Keduapuluhenam

504 49 0
                                        

      " pih... Siapa orang itu tadi? ",
      " siapa?.... Apanya?.. ",

.
.
.
.
.
.

   Sinbi menatap serius mata Yuri, sedangkan Yuri kebingungan tiba-tiba ditanya seperti itu, padahal mah dia tau maksud anaknya tadi,

     " apasih dek? " tanya Yuri sekali lagi,

     " halah.. Papih tau kan apa yang dipikiran Sinbi!... " kata Sinbi dengan menyilangkan kedua tangannya di dada, Yuri menghela nafas pelan,

     " ya........ " ucap Yuri terpotong,

     " permisi pak... Dengan kediaman keluarga Kim? " tanya seseorang, Sinbi dan Yuri menoleh kearah sumber suara,

     " ahh iyaa pak, ada apa? " tanya Sinbi mendekati seseorang itu,

     " ini... Pemesanan atas nama Tiffany, Kimchi, ayam goreng, dan jajangmyeon" katanya memberikan tas berisi makanan, Sinbi menerimanya,

     " ini udah dibayar kan pak? " tanya Sinbi lagi,

     " udah..... Yaudah saya pamit dulu.. Terima kasih... Dan jangan lupa memesan lagi" kata tukang delivery tadi,

     " BABY..... MAKANAN NYA UDAH SAMPEK?... CEPET BAWA MASUK NANTI KEBURU DINGIN!!! " kata Tiffany berteriak dari dalam, Sinbi berlalu meninggalkan Yuri tapi sebelum masuk Sinbi membalik tubuhnya menghadap Yuri,

     " kita belum selesai pih! " kata Sinbi penuh penekanan setelah itu langsung masuk, Yuri menghela nafas terus tersenyum melihat anaknya,

     ' kenapa mereka sama? Tuhan kau tidak adil' kata Yuri dalam hati.

   Mereka berempat duduk dengan rapi di meja makan,  Yuri mengambil jajangmyeon dan cola, sedangkan Sinbi yang tak suka cola apalagi soju, memilih makan ayam goreng, Tiffany hampir tak berbeda dengan Yuri, dan Taeyeon, hanya bisa menelan ludah menahan itu semua, dia harus makan bubur buatan Tiffany tadi, sebab perutnya yang masih gak beres,

     " udah selesai Tae makan nya? " tanya Tiffany ke Taeyeon, Taeyeon mengangguk lemas,

     " yaudah kamu tidur gih, aku mau beres-beres dulu, kalian juga sana ke kamar! " suruh Tiffany kepada ketiga orang di depan dan di sampingnya,

   Taeyeon berdiri dengan tangan mengelus perutnya, Yuri berjalan duluan di ikuti Sinbi, setelah berada di depan kamar Yuri, Yuri berhenti dan itu membuat Sinbi terpaksa berhenti juga,

     " apaan sih papih.... Kok tiba-tiba berhenti, pakek sen dong pih, kalo nabrak gimana? " Sinbi,

     " kita enggak dijalan dek... " jawab Yuri datar, Sinbi menepuk jidatnya,

     " ohh iya... " kata Sinbi,

     " kamu mau tau kan siapa? " tanya Yuri to the poin,

     " hngg... " jawab Sinbi dengan deheman,

     " ikut papih ke kamar! " perintah Yuri, Sinbi mengikuti Yuri, Yuri merogoh dompetnya yang berada di saku jas yang tergantung di lemari,

    Sinbi memperhatikan gerak-gerik ayahnya, setelah itu Yuri mendekat kearah Sinbi yang duduk di kasurnya,

     " ini... " kata Yuri sambil menyodorkan satu lembar foto, Sinbi menyatukan alisnya tanda tak paham,

     " ini apa? " tanya Sinbi,

Only Eighth Sense!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang