#12

18.2K 1.5K 95
                                        


Aku duduk disamping tuan Ronald, dengan Jeff dan dua orang lainnya yang berada di sebrangku. Sedangkan di kursi tunggal, duduklah seorang Pria yang aku yakini sebagai ayah tuan Ronald.

Aku merasa sedikit janggal ketika tidak melihat kehadiran seorang wanita yang seharusnya menjadi ibu dari tuan Ronald. Yang saat ini aku lihat malah seorang Pria berambut dark brown dengan kacamata yang bertengger dihidungnya. Tapi pada akhirnya aku pun lebih memilih untuk tidak mempedulikannya, karena aku juga tidak berhak untuk mencampuri urusan keluarga mereka.

Para pelayan mulai berdatangan membawakan masakannya ke meja kami. Aku sampai gelap mata ketika melihat berbagai macam hidangan yang tersedia, mulai dari appetizer, main course hingga dessert semuanya terpampang nyata dihadapanku.

"Mari kita mulai makan malam hari ini lalu setelah selesai, aku punya beberapa pertanyaan yang harus kalian jawab" ucap Pria yang duduk di kursi tunggal.

Kami pun makan didalam keheningan, yang bisa kudengar hanyalah suara piring dan sendok yang saling berdentingan. Aku sendiri kagum ketika melihat betapa rapi dan teraturnya mereka ketika menyantap hidangan yang disajikan. Tidak sepertiku yang bahkan tidak bisa memotong daging dengan benar.

Tuan Ronald yang melihatku mengalami kesulitan langsung merebut pisau dan garpu yang sedang aku pakai dan langsung memotongkannya kearah daging yang berada di atas piringku.

"Terimakasih" ucapku pelan dan dibalasnya dengan senyuman manis.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi kami untuk menghabiskan makan malam hari ini, satu persatu pelayan pun mulai kembali berdatangan untuk membereskan alat alat makan yang baru saja kami gunakan.

Setelah mereka semua selesai, suasana pun kembali menjadi canggung. Aku bahkan tidak berani untuk hanya sekedar menatap orang orang yang saat ini berada satu meja denganku. Apalagi Pria yang duduk di kursi tunggal, wajahnya begitu dingin dan menyeramkan.

"Jadi bagaimana tentang rencana pernikahanmu Leon?" Pria itu membuka pembicaraan.

"Aku masih memikirkannya Dad, akhir akhir ini banyak pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan" ucap Pria yang duduk disamping Jeff sembari memijat pelipisnya.

"Kau bisa mengambil cuti son" timbal Pria berkacamata.

"Iya Papamu benar, daddy tidak ingin pernikahan kalian ditunda tunda lagi" tegasnya.

"Baiklah Dad, akan aku mempertimbangkannya lagi" Pria bernama Leon itu mendengus.

"Kami sudah merestui kalian, orang tua Zane juga sudah setuju, apa lagi yang harus kau pertimbangkan son!"

"Baiklah baiklah, tolong segera atur tanggal pernikahannya" finalnya.

"Bagus, itu baru anakku" sontak mereka semua tertawa. Sedangkan aku yang tidak mengerti apa apa hanya bisa berdiam diri menyaksikan betapa hangatnya keluarga mereka.

Dari pembicaraan mereka tadi aku kembali menemukan sebuah kejanggalan. Pertama, mereka memanggil pria yang duduk dikursi tunggal dengan sebutan 'Dad' dan kedua, dia memanggil Pria berkacamata dengan sebutan 'Papa'

"Apakah itu berarti..."

"Ah tidak, jangan berpikiran bodoh Jed! Itu tidak mungkin"

Aku menepis pikiran anehku dan memilih untuk kembali menyimak obrolan mereka.

"Dan kau Ron, apakah kau tidak ingin memperkenalkan kami kepada pemuda itu?" Tanyanya sembari menengok kearahku.

"Jed" aku menoleh ketika tuan Ronald memanggil namaku.

Searching For Happiness [BXB]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang