BAB 27 : AKU MELEPASMU

87.2K 9.2K 6.3K
                                        

ALHAMDULILLAH BISA UPDATE LAGI 😽

FOLLOW, VOTE, COMENT AND SHARE SEANTUSIAS MUNGKIN HOHO 😽

CERITA INI DILINDUNGI OLEH ALLAH DAN PARA MALAIKATNYA 💚

♥♥♥

"Yakinlah bahwa jika dua insan yang saling mencintai karena Allah, akan ada banyak alasan untuk bersama"

Langit mendung pagi itu. Hujan turun begitu awetnya sejak semalam. Angin berhembus begitu sejuk memasuki celah-celah udara yang ada.

Meskipun begitu tetap ada aktivitas terjadi di dalam rumah mewah bergaya mediterania itu.

Seperti Simbok dan mama Nina yang sibuk di dapur sejak pukul enam lewat sudah mulai menyiapkan beberapa bahan masakan.

Tadinya Simbok menolak untuk di bantu oleh ibu dari den ayu nya itu tapi, Mama Nina tetep kekeh karena katanya ingin memasak khusus untuk putrinya yang memang masih dalam proses penyembuhan pasca koma.

"Durung mateng opo Mbok, bakwane?" tanya Mang Imad yang tiba-tiba saja ke dapur.

"Sampean takon bae!" kesal Simbok. Pasalnya sudah enam kali Mang Imad bolak-balik masuk menanyakan hal yang sama.

"Pisang goreng coklate durung juga?" Mang Imad masih kembali bertanya tentang gorengan sambil duduk di pantry dan meminum kopi luwaknya.

"Itu bakwan sama pisang goreng nya udah di goreng sebagian kok, Mang. Makan aja ngga papa." beritahu Mama Nina tersenyum kasian melihat Mang Imad yang seperti sudah sangat ingin sarapan gorengan.

"Alah bu, keburu abis kalo si Imad yang makan duluan mah," Simbok berujar.

"Tinggal goreng maning, Mbok. Medit temen," julid Mang Imad. "Suwun yah bu Nina, Monggo sarapan."Mang Imad berterima kasih sekaligus menawari Mama Nina sarapan.

"Silahkan, Mang." Mama Nina tersenyum.

"Eleh bisa-bisane sampean bae, Mad-mad." gantian Simbok mengejek.

Mama Nina hanya geleng-geleng melihat kedua orang itu, kemudian kembali berkutat dengan sup cream kepiting yang sedang dibuatnya untuk sang putri tersayang.

"Mbok kok sarapannya ini cuma ada gorengan? Mbok ngga bikin menu yang lain?" tanya Indira saat melihat di atas meja pantry hanya tersedia gorengan bakwan sayur dan pisang goreng dengan taburan coklat parut di atasnya.

"Tesih mending ana sarapan, Mbak Dira!" Mang Imad menjawab.

Indira mengabaikan. Sudah malas jika harus berdebat dengan sopir keluarga suaminya yang seperti tidak pernah suka akan kehadirannya.

"Maaf Mbak Dira, pagi ini menu sarapannya memang saya hanya buat gorengan dan teh manis hangat." Simbok menjawab sedikit tidak enak.

"Saya tidak terbiasa makan yang berkolestrol tinggi, Mbok. Maaf bisa buatkan saya sarapan yang lain? Karena saya juga harus urus Shakeel." pinta Indira.

"Heh grandong! Kamu ngga liat Simbok sibuk? Diatas meja makan ada roti tawar tinggal oles, makan. Ribet banget jadi manusia!" sewot Mama Nina.

"Coba dulu aja Mbak Dira. Gorengan tuh enak. Kesukaan warga Indonesia." tawar Simbok.

"Gorengan langka tandingane Mbak Dira,  jajal disit aja kemayu lah dadi wadon," Mang Imad menimpali masih dengan mulut julidnya yang menggigit cabe rawit lalu disusul gigitan besar bakwan sayur ditangan kanannya.

"Huum Mbak Dira. Ngga setiap hari kok sarapan gorengannya. Bakwan itu kesukaane den ayu, kalo pisang goreng coklat kesukaane Nyonya Tania sama den bagus." beritahu Simbok.

Perjanjian Dua Surga (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang