Hari ujian pun telah tiba. Mereka sedang bergelut dengan pemikirannya masing-masing mencari jawaban. Satu pengawas tengah memperhatikan mereka dengan serius. Kacamata nya sudah melorot dari tempat seharusnya. Muka garangnya mampu menbuat mereka takut.
"15 menit lagi." Mereka tersentak kaget. Yang benar saja? 15 menit lagi?
"Pak? Masih banyak yang belum dikerjain!" lesu Ali.
"Saya tidak peduli." Ali mendengus mendengar mendengar itu.
Sutt sutt
Naufan menoleh ke arah samping yang di mana sudah ada Malik yang sedang menatapnya. Dia menutupi mukanya karena takut Pak Dedi—guru pengawas saat ini—memergokinya. "Apa?" Naufan bertanya tanpa suara.
Malik mengacungkan dua jarinya. Naufan mengangguk melihat itu. "A." Satu ulas senyum terbit di wajah seorang Malik. Dia dengan segera mencatatnya.
Sutt
Suara desisan kembali terdengar, membuat Putri yang berada di belakang Naufan menatapnya tajam. Naufan hanya menampilkan senyumnya.
"5 menit lagi." Kelas sangat ricuh ketika mengetahui waktu hanya tersisa 5 menit lagi.
"Aaaaa Bapak otak Abdi lieurrrrrrr!" teriak Ali frustasi.
"Mau saya sobek itu kertas ujian?" Ali langsung terdiam. Dia tidak mau sampai kertas ujiannya di sobek. Itu akan membuatnya semakin susah.
Satu gumpalan kertas mendarat di meja Putri. Dengan segera Putri memeriksa kertas itu diam-diam. Dia menatap ke bangku Vio yang di mana Vio sudah menatapnya juga dengan kertas ujian yang menghalangi arah dari pandang Pak Dedi.
"Belum." Putri menjawab tanpa suara.
"Ekhem." Putri dan Vio sontak terperanjat. Mereka kembali sibuk dengan kertas ujiannya.
Pensil yang ada ditangan mereka, selalu mereka ketuk di kepalanya hanya untuk mencari jawaban. Mungkin dengan diketuk, sebuah jawaban akan muncul dibenak mereka.
"Waktu habis! Kumpulkan sesuai absen." Satu kalimat keramat telah dilontarkan oleh guru itu. Kalimat itu adalah sebuah kalimat yang paling dibenci oleh semua murid. Apalagi untuk dia yang berada di absen pertama.
Mereka mempercepat cara menulisnya tidak peduli dengan Pak Dedi yang sudah meneriaki mereka untuk segera mengumpulkan. Di setiap bangku, mereka sedang menukar jawaban satu sama lain sebelum dikumpulkan. Pak Dedi yang melihat itu hanya menghela nafas panjang.
"Saya hitung sampai tiga. Kalau tidak ada yang mengumpulkan lagi, saya anggap semuanya sudah beres." Mereka yang sedang sibuk mencatat jawaban, kini memilih mengumpulkan meskipun ada beberapa soal lagi yang belum mereka jawab.
"Baiklah, ujian pertama selesai. Kalian boleh Istirahat. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Akhirnya udara segar bisa mereka hirup. Mereka menetralkan detak jantungnya masing-masing. Keringat sudah membanjiri pelipis mereka. Untung saja pelajaran pertama sudah selesai.
"Put! Yang tadi udah kejawab?" tanya Vio. Putri mengangguk mantap.
"Apa?"
"Asal." Vio tersenyum paksa ke arah Putri.
"Oy! Meli pusing tolong! Help me! Pelajaran matematika sangat arghhhh gitu." Ya, ujian pertama tadi adalah matematika. Pembukaan yang sangat menakjubkan.
"Otakku ngebul," sahut Ghea.
"Apalagi Putri," timpal Putri dengan meminum satu botol air yang baru saja dia beli.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lumpiah [TERBIT]
Teen Fiction[Sudah terbit] Masa SMP itu masa yang nggak bisa dilupain gitu aja. Awal-awal kenal orang baru, karakter baru, kehidupan baru, kisah cinta monyet, dan pembelajaran yang lebih sulit dari sebelumnya. Masa SMP juga adalah masa dimana kita masih labil d...
![Lumpiah [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/262414397-64-k135927.jpg)