"Aw tungguin ih."
"Cepet."
"Sakit tau kena batu."
Itulah perkataan yang selalu mereka ucapkan ketika akan melakukan shalat dzuhur. Mereka berjalan di atas semen, tanpa menggunakan alas kaki. Karena katanya sih, ribet. Nanti harus buka lagi pas masuk masjid.
"Vio!! Pilih mukenanya enam!" teriak Meli. Vio yang mengerti dengan segera mengangguk dan berlari untuk mengambil enam mukena. Mereka takut tidak mendapatkan mukena. Yang menjadikan mereka, harus menunggu yang lain. Nah, mereka tidak mau itu terjadi.
Mereka pun saling bergantian untuk wudhu, meskipun banyak sekali air. Tapi, orang yang akan wudhu kan tidak sedikit.
Selesai sudah. Mereka pun segera memasuki masjid untuk menunaikan shalat dzuhur.
Beberapa menit telah berlalu. Kini ke-enam gadis itu sudah selesai menunaikan ibadahnya. Mereka sedang merapihkan penampilan di luar kaca masjid. "E-eh Put, itu si Angga," kata Meli sambil melihat bayangan sosok Angga yang terlihat di kaca. Putri yang mendengar itu sontak mencari keberadaan Angga.
"Tuh," ucap Putri ketika menemukan sosok Angga yang sedang menongkrong dengan beberapa temannya.
"Idih, malah nongkrong," sahut Ghea yang melihat itu.
"Terus sekarang kita kemana?" tanya Vio. Meli mengetuk-ngetuk kepalanya, berpikir. "Perpus aja deh, yu," usulnya. "Boleh tuh," jawab mereka.
Perpustakaan yang sedikit diminati warga sekolah, membuat ke-enam gadis itu senang. Karena menurut mereka, dengan perpus yang sepi membaca akan lebih serius tanpa ada gangguan. Emm mungkin!
Untuk sampai ke perpustakaan, mereka harus melewati jalan yang Angga dan teman-temannya tempati. Membuat Putri berdecak kesal. "Jalan sana, yu," ajak Putri. Tapi, mereka lebih memilih jalan itu ketimbang jalan yang Putri inginkan. "Udah jalan sini aja, ayo," ucap Meli sambil menarik tangannya.
Putri sebal, tentu saja. Dia sebisa mungkin menghindari Angga, tapi kenapa mereka malah—ah sudahlah. Dengan hati yang terus mengumpat, Putri pun memilih jalan duluan. Mengabaikan teman-temannya yang tertinggal.
"Angga! Si Putri sombong yah," kata Vio dan masih terdengar oleh Putri yang berada sedikit jauh dari mereka.
"Iya. Putri sombong," timpal Angga dingin, seperti biasa. Putri yang mendengar Angga menyahut, segera berbalik menatap teman-temannya. "Apaan sih? Udah ayo," ucap Putri dengan sedikit kesal.
"Ciee salting," goda Ghea. Putri hanya menatapnya sebal. Mereka yang melihat Putri kesal hanya tertawa. "Ayo buruan," rengek Putri. Meli yang paham akan perasaan salah-satu temannya itu, dengan segera dia mengangguk dan berjalan menghampiri Putri.
Kisah kelam diantara Angga dan Putri, membuat diri Putri sangat kesal ketika melihat Angga. Itu sangat menyakitkan ketika Putri mengingatnya.
"Angga! Si Putri nih!" teriak Meli ketika melihat Angga yang sedang berjalan dari arah yang berlawanan.
Putri yang mendengar teriakkan Meli, segera menatap Angga yang ada didepan sana. Tapi ternyata, ekspetasi tidak sesuai dengan realita Meli. Angga dengan santainya melewati mereka berdua tanpa minat menyapa.
Ada apa dengan mereka berdua?
Itulah yang Meli pikirkan dalam benaknya. Ketika Meli melihat kearah Putri, dia malah menatap kosong kearah lapangan. Lalu matanya beralih menatap Angga yang sudah berjalan menjauh dengan muka dingin andalannya.
"Cerita, apa yang udah terjadi? Gak ada penolakan," ucap Meli dengan penuh penekanan.
Putri mengha nafas panjang. Bagaimanapun, dia harus menceritakan semua itu kepada sahabatnya. "Marah," ujar Putri singkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lumpiah [TERBIT]
Dla nastolatków[Sudah terbit] Masa SMP itu masa yang nggak bisa dilupain gitu aja. Awal-awal kenal orang baru, karakter baru, kehidupan baru, kisah cinta monyet, dan pembelajaran yang lebih sulit dari sebelumnya. Masa SMP juga adalah masa dimana kita masih labil d...
![Lumpiah [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/262414397-64-k135927.jpg)