Bab 15
Abyasa , Indri , Suster Marini , dan Minah (Sekitar tengah tahun 1983. Jam 20:00. Ruang tamu . Ruang dapur rumah. Ruangan dekat lorong luar rumah)
Kejadian ini berlangsung beberapa hari setelah kejadian di bab sebelumnya.
Adiguna tiba-tiba jatuh sakit.
Ia muntah dan berak terus-menerus.
Maka , malam itu , Yohan dan Ayudisa membawanya ke klinik dokter spesialis anak yang jauh letaknya dari rumah ini.
Istari yang juga agak demam badannya , ikut diajak oleh mereka ke klinik dokter itu.
Suster Marini diminta oleh mereka untuk menjaga Abyasa dan Indri di rumah ini.
Harini sedang beristirahat di dalam kamar tidurnya.
Dua orang pembantu rumah lainnya sedang ijin pulang ke desa mereka untuk beberapa hari.
Sehingga ; hanya tersisa Abyasa , Indri , Suster Marini , dan Minah (Pembantu rumah) yang masih terjaga di rumah ini.
Abyasa dan Indri sedang bermain di ruang tamu bersama Suster Marini.
Di tengah asyik-asyiknya mereka semua bermain , terdengar ada suara ketukan-ketukan dari luar pintu rumah bagian depan.
Suster Marini merasa heran.
"Bukannya tuannya dan kedua anak mereka baru berangkat setengah jam yang lalu ya? Kok sekarang sudah pulang?" , tanyanya di dalam hati.
Bunyi ketukan-ketukan itu bertambah keras.
Suster Marini menjerit memanggil Minah , "Nah , Nah , bukakno pintu'e. Iku lho , Yok Yohan ambek Yok Lik wes moleh" (Nah, Nah , bukakan pintunya. Itu lho , Tuan Yohan dan Nyonya Kecil sudah pulang).
Minah yang bertubuh kecil , tergopoh-gopoh berlari dari ruang dapur menuju ke pintu rumah bagian depan.
Ia membuka pintu itu dan melihat ada sosok perempuan yang sedang berbaring tertelungkup di luar pintu.
Sosok perempuan itu terlihat seperti "yoklik"-nya.
Minah langsung memegang punggung sosok perempuan itu.
Tiba-tiba , sosok perempuan itu membalikkan badannya dan tertawa terbahak-bahak melihat Minah.
Minah melihat wajah pucat sosok perempuan itu yang bola matanya berwarna sangat hitam , senyumnya terlihat sangat lebar , dan gigi-giginya berwarna kuning kehitam-hitaman.
Ia menjerit ketakutan dan segera membanting pintu itu sampai tertutup.
Tiba-tiba , lampu di bagian ruang tamu padam.
Minah berlari menuju ke arah Suster Marini dan anak-anak yang sedang terduduk di ruang tamu.
Terdengar suara ketukan-ketukan lagi di pintu rumah bagian depan.
Kali ini suara ketukan itu dibarengi dengan suara jeritan perempuan yang melengking dan mengerikan.
Mereka semua langsung berlari menuju ke ruangan dapur yang lampunya ternyata masih menyala.
Di dalam ruang dapur , Minah menceritakan apa yang Ia lihat di luar pinru rumah bagian depan.
Suster Marini dan anak-anak merasa sangat ketakutan.
Indri mulai menangis ketakutan.
Badan Abyasa gemetar ketakutan.
Suara jeritan sosok perempuan itu tiba-tiba terdengar lagi dari arah ruang tamu.
Ada suara-suara langkah-langkah kaki juga yang berasal dari arah ruang tamu.
Suara langkah kaki itu terdengar mendekat ke arah ruang dapur.
Minah langsung menutup pintu ruang dapur dan menguncinya.
Mereka semua duduk di atas lantai ruang dapur dengan perasaan takut.
Selama 1 jam lebih di sana, tidak terjadi apa-apa lagi.
Hanya terdengar suara-suara jeritan dan tawa sosok perempuan itu dari arah ruang tamu dan lorong dalam rumah ini.
Suara – suara menakutkan itu baru berhenti terdengar setelah Yohan , istrinya , dan kedua anaknya sudah pulang ke rumah ini.
Lampu di ruang tamu tetap padam sampai keesokan paginya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumah 9 Hujan
HorrorKisah-kisah nyata yang menyeramkan , mengenai Rumah 9 Hujan , yang disusun berdasarkan kesaksian-kesaksian dan cerita-cerita dari para penghuni rumah yang mengerikan tersebut.
