#5

24.2K 1.7K 69
                                        


Bughh!

Ronald meninju pipi Jed dengan penuh kekuatan sehingga tubuhnya terhuyung kebelakang.

"Ampun Tuan, aku minta maaf" Jed memeluk lututnya di lantai dan menghindari kontak mata dengan Ronald.

"Tidak ada gunanya aku mengampunimu" Ronald sudah bersiap untuk melayangkan tinjunya lagi tetapi tiba tiba tinjunya itu terhenti di udara ketika mendengar Jed mulai menangis tersedu sedu. Ia sendiri tidak tahu kenapa kali ini ia merasa iba ketika mendengarkan tangisan itu.

Jed sendiri heran ketika ia tidak merasakan satu pukulan sama sekali maka dari itu ia perlahan mengangkat wajahnya dan kembali bertatapan dengan Ronald yang sedang memandanginya dengan tatapan kosong yang tidak bisa ia artikan.

Ronald membeku di tempat, ia benar benar tidak tahu kenapa sebuah tangisan bisa melemahkannya. Dulu bahkan ia tidak peduli ketika korbannya menangis ketika ia memenggal kepalanya tapi sekarang ia benar benar lemah.

"Kali ini kau selamat bocah" ucapnya tanpa menatap Jed sama sekali.

"Pergi keruanganmu!" Jed mengangguk ketika mendengarkan perintahnya lalu dengan tergesa gesa berlari ke tempatnya - gudang. Ronald memperhatikan Jed sehingga ia menghilang dari hadapannya.

"Sialan!"

"Fuck, what's wrong with me!"

Setelah selesai mengumpati dirinya sendiri Ronald pun pergi kekamarnya untuk beristirahat. Ia mungkin kelelahan setelah bercinta dengan Jeff tadi siang maka dari itu ia merasa lemah.

***

Jed terbangun dari tidurnya ketika merasakan perutnya yang keram. Sejak datang kerumah ini ia belum makan apapun, beruntungnya ia masih bisa meminum air dari kamar mandi walaupun tetap saja itu tidak membuatnya kenyang.

Ia pun memutuskan untuk pergi keluar lalu meminum air dan membereskan pecahan gelas yang belum ia bersihkan tadi sore. Ia berjalan di dalam kegelapan berharap Tuannya itu sudah terlelap di kamarnya.

Setelah meminum air dan membersihkan pecahan gelas itu, Jed berencana untuk kembali ke gudang tetapi ketika ia melewati lemari pendingin ia merasa tertarik untuk membukanya, mungkin ia akan merasa kenyang ketika melihat makanan yang ada di dalam sana walaupun hanya sekedar melihatnya.

"Hanya membuka saja tidak masalah bukan?" Ucapnya bermonolog. Dan pada akhirnya ia pun membukanya.

Ketika lemari pendingin itu dibuka tiba tiba dapur yang semula gelap berubah menjadi terang benderang. Karena panik ia pun dengan segera menutupnya kembali lalu berbalik dan terlihatlah orang yang sudah menghidupkan sakelarnya. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ronald.

Ia berdiri di dekat meja makan dengan bertelanjang dada dan bagian bawahnya yang hanya ditutupi oleh boxer putih semi transparan. Jed spontan meneguk air liurnya melihat tubuh kekar Ronald yang terbentuk sempurna.

"Sudah berani mencuri hm?" Ia melipat lengannya di dada dan menyandarkan tubuhnya ke dinding

"T...tuan ak..ak...aku bisa jelaskan" ucapnya terbata bata. Ia berusaha untuk menjelaskannya kepadanya tetapi ia tidak mendengarkan. Ronald malah melangkah mendekat kearah Jed dan membuat jantungnya berdebar semakin kuat.

Kini Ronald sudah berada didepannya. Ia mengunci tubuh Jed dengan kedua tangannya kemudian memandangi Jed yang bergetar karena ketakutan. Mereka saling bertatapan untuk waktu yang cukup lama. Lalu Ronald mendekatkan wajahnya ke telinga Jed dan seketika tubuhnya terasa akan meledak.

"Aku ti..tidak mencuri Tuan, ku..kumohon jauhkan tubuhmu dariku" Jed semakin tidak karuan, dadanya kembang kempis dan keringat mulai membasahi tubuhnya.

Searching For Happiness [BXB]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang