BAB 23 : PENEMU HANDPHONE SADAM

63.3K 7.3K 2.4K
                                        


VOTE, KOMEN AND SHARE JANGAN LUPA 😾

HAPPY READING 💛

♥♥♥

"Ingatlah Filosofi Sepatu: Kalau dia menyakitimu berarti dia bukan ukuranmu"

"Awas yah dokter Ana! Jika sampai terjadi sesuatu lagi dengan cucu saya, izin praktek dokter di seluruh rumah sakit yang ada di Indonesia akan saya pastikan dicabut!" ancam bunda Tania dengan marahnya pada dokter Ana yang sudah menunduk takut.

"Bun, udahlah ngga usah diperbesar. Ini bukan sepenuhnya kesalahan dokter Ana." Sadam menimpali karena bundanya benar-benar memarahi seorang dokter habis-habisan.

"BUKAN KESALAHAN DIA KAMU BILANG? KAMU MIKIR GA SIH SADAM, DIA ITU SHAKEEL ANAK KAMU!  DARAH DAGING KAMU! KALAU SAMPAI ADA APA-APA GIMANA? HAH?"

"Bunda, udah yah jangan marahin Mas Sadam juga!" mohon Indira kepada mertuanya.

"Kamu juga Indira, lain kali lebih kritis lagi kalau menyakut anak! Smart Mom dong gimana sih! Pelajari juga ilmu parentingnya! Sekolah pada tinggi-tinggi kok ngurus anak pada ngga becus!" sewot bunda Tania lalu kembali menyorot tajam dokter Ana.

"Camkan baik-baik ancaman saya dokter Ana! Untung saja cucu saya masih bisa tertolong. Lain kali kalau merekomendasikan susu formula untuk cucu saya kenali lebih dulu! dia ada alergi atau ngga dengan susu sapi!" Bunda Tania berucap lagi.

"Baik, Bu Tania. Maafkan keteledoran saya." lalu dokter Ana menghadap suster yang menjadi asistennya. "Sus, berkas atas nama Shakeel Albiru Adnan.

Setelah suster itu menyerahkan berkas dengan map berwarna kuning, ia membukanya dan mengarahkan pada bunda Tania juga Indira yang duduk dihadapan meja kerjanya.

"Ini berkas kesehatan bayi Shakeel. Disini cucu Ibu Tania hanya memiliki satu alergi yaitu terhadap susu sapi. Selebihnya aman." beritahu dokter Ana.

"Lalu jika ASI saya masih tidak keluar, apa ada susu formula lain yang dapat anak saya konsumsi, dok?" cemas Indira bertanya pada dokter Ana.

"Kalau itu saya merekomendasikan susu formula Soya untuk bayi Shakeel. Saya sudah memberitahu suster pengasuh anak ibu juga agar dia nanti yang menebusnya di apotek rumah sakit."

"Baik dok kalau begitu, terima kasih banyak atas bantuannya. Kami permisi kembali keruangan anak saya," pamit Indira diikuti Sadam yang juga melempar senyum tanda ikut pamit pada sang dokter.

Sedangkan Bunda Tania langsung keluar begitu saja, enggan mengucapkan apapun lagi.

♥♥♥

"Bun, kayanya Sadam mau check up ke dokter Abbas sekalian mumpung disini. Siapa tahu perban dikepala sama tangan Sadam udah bisa dibuka,"

"Beneran udah gapapa? Kalau masih sakit biarin diperban aja biar ngga infeksi, sayang." cemas Bunda Tania sambil memegang ujung dahi sang putra yang masih dililit perban.

"InsyaAllah gapapa, Bunnda. Kan yang ngurus Nabilanya Sadam,"

"Kamu nih kan Nabila bukan dokter!"

"Tapi istri tercinta Sadam sembuhinnya pake cinta dan kasih sayang yang tulus, udah pasti Sadam langsung sembuh," puji Sadam tulus sambil mengingat wajah cantik dengan mata teduh istri pertamanya.

"Kamu tuh yah, kalau ceritain Nabila dari zaman kuliah udah kaya ceritain bidadari yang ngga ada kekurangannya sama sekali, paham banget bunda tuh sama anak bunda satu-satunya ini," gemas bunda Tania pada putra tunggalnya.

Perjanjian Dua Surga (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang