Hari yang paling anak sekolah benci, yaitu pembagian rapor. Satu kata itu sudah berhasil membuat diri mereka seketika pasrah akan ceramahan bertubi-tubi dari orang tuanya masing-masing karena melihat nilai anaknya yang jauh dari ekspetasi mereka.
Berbeda halnya dengan Putri. Dia sangat santai karena dia tidak takut jika dimarahi. Orang tuanya tidak mempermasalahkan nilai atau peringkat, yang terpenting dia naik kelas saja sudah cukup. Putri sekarang sedang berada bersama keempat sahabatnya untuk menunggu giliran dipanggil, meskipun mereka menunggu di luar sih. Sebenarnya, kelas mereka dan Maya itu berbeda. Tapi karena bangunan sekolah yang masih sedikit, membuat sebagian kelas digabung, dan salah-satunya kelas Maya.
Tidak bisa berbohong bahwa saat ini detak jantung sedang berdetak lebih cepat. Semua orang tampak berlalu-lalang dengan menggenggam setiap tali tasnya erat. Suara 'cekrek' terdengar dimana-mana untuk mengabadikan setiap moment bersama temannya sebelum libur panjang dilakukan.
Diwaktu inilah banyaknya kalimat-kalimat pasrah telontar dari mulut ke mulut.
"Auto marahin ini mah."
"Pasrah ah udah, nilai turun."
"Otw gak dikasih jajan sebulan ini mah."
"Deg-degan oy!"
"Jangan sampai nyawa melayang karena nilai rapot please!"
"Na Jaemin! Tolong bawa aku ke Korea sekarang juga!"
Ikuti alur saja.
Pintu berwarna cokelat itu pun akhirnya terbuka, membuat kelima orang itu memandang was-was. "Ma! Gimana?" tanya Vio kepada Mama Letta yang sudah menenteng satu rapor berwarna biru tua.
Tidak ada jawaban yang keluar membuat mereka menatapnya cemas. Tapi sedetik kemudian, senyuman terbit di wajah Mama Letta. "Alhamdulillah, Vio peringkat dua."
Mereka yang mendengar itu sontak memekik gembira. "Wow, chukhahae eonnie!" ujar Meli dan Putri bersamaan.
"Wow, selamat, Vi!" Ghea menepuk-nepuk pundak Vio.
"Ayay, Adiknya Iqbaal peringkat dua. Selamat-selamat!" Risa menjabat tangan Vio.
"Kalian? Dapet juga?" Vio menatap ketiga sahabatnya. Mereka menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu. Orang tua mereka saja belum keluar.
"Kalian semua masuk lima besar." Ucapan Mama Letta sontak membuat mereka membulatkan matanya tidak percaya.
"Serius?" Mama Letta mengangguk meyakinkan.
Vio tidak bisa menyembunyikan raut gembiranya. Dia segera memeluk ketiga sahabatnya. Tapi tiba-tiba satu lingkaran tangan membuat mereka melepaskan rangkulannya. Mereka berempat menatap Maya yang sudah ikut bergabung. "Gue juga masuk kali." Satu lagi fakta membuat mereka sangat bahagia.
Sebuah dekapan hangatnya persahabatan mereka ciptakan kembali. Para orang tua yang melihat itu, tersenyum tipis ke arah mereka. Apakah persahabatan ini memang sudah ditakdirkan? Mereka selalu bersama-sama dalam hal apapun itu. Padahal, mereka sedikit ragu untuk mengetahui bisa masuk kedalam jajaran murid berperingkat karena pada dasarnya mereka selalu malas dalam belajar.
"Demi apapun, kita kayaknya emang udah ditakdirkan," ujar Vio sambil mengeratkan pelukannya.
"Mungkin," jawab mereka.
Inilah suatu hal yang bisa membuat orang lain iri. Persahabatan mereka. Tidak pernah ada badai di antaranya. Persahabatan mereka selalu damai dan tentram. Tidak ada yang namanya permusuhan, meskipun pasti pernah ada. Tapi itu tidak berlangsung lama, hanya sekitar 5 detik setelah itu kembali normal. Karena pada dasarnya, mereka tidak bisa saling mendiami.
Sayangnya, libur panjang membuat mereka sedih karena harus berpisah. Banyak sekali foto selfie yang mereka ambil hari ini untuk disimpan menjadi bukti persahabatan mereka dan meringankan kata, 'rindu'.
"Kita bikin album yuk! Namanya 'Squad Arcenciel', terus pake stiker hewan," usul Putri. Mereka mengangguk setuju dan kembali mengambil gambar. Mungkin sudah sekitar 100 foto terkumpul di memori ponsel Ghea. Ya, begitulah. Satu ponsel harus menjadi korban pertama sebelum dibagikan kepada pihak yang bersangkutan.
"Hey! Ikutan atuh!" Suara Naufan membuat mereka berenam berbalik. Naufan dan Devan tampak sedang berjalan ke arah mereka dengan wajah senangnya.
"Ey, maunya," goda Meli.
Naufan tersenyum sabar. "Kenang-kenangan di masa kelas VIII yang penuh dengan bermain-main. Hayokk tekan tombol kamera dan lakukan pose sebahagia mungkin!"
Mereka semua tersenyum, termasuk Devan yang sudah merangkul Naufan. Karena seorang Vio sangat pas untuk dijadikan orang yang mengambil gambar, dia pun sudah bersiap paling depan. Sedangkan yang lain sibuk mengatur posisi dan gaya.
Cekrek
Satu gambar pun berhasil mereka ambil. Terlihat bahwa Vio yang sedang memanyunkan bibirnya, di samping Vio ada Ghea yang menampilkan senyum termanisnya, Risa yang berada di samping Ghea tersenyum manis sambil merangkul tangan Ghea, di samping Risa terdapat Meli yang sudah mengangkat dua jarinya berbentuk peace, sama halnya dengan Putri yang melakukan pose seperti itu, dan terakhir ada Devan dan Naufan yang berada di samping Putri dengan saling merangkul layaknya seorang laki-laki.
Ketika mengetahui hasilnya sangat bagus, mereka saling melempar senyuman dan mengambil beberapa gambar lagi dengan pose yang berbeda.
Karena hari sudah sangat siang, mereka pun memutuskan untuk pulang. Di sinilah mereka berpisah sebelum dipertemukan kembali dengan tingkatan yang berbeda, yaitu kelas IX yang penuh dengan kesibukan.
"Ghea! Jangan lupa kirim fotonya!" teriak Meli.
Ghea yang mendengar itu membentuk jari tangannya 'oke'. Setelah itu, merekapun tidak terlihat lagi di lingkungan SMPN 3 Gempita.
Semesta yang sangat cantik menjadi saksi bisu di antara perjalanan persahabatan mereka, termasuk saksi dikejadian yang akan muncul suatu hari nanti. Hanya bisa menunggu untuk mereka bersama kembali setelah habisnya liburan kenaikan.
Dear 8 Fantastic
Hay kalian! Orang-orang yang tidak pernah saling mengenal. Terimakasih karena berkat takdir ini, kita dipersatukan dan bisa saling mengenal. Aku harap, ditingkat selanjutnya masih bisa bersama dan membuat kegaduhan seperti biasanya. Meskipun itu cukup ragu untuk diucapkan. Yah, aku belum tahu bagaimana nasib kelas ini ke depannya.
Dua tingkat akhirnya sudah terlewati. Ayo! Tinggal satu tingkat lagi dan setelah itu kita akan lulus dari masa putih biru. Aku yakin pasti kita bisa melaluinya!
Yah hanya itu saja. Ayo! Berjuang sama-sama! Buktikan kepada semua guru dan kelas lain yang selalu memandang kelas ini sebelah mata. Buktikan bahwa kelas Fantastic tidak senakal itu. Aku jamin mereka akan tersedak air liurnya sendiri karena melihat kebersamaan kita dan kemenangan kita nanti. Fighting! 8 Fantastic!
"Jangan selalu memandang sesuatu sebelah mata, karena apa yang dilihat tidak selalu benar."
_Narin Sintya Putri
Tbc
Udah ah sad. Jadi inget kelas😭 ada yang baca ini gak sih huweee. Kalau ada cantumkan satu huruf aja gapapa kok, sungguh. Aku hanya ingin tau.
Ya udah vote dan komen and follow jangan lupa
>Kadang sedih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lumpiah [TERBIT]
Ficção Adolescente[Sudah terbit] Masa SMP itu masa yang nggak bisa dilupain gitu aja. Awal-awal kenal orang baru, karakter baru, kehidupan baru, kisah cinta monyet, dan pembelajaran yang lebih sulit dari sebelumnya. Masa SMP juga adalah masa dimana kita masih labil d...
![Lumpiah [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/262414397-64-k135927.jpg)