#17

15.9K 1.3K 118
                                        


Jordan berjalan melewati koridor rumah sakit. Beberapa orang menatapnya penuh minat dan Jordan pun hanya membalasnya dengan senyuman ramah.

Sedangkan Jed hanya bisa terduduk diatas kursi roda karena luka di kakinya belum sembuh total. Pemuda itu terdiam dengan raut wajah kusut, kemungkinan besar karena Jed masih memikirkan kandungannya yang gugur.

Dengan hati hati Jordan memanggul tubuh Jed dan mendudukkannya didalam mobil. Setelah semuanya selesai, Jordan pun melajukan mobilnya. Ia berencana untuk membawa Jed ke rumahnya karena sepertinya tempat itu akan cocok untuk Jed yang sedang menjalani masa pemulihan.

"Kau baik baik saja?" Tanya Jordan ketika Jed tak kunjung berbicara.

Jed menoleh dan mengangguk. "Iya" jawabnya singkat.

Jordan pun lebih memilih untuk tidak bertanya lagi karena sepertinya Jed sedang membutuhkan waktu untuk sendiri.

Namun sebenarnya Jed saat ini hanya sedang merasa bimbang karena entah mengapa didalam hatinya ia merasa Jordan memiliki maksud lain dibalik segala kebaikannya.

Dan Jed tidak tahu apa yang harus dilakukannya jika semua ini ternyata hanya jebakannya belaka. Ditambah kondisinya yang seperti ini pasti akan sangat sulit untuk bisa melarikan diri.

Tapi semoga saja Jordan memang melakukan semua ini karena ketulusan hatinya, bukan karena hal lain. Jed mengusap wajahnya kasar kemudian kembali menatap keluar jendela.

Butuh waktu hampir satu jam untuk bisa sampai ke tempat tujuan, karena lokasinya cukup jauh dari pusat kota. Jordan pun menghentikan mobilnya di pelataran rumah.

"Kita sudah sampai Je-" Jordan menghentikan kalimatnya ketika menengok kearah Jed yang terlihat hampa dan kosong.

"Sebenarnya kau ini kenapa Jed?" Pemuda itu menggeleng. "Aku hanya lelah" bohongnya.

"Baiklah, lebih baik kita masuk sekarang" Jordan keluar dari mobilnya dan setelah itu membantu Jed untuk duduk diatas kursi rodanya.

Jed tidak bisa berkata kata ketika melihat betapa mewahnya rumah Jordan. Bagian luarnya saja sudah terlihat sangat indah dan Jed yakin pasti bagian dalamnya akan terlihat lebih indah dari ini.

Mereka berdua pun masuk kedalam dan ketika pintu terbuka alangkah terkejutnya Jed ketika melihat sosok seorang gadis yang sedang terduduk diatas sofa dengan setumpuk mainan diatas pangkuannya.

"Eve" Gadis itu menoleh dan langsung tersenyum lebar.

"Kakak!" Eve berlari dan langsung berhambur kedalam pelukan Jed, menyalurkan segala kerinduan yang selama ini mereka pendam.

"Aku merindukan kakak!" Ucap Eve lirih.

"Kakak juga Eve" balas Jed.

"Kakak baik baik saja kan?" Eve memandang wajah Jed dengan penuh kekhawatiran.

Jed mengangguk lemah. "Kakak baik baik saja, jangan khawatir" Jed tersenyum tipis lalu mengelus rambut Eve.

"Lalu bagaimana dengan Eve, apa paman Ronald berbuat jahat padamu?" Eve menggelengkan kepalanya beberapa kali.

"Tidak kakak, paman Ronald tidak berbuat jahat pada Eve" jawabnya.

Jed menghembuskan napas lega. "Syukurlah Eve" pemuda itu kembali tersenyum.

"Apakah kakak ingin bermain bersama Eve?" Tanyanya penuh semangat. Jordan yang mendengarnya langsung mendekati Eve seraya menyesuaikan tinggi badan mereka.

"Eve, Kakak masih sakit dan sekarang dia harus istirahat" senyuman di wajah gadis itu seketika luntur digantikan dengan raut wajah kecewa.

"Baiklah paman" Eve menyerah, lalu kembali bermain dengan perasaan kesal.

Searching For Happiness [BXB]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang