"Wanita berkelas tahu bahwa menjadi PELAKOR bukanlah levelnya. Karena pelakor adalah kasta murahan!"
Hari-hari telah berganti minggu, minggu berganti menjadi bulan. Kini tepat sebulan lebih empat hari Sadam tidak bisa menemani Nabila dirumah sakit.
Sadam terus menghitung setiap harinya yang ia lalui tanpa bisa memandang istrinya dari dekat.
Apakah kedua mertuanya memang benar-benar takan pernah memaafkannya?-bathin Sadam terus berspekulasi kemungkinan-kemungkinan terburuk.
Sadam hanya mampu melihat Nabilanya dari jendela kamar rawat VVIP itu. Sadam yang menyuruh suster untuk membuka horden kamar istrinya setiap ia akan berkunjung. Mereka yang paham apa yang sedang dialami Sadam tanpa bertanya langsung menurutinya.
Diruangan lain tampak istri kedua Sadam sedang berhadapan dengan seorang dokter laki-laki bernama dokter Nathan.
Mereka tidak sengaja berpapasan di lorong lift rumah sakit itu.
Indira tadinya ingin menuju keruangan dokter kandungan, yang mana dokter tersebut telah menjadi dokter dirinya atas perintah bunda Tania. Sesuai perkiraan dokter pilihan bunda Tania yang mengucapkan bahwa tidak lama lagi akan hadir kehidupan lain di perutnya karena saat malam itu adalah waktu subur nya.
Tadi pagi Indira sudah menggunakan alat kehamilan yang juga telah bunda Tania siapkan banyak untuknya. Setelah melihat garis dua di tes pack itu, Indira merasa sangat bahagia. Darah daging dari laki-laki yang sangat ia cintai selain almarhum Ayahnya telah hadir. Tanpa pikir panjang Indira langsung bersiap menuju rumah sakit tempat bertugas nya dokter Ana.
Indira tidak ingin memberitahu bunda Tania terlebih dahulu, karena dirinya ingin mas Sadam adalah orang pertama yang ia beritahu.
Sedangkan Nathan tadinya ingin mengecek keadaan pasiennya yang bernama Nabila yang sudah lebih dari dua tahun ini ia tangani bersama rekannya dokter Ayumi.
Untuk menjaga privasi, dokter Nathan lebih memilih mengajak salah satu temannya di SMA ini berbicara diruangannya. Tadinya Indira mengajak ingin mentraktir kopi dirinya sebagai salam pertemuan antara teman lama.
"Pasien lu gapapa nunggu?" tanya Indira basa-basi.
"Nope. Ayumi udah gue suruh gantiin."
Walaupun tidak tahu siapa Ayumi, Indira tetap mengangguk. Mungkin teman sesama dokter nya atau suster rumah sakit ini.
"Gue jadi geer nih lu lebih mentingin gue dari pasien lu," canda Indira kembali membuka obrolan.
Memutar bola matanya Nathan mendengar kepedean Indira.
"Dia pasien koma, keadaanya masih sama aja dari beberapa tahun lalu." entah kenapa Nathan mengatakan itu kepada teman lama didepannya ini.
"Owh oke,"
"Bye the way, gue baru tahu lu jadi dokter disini. Maksudnya grup angkatan kita emang suka ngebahas karir-karir alumni kita tapi, gue juga jarang baca sih ampe ribuan chat trus gue arsipin," tawa Indira.
"Ah i see, ibu WO."
"Wih lu baca-bacain chat-chat di grup?"
"Ngga sengaja kebuka, langsung gue back tapi liat nama lu sekilas."
"Iya sih bakalan aneh kalo dokter sibuk kaya lu mau buka-bukain grup angkatan yang rame nya udah ngalahin malamnya kota Jakarta." canda Indira.
"Beberapa menit lagi gue mau ke dokter Ana nih, kenal ngga?"
"Dokter kandungan? Kebetulan dia salah satu senior disini. Suaminya dokter juga kakak tinggkat gue di fakultas."
"Nah iya ngga apa kan kita cuma ngobrol sebentar."
KAMU SEDANG MEMBACA
Perjanjian Dua Surga (END)
SpiritualCERITA INI SUDAH TERBIT DALAM BENTUK CETAK. KAMU BISA TEMUKAN PERJANJIAN DUA SURGA DI GRAMEDIA ATAU TOKO BUKU ONLINE, YAH ... ROMANCE- SPIRITUAL CERITA SEBUAH PERNIKAHAN YANG MEMILIKI DUA WANITA DI DALAMNYA JADIKAN AL-QUR'AN SEBAIK-BAIK BACAAN♥ Keaa...
