BAB 22 : MENANGISI MIMPI

64.7K 7.6K 2.4K
                                        

SENENG GAK AKU UPDATE?? SENENG DEH BANYAK YG KANGEN PDS💛

AKU KASIH LUV BANYAK-BANYAK BUAT READERS OBI YANG SUPER SABARRRRR BANGET💛

ONGKOS DULU DENGAN KLIK TANDA ⭐

SPAM KOMEN SETIAP PARAGRAF KALO BISA 😍

HATI DAN FIKIRAN MASIH AMAN?

OBI SARANIN BUAT BACA DARI AWAL CERITA BIAR GA BINGUNG DARIPADA LONGKAP2

MASIH MAU DILANJUT??? OBI MAH UDAH WARNING NIH YAK! KALO KALIAN NEKAT YOWES😂

KALO NYERAH BILANG 🤐

Happy Reading 💛

♥♥♥

"Aku hanyalah wanita akhir zaman, yang belajar setabah Aisyah Binti Abu Bakar"


Sadam membuka kamar baru mereka di lantai tiga dengan masih menggendong Nabila.

Kini tubuh istri pertamanya sudah tidak bergetar hebat seperti tadi.

Membaringkan Nabilanya perlahan diatas ranjang King size tempat tidur mereka, lalu Sadam duduk dipinggir ranjang menghadap Nabila.

"Maafkan mas, Bila. Mas tidak akan memaksa lagi untuk kamu bisa segera menerima Shakeel." Sadam berucap sambil memandang istrinya yang tetap diam.

"Mas gagal menjadi suami yang baik untuk kamu dan menjadi menantu yang berbakti pada mama Nina dan papa Salman." sesal Sadam bertambah sendu.

"Mas juga yang sudah merusak kepercayaan adik-adik mas, padahal Rizky dan Ridho sudah begitu mengidolakan mas yang justru mengecewakan mereka." tambah Sadam mengingat kerenggangan yang terjadi antara ia dan kedua adik iparnya.

"Kedua adik mas itu pasti sekarang malu memiliki kakak ipar sebajingan mas," raut penyesalan begitu jelas terlihat di wajah tampan Sadam yang nampak lelah.

"Mungkin mereka hanya kecewa,-" akhirnya Nabila menjawab. "Sama seperti yang kini aku rasakan pada mas!" lanjut Nabila dengan menatap wajah suaminya berkaca-kaca.

"Maaf,-" hanya itu yang selalu bisa Sadam ucapkan. Sungguh rasanya semua kalimat hilang begitu saja selain kata maaf.

Dengan satu kedipan, air mata Nabila kembali terjatuh. "Bila akan selalu memaafkan, mas."

"Bagaimana mungkin Bila tidak memaafkan mas jika Surganya Bila bahkan ada bersama mas, imam dalam hidup Bila." Nabila tersenyum miris.

"Maaf jika sudah membuat mas harus menunggu Bila sadar dari koma sampai bertahun-tahun," kembali air mata itu lolos dan jatuh ditelapak tangan Sadam yang sedang memegang erat tangan Nabila.

"Bukan salah kamu, sayang. Maaf atas semua rasa sakit ini." wajah Sadam sudah memerah menahan tangis melihat kerapuhan dan kesakitan dari wanita yang begitu ia cintai.

"Mungkin kesakitan ini adalah hukuman untuk Bila yah mas? Bila lagi di hukum kan mas karena ngga ngurusin suami Bila sampai bertahun-tahun?" Nabila meremas dadanya kuat-kuat.

Ini luar biasa sakit ya Allah

"Tapi kenapa hukumannya harus berbagi suami mas?"

Perjanjian Dua Surga (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang