[WAJIB FOLLOW SEBELUM MEMBACA]
⚠️HASIL PEMIKIRAN SENDIRI. ANTI PLAGIAT-PLAGIAT⚠️
⚠️BANYAK KATA KASAR⚠️
⚠️TYPO BERTEBARAN⚠️
Kisah gadis cantik yang dijodohkan oleh kedua orangtuanya dengan seorang laki-laki tampan demi sebuah perjanjian. Dan siapa sa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Eh ada si ganteng. Ajak masuk dong Ra Reyhan nya" ucap Vannya--mama Ara yang tiba-tiba muncul didepan pintu rumahnya.
"Gak usah tante, udah malem gak enak sama tetangga nanti" jawab Reyhan sopan.
"Oh yaudah kalo gitu salam sama bunda kamu ya"
"Siap tante" jawab Reyhan mengacungkan jempolnya.
"Yaudah Reyhan pulang dulu, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab Ara dan Vannya bersamaan.
Ara menatap punggung Reyahan yang perlahan mulai menghilang. Setelah itu ia langsung masuk menghampiri Vannya untuk menyaliminya.
"Eh tunggu, itu muka kamu kenapa bonyok?" tanya Vannya saat melihat ada luka di sudut bibir anaknya.
"Tadi di jalan ketemu musuhnya Reyhan, terus Ara kena tonjok deh" jawab Ara dengan sedikit bumbu kebohongan.
"Jangan lupa di obatin loh ya" ucap Vannya
"Iya ma" setelah mengucapkan itu Ara langsung masuk menuju kamarnya.
—Skip—
Tak terasa, matahari sudah mulai muncul dengan malu-malu. Cahayanya yang sedikit terang tak mengganggu seorang gadis yang masih bergelut dalam mimpinya. Hingga akhirnya suara alarm ponsel masuk ke indra pendengarannya. Meraba meja kecil disebelahnya mencari keberadaan ponsel yang berbunyi tanpa membuka matanya.
Dapat!
Perlahan mata indah itu terbuka berusaha menyesuaikan cahaya dalam ruang kamarnya. Merenggangkan tubuhnya sebelum beranjak dari kasur ternyaman sedang Ara lakukan.
Setelah nyawanya sudah terkumpul semua, ia langsung beranjak untuk mandi. 15 menit Ara melaksanakan ritual tersebut. Ia memakai seragamnya sedikit berantakan. Setelah itu tak lupa Ara melaksanakan ibadah sholat subuhnya.
"ARA BARU SELESAI SHOLAT MA" balas Ara tak kalah kencang.
"CEPETAN TURUN YA"
"IYAAA"
Padahal jarak keduanya tak terlalu jauh, tapi entah mengapa keduanya berbicara dengan intonasi yang tinggi.
Tak mau membuat mamanya menunggu lama, Ara dengan cepat memasukan buku pelajarannya kedalam tasnya. Setelah itu seperti biasa ia memakai bedak bayi pada wajahnya dan tidak lupa memoleskan lip balm pada bibir ranumnya.
"Pagi ma, pa" sapa Ara pada kedua orangtuanya yang sudah duduk di kursi ruang makan.