pake nanya" ucap Retha
"yaudah gua mau quality control dulu ya nanti gua sama Laura kesini lagi" ucap Naufal
Pesanan Retha sudah datang. Ia memesan Coffee Latte, sebenarnta dia tidak ingin memesan kopi karna takut susah tidur, tapi Retha merasa bahwa ia sedang butuh kafein dalam dirinya.
"Rethaaa" ucap seseorang yang baru saja datang itu
"hai Lau" ucap Retha
"tadi gak masuk karna pingsan ya lo? Ko bisa si? Naufal ceritanya gak lengkap" tanya Laura
KAMU SEDANG MEMBACA
Retha [end]✔️
FanfictionFisik gua kuat, tapi mental gua? Belum tentu bang. Gua cape. Kalo kata orang kita keluarga, karna satu darah. Menurut gua itu salah bang. Family comes from heart not blood. Bahkan orang yang gak sedarah sama gua malah jauh lebih peduli sama gua diba...
![Retha [end]✔️](https://img.wattpad.com/cover/267299525-64-k301104.jpg)