Every day with baper

62 34 51
                                        

"Baiklah, apa kalian membawa novelnya?" Bu Sapta menatap murid-muridnya.


"Bawa, Bu!"

Bu Sapta mengangguk dan berdiri di depan papan tulis. Dia mulai menulis sesuatu dengan spidolnya. Setelah selesai, beliau menatap kembali anak muridnya. "Ibu beri waktu kalian 15 menit untuk membaca bukunya, setelah itu, kalian isi sesuai dengan yang Ibu tulis di depan."

"Siap, Bu!" Mereka mulai membaca novel yang dibawa masing-masing. Kalian salah jika mengira kelas ini bakal hening karena sedang membaca, karena buktinya kelas masih ribut seperti biasa.

"Uwow, Sigit baca novel bities!" seru Naufan heboh.

"Uwow, Sigit!" timpal Tegar.

Sedangkan Sigit menatap mereka tajam. "Ini punya Kakak gue, oy! Gue mah, mana punya buku novel."

"Seorang Sigit membaca? Mustahil." Devan menatap Sigit yang sedang merengek.

"Huweee Ibu! Tinggali, Abdi malah disisirik!" adu Sigit.

"Udah udah, Ibu kan suruh kalian baca bukannya main." Sigit dan Naufan hanya terkekeh kecil, setelah itu melanjutkan kembali acara membacanya, meskipun masih saling pukul tangan di bawah meja.

"Sudah 15 menit, kalian boleh isi seperti yang ada di depan ini." Mereka mengangguk dan membuka buku Bahasa Indonesia.

"Put! Baca buku apa?" Meli membalikkan badannya menghadap meja Putri.

"Friendzone." Putri menjawab dengan santai.

Vio yang mendengar itu lantas ikut menimbrung. "Anjay Friendzone. Nyesek tuh pasti." Putri dan Meli yang yang mendengar itu mengangguk mantap.

Tapi sedetik kemudian, Putri mengingat sesuatu dan segera mengambil catatan milik Vio. "Eh, ngapain?" Vio terkejut dengan perbuatan yang baru saja Putri lakukan.

"Gak keliatan tulisannya." Putri menjawab dengan tangan yang sibuk mencatat.

Meli hanya menggelengkan kepalanya. "Itu mata udah empat, masih aja gak keliatan." Mata Putri memang sudah minus, membuat dia harus memakai kacamata. Tapi entah kenapa masih buram saja ketika melihat jarak yang jauh.

"Kayaknya nambah, deh."

"Main ponsel terus, sih."

"Biasa, ngestalker bias."

Vio hanya menggelengkan kepalanya. Karena tidak ada perbincangan lagi, mereka bertiga memilih menjawab pertanyaan yang baru saja mereka catat.

5 menit sudah berlalu. Kini, Bu Sapta meminta satu persatu dari mereka untuk mereview buku novelnya sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan yang ditulis di papan.

"Siapa yang maju?" Karena tidak ada yang mau maju, akhirnya Vio memutuskan untuk pertama. Ketahuilah, maju pertama itu selalu membuat hati gugup, berbeda halnya dengan kedua dan seterusnya.

Vio mulai mereview bukunya, meskipun tidak dipedulikan oleh teman-temannya karena mereka juga sedang sibuk menghapal jawaban yang mereka tulis di buku. Kegiatan ini sama seperti waktu GLS hari Selasa. Mereka harus mereview buku yang mereka baca dengan tidak melihat tulisan sebelumnya. Kenapa GLS harus dilaksanakan? Kegiatan ini sudah lumayan lama dilaksanakan sejak angkatan Putri masih kelas 7. Tujuannya untuk meningkatkan kecepatan anak-anak dalam membaca dan mengingat. Dalam hitungan beberapa menit meraka harus sudah mengerti apa yang mereka baca, mereka harus mengingat satu kata kunci dari dalam buku yang sudah dibaca barulah bisa mereview buku tersebut. Maka dari itu, disetiap kelas harus membuat sebuah pojok baca dan pohon literasi untuk menempel kertas hasil review di sana.

Lumpiah [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang