"Aaaaa akhirnya Maya perhatian sama kita, Mel!" Putri mengguncangkan pundak Maya.
"Eonnie emang the best!" Sedangkan Meli mengacungkan satu jempol jarinya.
Vio, Ghea, dan Risa yang melihat itu hanya bisa tersenyum maklum ke arah mereka. Tentu saja mereka bertiga sudah terbiasa melihat itu yang dimana Putri dan Meli selalu bersikap manja kepada seorang Alvia Maya Dhika. Seorang gadis dingin nan cuek, tapi bisa luluh hanya karena Putri dan Meli.
"Makasih permennya!" teriak Keduanya dan menjauhi Maya dengan mengambil permen loli dari tangannya.
Meli dan Putri kini duduk di bawah pohon literasi yang ada di sudut kelasnya sembari menikmati permen hasil traktiran Maya.
Ghea yang melihat itu berjalan mendekati Maya. "Ekhem, May! Buat aku nggak ada?"
Suasana berubah senyap disaat Ghea mengatakan itu. Mereka semua yang ada di kelas terfokus untuk mendengarkan jawaban apa yang akan diberikan Maya.
Jeng jeng jeng~
Sampai Naufan pun memukul-mukul meja guna membuat suasana semakin tegang. Disebelahnya ada Tegar yang sedang membenarkan dasinya dan tangannya menggenggam satu buah pensil untuk dijadikan mikrofon. Dan di depannya terdapat Sigit dengan tangan yang sudah membentuk kamera untuk mengambil vidio Maya dan Ghea.
"May!" Ghea kembali memanggil dengan nada yang dimanja-manjakan membuat sebagian dari mereka menahan mual. Tapi tidak untuk kedua bocil yang sedang sibuk memakan permen loli. Mereka berdua seperti anak kecil yang hanya tahu makan permen.
"Gak." Satu kata itu sontak membuat Ghea memegang dadanya dramatis. Ucapan singkat yang mampu membuat ribuan pisau menghujam dadanya.
Kelas tampak riuh mendengar jawaban singkat itu. Seperti Tegar yang sudah membuat sebuah live liputan berita tentang, "sebuah permen yang dapat menghancurkan pertemanan." Tidak lupa dengan Sigit yang fokus mengarahkan tangannya yang berbentuk kamera itu kepada Tegar.
"Ninu ninu ninu...." Ali berjalan mengelilingi Ghea dan Maya dengan tangan yang terjulur ke depan seperti sedang mengendarai kendaraan dengan mengeluarkan suara layaknya ambulans.
Kini Ali berdiri tepat di depan mereka berdua. "Ada yang sakit tapi bukan jatuh," ucap Ali.
"Terossssssss!" sahut satu kelas.
"Udah." Jawaban dari Ali membuat satu kelas menyorakinya.
"Gue kira lo lagi pantun, Li! Boro-boro gue udah dengerin dengan khidmat," dengus Naufan.
"Terus yang sakit apa, Li?" Tangan Tegar yang memegang sebuah mikrofon atau lebih tepatnya pensil sudah berada tepat di depan bibir Ali guna untuk membesarkan volume suaranya. Tangan Sigit sibuk untuk menyamai pergerakan Tegar yang tidak mau diam.
"Hey, Mak! Ali masuk Tipi, Mak!" Ali melambaikan tangannya ke arah Sigit yang sedang berpura-pura memegang kamera.
Naufan juga sudah berdiri di samping Ali. Matanya kini terfokus pada Sigit. Ah, lebih tepatnya ke tangan Sigit yang berbentuk kamera itu. "Wow, orang ganteng kek Dilan akhirnya masuk tipi!" Naufan membuat pose genitnya.
"Cut cut cut!" Tegar menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sigit yang paham segera menurunkan kamera dari tangannya dengan hati-hati. Padahal hanya sebatas kamera virtual.
"Kita breafing dulu," ujar Tegar serius. Putri dan Meli yang sedang memakan permen tergelak ketika mendengar perkataan Tegar yang sok tahu. Untung permen itu tidak meluncur bebas ke kerongkongannya.
Sigit, Ali, dan Naufan mengangguk setuju. Kini Tegar sedang mengarahkan sesuatu kepada mereka. Naufan, dan Ali sudah dia tempatkan di sampingnya. Sedangkan Sigit sudah dia tempatkan tepat di depan mereka dengan tangan yang kembali memegang kamera virtual nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lumpiah [TERBIT]
Fiksi Remaja[Sudah terbit] Masa SMP itu masa yang nggak bisa dilupain gitu aja. Awal-awal kenal orang baru, karakter baru, kehidupan baru, kisah cinta monyet, dan pembelajaran yang lebih sulit dari sebelumnya. Masa SMP juga adalah masa dimana kita masih labil d...
![Lumpiah [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/262414397-64-k135927.jpg)