BAB 9 : KEBOHONGAN PERTAMA

77.8K 8.2K 638
                                        

"Cinta ku terbagi untuk Allah Subhanahu wa ta'ala, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam   Islam, Al-Qur'an, Bunda dan Kamu"


Sudah seminggu sejak kepulangan Indira dan bayi laki-lakinya yang Sadam berinama Shakiel Albiru Adnan, rumah mewah bergaya mediterania itu tampak selalu ramai dengan suara tangisan bayi.

Bahkan beberapa hari ini banyak teman sosialita Bunda Tania yang turut hadir menengok cucu pertama keluarga Adnan itu.

Berbagai macam hadiah mewah dengan brand terkenal pun di berikan para ibu-ibu itu untuk bayi yang baru berumur sebelas hari itu.

Tapi tidak dengan rekan Sadam karena mereka tidak ada yang tahu jika Sadam sudah menikah untuk kedua kalinya dan sudah memiliki anak yang baru lahir dari istri keduanya, bahkan saat sang istri pertama sedang terbaring di rumah sakit.

Semua rekan Sadam hanya tahu bahwa dirinya adalah suami dari seorang gadis sholehah bernama Nabila Queen Nissa yang kini sedang terbaring koma di rumah sakit.

"Simbok padahal seneng akhirnya rumah ini ada penghuni baru. Bayi yang sudah di nanti-nanti sama nyonya besar dan den bagus, tapi si Mbok juga sedih dan sebel banget sama mereka, kok tega-teganya ngelakuin itu semua di saat den ayu masih koma." curhat Simbok di dapur bersama Mang Imad sopir pribadi den ayu, begitu sebutan mereka untuk memanggil Nabila.

"Nyong, be ra tega. Jen ngeseli pol emang wong kae pada."

"Semoga den ayu cepet sadar dari koma dan tabah nerima ujian Allah yang bertubi-tubi yah, Mang."

"Aamiin, Mbok. Ujian orang baik emang berat-berat. Makane Nyong milih biasa-biasa aja."

"Eleh. Itumah sampean aja yang emang bukan hamba Allah yang baik. Banyak maksiat toh sampean?" tuduh si mbok sambil memukul Mang Imad yang sedang meminum kopi dan gorengan bakwan buatannya.

"Fitnah aja Simbok. Untung aja Simbok sudah tua. Nek ora uwis lah,"

"Nek ora ngapa? Njajal di terusna!" tantang Si Mbok.

"Nek ora yauwis rapapa," garing Mang Imad sambil menyeruput kopi white coffe nya.

Tiba-tiba saja terdengar suara Bunda Tania memanggil Mang Imad hingga dirinya tersedak kopi sampai hidung.

Innalillahi idunge nyong perih pol. Batin Mang Imad nelangsa.

"Sebentar, Nyonya." jawab Mang Imad dari dapur.

"Mbok, simpenin dulu kopi sama gorengannya, nanti saya makan lagi." pinta Mang Imad.

"Enjeh, wis aja kesuen nanti nyonya besar marah!" titah Si Mbok.

Saat sampai di hadapan Bunda Tania, Mang Imad langsung menunduk menunggu perintah.

"Mulai sekarang kamu ganti jadi supir pribadi Indira. Sekarang antar dia ke supermarket, karena Sadam akan pergi mengunjungi Nabila di rumah sakit." titah mutlak Bunda Tania.

"Aduh nyonya besar saya sudah cocok jadi supirnya den ayu, bukan Mbak Indira," malas sekali Mang Imad harus menjadi supir si mbak-mbak di depannya ini, yah walaupun mbak-mbak didepannya ini juga istri den bagus.

"Makan gaji buta kamu kalau nunggu Nabila bangun. Lagian dia masih koma, mending sekarang kamu nurut sama saya," tegas bunda Tania.

"Yoweslah nyonya, tapi emoh lah saya kalau beneran jadi supir pribadinya mbak ini," tolak mang Imad sambil menunjuk sopan Indira dengan ibu jarinya.

"Yasudah-yasudah. Kebanyakan protes kamu tuh, Imad." kesal bunda Tania. Sungguh hanya mang Imad yang berani membantahnya dari dulu, untung saja mereka sudah seperti keluarga sendiri.

Perjanjian Dua Surga (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang