"Di dunia ini apapun bisa berubah, bahkan perasaan sekalipun. Tidak ada yang kekal abadi kecuali Allah"
Indira masuk begitu saja ke dalam kamar suaminya di lantai tiga sambil menggandeng Shakeel.
Bertepatan dengan pintu kamar mandi yang terbuka memunculkan kedua sosok pemilik kamar itu.
Sadam dan Nabila yang baru keluar dalam keadaan rambut basah.
Ketiganya mematung ditempat kecuali satu anak kecil yang langsung berlari cepat memeluk kedua kaki bunda keduanya.
"Undaa Biyaa puyang yey!!!" girang Shakeel sambil melompat-lompat kecil.
Nabila menunduk lalu menggendong anak tirinya itu dan mendudukkannya di ranjang dengan senyuman tulus terpancar dari mata teduhnya.
"MasyaAllah, Abangnya kembar sudah besar dikit yah padahal baru Bunda Bila tinggal sebentar."
Shakeel menggeleng kepalanya tidak setuju.
"Ama Undaa!!! Takil dah mo tiup ilin becok yoh." protes bocah laki-laki tampan itu dengan bibir mengerucut lucu.
"Eumm, udah besar abang dong."
Kini mata hitam biji leci bocah tampan itu berbinar.
"Kan Takil dah adi Abang. Halus besal dan tindi." bangga bocah itu.
Nabila gemas sekali mendengar jawaban dari putra tirinya itu.
"Shakeel keluar! Bunda Mami mau bicara sama Ayah dan Bunda Bila." perintah Indira tegas.
Sadam dan Nabila menatap Indira tidak setuju.
"Ndak mau! Takil masi tanen ama Unda Biyaa!" tolak Shakeel cemberut.
"Keluar atau Bunda ngga akan rayain ulang tahun kamu!" ancam Indira yang berhasil membuat Shakeel mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
Sekeluarnya Shakeel dari kamar itu, Indira langsung menatap sakit kedua pasangan suami istri didepannya.
Indira tahu apa yang telah terjadi di kamar ini sebelum dirinya datang.
"Kamu... Kapan kembali, Nabila?" tanya Indira akhirnya.
"Apa kalian habis program membuat adik untuk si kembar padahal mereka bahkan baru berusia beberapa bulan?"
"Seingatku, ini memang rumahku Indira. Maaf jika tidak memberitahumu." jawab Nabila tersenyum.
"Lagipula aku bebas kapan saja kembali ke rumah ini, bukan? Dan kembar InsyaAllah tidak akan memiliki adik, kamu tenang saja." sambung Nabila lagi.
"Aku tahu rumah ini milikmu, Nabila. Maksudku seharusnya kamu mengabariku agar aku bisa stay dirumah dan mempersiapkan makanan untuk menyambut kamu." kaku Indira.
"Maaf jika ada kata-kataku yang menyakitimu."
"Terimakasih. Aku tahu maksud kamu baik, Indira."
"Se-ha-harusnya tadi kalian bisa menitipkan kembar padaku. Takutnya mereka menangis saat kedua orang tuanya sedang sibuk dengan hal lain." tawar Indira dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
"Kamu sudah sibuk dengan mengurus Shakeel, anak kita yang lain Indira. Biarkan Kabir dan Khaira disini. Jangan sampai Shakeel kurang perhatian dari kita nanti takut dia iri dengan adik-adiknya" ucap Sadam.
"Iya, Mas. Kalau begitu aku mau siapkan makan siang untuk kita karena Simbok masih di rumah sakit menjaga Bunda."
"Boleh aku ikut membantu Indira?" tawar Nabila tulus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perjanjian Dua Surga (END)
SpiritualCERITA INI SUDAH TERBIT DALAM BENTUK CETAK. KAMU BISA TEMUKAN PERJANJIAN DUA SURGA DI GRAMEDIA ATAU TOKO BUKU ONLINE, YAH ... ROMANCE- SPIRITUAL CERITA SEBUAH PERNIKAHAN YANG MEMILIKI DUA WANITA DI DALAMNYA JADIKAN AL-QUR'AN SEBAIK-BAIK BACAAN♥ Keaa...
