Wajah manis itu terlihat pucat. Matanya bengkak akibat terlalu lama menangis. Kedua tongkatnya mengayun diiringi dengan isakan tangis yang terdengar sangat lirih. Kedua kakinya menuntun pemuda itu kembali ke sebuah tempat yang akan menjadi titik awal dari perjalanannya sebagai orang tua tunggal bagi putranya, Rain.
Bayi itu pantas mendapatkan kehidupan yang lebih layak, tentunya dengan dukungan dari keluarga yang lengkap dan harmonis. Namun sayangnya takdir berkata lain, ayah dari bayi itu telah pergi dan tidak akan pernah kembali. Jed merasa sangat bersalah karena tidak dapat memberikan Rain kebahagiaan yang seharusnya ia dapatkan dari kedua orang tuanya.
Ayunan tongkat itu terhenti ketika melihat seorang wanita yang berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Wanita itu menautkan lengannya di depan dada seraya menghentak hentakkan heels yang di pakainya dengan irama yang beraturan.
Pemuda itu menghapus sisa air mata yang berlinang di area wajahnya sebelum menghampiri wanita yang kebetulan sedang membelakanginya.
"Maaf" wanita itu menoleh sehingga sekarang posisi mereka berhadapan.
"Apa yang anda lakukan di depan kamar saya?" Tanyanya dengan suara yang terdengar jelas seperti baru saja menangis.
"Anda tinggal di kamar ini?" Wanita memastikan perkataan Jed.
"Iya, saya tinggal di sana" angguknya.
"Saya Marie" Wanita itu mengulurkan tangannya. Jed pun dengan ragu membalas jabatan tangannya.
"Saya Jed" balasnya singkat.
"Tujuan saya datang ke sini adalah untuk menginformasikan bahwa masa sewa kamar yang anda tempati telah habis"
Pemuda itu terdiam. Tidak menyangka bahwa kepergian Dylan ternyata bertepatan dengan habisnya masa sewa apartemen yang merupakan satu satunya tempat tinggal yang ia miliki sekarang.
"Dan saya selaku manager apartemen berniat untuk menyewakannya kepada orang lain" lanjutnya.
"Apakah itu berarti saya harus mengosongkan kamar ini?" wanita itu mengangguk.
"Kecuali jika anda akan memperpanjang masa sewanya" tambahnya yang sangat mustahil untuk Jed lakukan karena keterbatasan biaya yang ia miliki.
"Uhm, bisakah anda memberi saya waktu untuk berkemas?" tanyanya sesopan mungkin.
"Tentu saja" Jed tersenyum mendengar jawaban dari wanita itu.
"Kalau begitu saya permisi" pamitnya berjalan meninggalkan Jed.
Pemuda itu mau tidak mau harus angkat kaki dari sana karena uang sewanya tidaklah murah. Walaupun Jed sendiri tidak yakin apakah dengan kondisi seperti ini ia akan mampu mendapatkan tempat tinggal baru atau tidak, tapi setidaknya ia masih bisa berusaha untuk mencari apartemen dengan harga yang lebih murah di luar sana.
Sisa tabungannya pun tidaklah sebanyak itu, jadi akan lebih baik jika Jed menghemat pengeluaran sampai ia mendapatkan pekerjaan baru. Meminta bantuan Alexander pun rasanya sangat berat untuk di lakukan karena Jed tidak ingin kembali bergantung pada belas kasihan mereka untuk yang kedua kalinya.
Jed pun bergegas masuk ke dalam dan berniat untuk langsung mengemasi barang barangnya. Namun pemuda yang masih berdiri di ambang pintu itu tiba tiba saja terdiam, mengingat peristiwa yang terjadi beberapa jam yang lalu. Matanya mulai berkaca kaca dan membuatnya semakin kecewa dengan pengkhianatan yang Dylan lakukan padanya.
Di mulai ketika Dylan menelantarkannya, hingga ketika Dylan meninggalkannya, semua penderitaan itu masih terpampang jelas di dalam benaknya. Jed kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak ingin kembali larut di dalam kesedihan yang tidak akan bisa mengembalikan Dylan padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Searching For Happiness [BXB]
Ficção AdolescenteJed tidaklah lebih dari seorang pemuda miskin yang hidup bersama adik perempuannya, dia menghabiskan masa mudanya hanya untuk mencari nafkah agar sang adik memiliki masa depan yang cerah. Namun siapa sangka, segala kekurangan yang di milikinya itu a...
![Searching For Happiness [BXB]](https://img.wattpad.com/cover/245858696-64-k570462.jpg)