Palembang, 2010.
Prisha baru saja diantar oleh ojek langganannya ke rumah setelah pulang dari sekolah. Biasanya, saat berangkat sekolah, Prisha diantar oleh Manaf—sang ayah dan saat pulang sekolah, dijemput oleh ojek langganan kepercayaan keluarganya.
Selain karena siang hari Manaf bekerja, Edrea—Bunda Prisha tidak bisa mengemudikan satu macam kendaraan pun.
Gadis yang mengenakan seragam putih merah itu berjalan memasuki pekarangan rumah yang dipenuhi oleh rumput, serta semen dengan bebatuan yang menuju ke carport.
Pukul dua belas siang seperti ini, biasanya hanya ada Edrea di rumah bertingkat dua itu. Pasti sedang memasak sambil menunggu sang putri pulang.
Namun, ternyata tebakan Prisha salah. Ketika ia ingin membuka pintu utama rumah, pintu lebih dulu dibuka dari dalam oleh Edrea.
"Loh? Bunda enggak masak?" tanya Prisha bingung.
"Kehabisan garam, Sha. Bunda ke warung dulu, kamu jaga rumah, ya."
"Eh, eh," cegat Prisha ketika Edrea hendak melangkah. "Sha aja yang ke warung, Bun."
Menyipitkan kedua matanya, Edrea memandang anak semata wayangnya itu dengan pandangan curiga. "Tumben," ujarnya kemudian. "Biasanya malas karena kata kamu di warung banyak kakak-kakak SMA nongkrong."
Lantas, Prisha nyengir kuda. "Gampang, Bun. Sha bisa seret paksa Kak Galih buat temenin ke warung."
"Kamu nih, suka banget rusuhin Galih." Edrea menggelengkan kepalanya karena tidak habis pikir dengan kelakuan sang anak.
"Lagian Kak Galih hayu aja sih, Bun."
"Ya, udah, Sha panggil Kak Galih dulu, ya!" lanjutnya sambil berlalu.
Melihat sang putri menaiki tangga rumahnya, Edrea bingung. "Katanya mau ke warung, kenapa malah ke atas, Sha?"
"Panggil Kak Galih dulu, Bun, lewat balkon!" balas Prisha berteriak agar suaranya didengar oleh Edrea.
Prisha memasuki kamarnya yang ada di lantai dua, lalu segera menuju balkon.
Jangan heran kenapa ia berkata ingin memanggil Galih lewat balkon, hal itu dikarenakan kamarnya dengan lelaki itu yang berhadapan.
Dulu, sebelum Galih pindah, tidak sih. Kamar Prisha awalnya berada di lantai satu yang tersambung dengan kamar orang tuanya, namun ketika tahu kamar Galih berhadapan dengan salah satu ruangan di lantai dua rumahnya, gadis itu langsung request pada ayah untuk pindah kamar.
Sebelumnya, kamar yang Prisha tempati itu adalah perpustakaan kecil. Perpustakaan yang sengaja dibuat untuk Prisha karena anak semata wayang pasangan Manaf dan Edrea itu sangat menyukai komik bergambar.
Jadilah dia difasilitasi komik bergambar dan disimpan di ruangan itu. Namun, kini, perpustakaan itu sudah dipindahkan ke lantai satu, bertukar posisi dengan kamar Prisha.
Prisha menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk meneriaki Galih lewat balkon.
Kemudian, ia menghela napas tersebut dan ... "KAK GALIHHHHHHHHH! KELUAR DONG!"
Sekali teriakan, wajah kesal Galih langsung tampak di balkon seberang.
Prisha nyengir melihatnya. Lesung pipinya pun mulai tampak.
"Kenapa?" tanya Galih yang tidak menutupi kekesalannya. Harusnya dia sedang asik bermain dengan adik bayinya, tapi Prisha malah mengganggu dengan cara teriak-teriak tidak jelas.
"Kak Galih temenin Sha ke warung, ya!"
"Enggak."
"Ayo dong, Kak Galih. Boncengin Sha pakai sepeda lagi. Ya, ya, ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
First Love (Tamat)
ChickLitCinta pertama memang akan selalu membekas. Entah kenangan baik atau buruknya. -Galih Lesmana 📌 Cerita Pilihan Editor Wattpad HQ Bulan Oktober 2024 #1 in Acak 12-02-2023 #1 in Bocil 15-02-2023 #1 in Cintapertama 03-02-2022 #1 in Complete 20-08-2022 ...
