"Asli, Sha, kalau bukan karena Kak Galih temenan sama Dilan, mana bisa kita nyalin tugas dia begini," ujar Kaila dengan tangan yang bergerak lincah di atas kertas putih.
Mendengar penuturan Kaila, Prisha mengangguk cepat. "Nanti Sha traktir Dilan beli es balon, deh."
Seketika pergerakan tangan Kaila terhenti. Kepalanya mendongak menatap Prisha yang dibalas dengan tatapan polos oleh gadis itu.
"Kenapa, La?" tanya Prisha.
Kaila berdecak, sambil menggeleng-gelengkan kepala dramatis. "Mana sebanding jawaban Dilan sama es balon! Dia mikirnya susah payah, cuma lo kasih es balon aja."
"Mending dikasih es balon, daripada kamu minta secara gratis."
Kaila kicep.
Karena tidak bisa menjawab apa-apa, gadis itu kembali menggerakkan tangannya. Matanya fokus menerjemahkan tulisan ceker ayam Dilan. Semua usaha menyontek dikerahkannya.
Namun, Prisha terima beres. Saat Kaila susah payah membaca tulisan Dilan, ia malah dengan santainya menyalin dari tulisan Kaila yang sudah rapih.
"Sha laper tau, La."
"Duh, nyalin tugas dulu deh lebih penting," balas Kaila tanpa menoleh.
Bibir Prisha pun mengerucut. "Nanti kalau Sha pingsan gimana, dong?"
Baru saja Kaila ingin menyahuti omongan lebay dari temannya, sebuah suara menginterupsi, "Sha, kamu belum makan? Mau makan apa?"
Keduanya mendongak. Mereka kemudian mendapati Galih dan Dilan yang sudah mengambil duduk di hadapan mereka. Dilan memang satu-satunya teman sekelas yang paling akrab dengan Galih, selain Prisha sendiri.
Dilan itu berotak encer. Dia tipikal orang yang sebetulnya kurang ikhlas memberikan jawabannya secara cuma-cuma, tapi mungkin karena agak segan dengan Galih, ia akhirnya memberikan saja.
Walaupun begitu, Dilan bukan tipikal orang yang pelit berbagi ilmu. Tidak jarang Galih bolos kuliah karena jadwalnya bentrok dengan shooting, tapi saat masuk kelas lagi, lelaki itu akan meminta diajarkan materi yang tertinggal dengan Dilan.
Karena itulah Galih dan Dilan jadi akrab.
"Sha mau makan apa aja, Kak Galih. Laper banget." Akhirnya, Prisha menjawab.
"Oke." Galih beralih menatap Dilan. "Yuk, Lan, kita pesan makan dulu aja."
Dilan mengangguk, hendak berbalik mengikuti Galih yang sudah menuju tempat penjual makanan karena memang mereka sudah berada di kantin, namun suara Kaila menghentikannya. "Gue nggak ditawarin apa?!" tanya Kaila dengan nada kesal.
"Kak Galih nggak nanya apa-apa ke lo, 'kan?"
Kaila menggeleng.
"Ya, udah, berarti dia nggak nawarin."
Kaila jadi sewot dibuatnya. Gadis itu membanting pena hingga menggelinding jatuh ke bawah meja. "Lo kek inisiatif nawarin gue!" ujarnya kesal. "Udah tau Kak Galih cuma gitu sama Prisha doang."
Beberapa orang di kantin sudah menatap penasaran. Akhirnya, Dilan memilih mengalah. "Lo mau makan apa? Gue pesanin."
"Nggak, makasih."
"Bangke!"
***
Prisha membereskan barangnya di atas meja karena jam terakhir kuliah hari ini sudah selesai. Matanya sesekali melirik Dilan dan Kaila bergantian karena sepertinya mereka masih perang dingin hingga sekarang karena kejadian di kantin tadi.
Orang-orang tahu Dilan itu seperti apa. Lelaki baik yang punya otak cerdas.
Namun, Kaila berhasil memancingnya hingga mengeluarkan umpatan di tengah kantin dan didengar oleh banyak orang, termasuk para kakak tingkat mereka.
Mata Prisha beralih pada Galih di sebelah kanannya. "Dilan ngeri juga, ya, Kak, kalau marah," bisiknya.
Galih terkekeh mendengar perkataan Prisha. "Iya."
Kemudian, Prisha tidak menjawab lagi. Sampai ia teringat sesuatu dan menjentikkan jarinya, membuat Galih, Kaila, dan Dilan yang duduk di depannya menoleh bingung.
Merasa ditatap begitu, Prisha nyengir. Dia berkata pada Dilan, "Lan, Sha traktir beli es balon, yuk!"
"Hah?" Dilan melongo.
"Sebagai bayaran karena tadi udah contekin Sha itu, lhooo," balas gadis itu.
"Nggak usah, gue nggak bisa minum es. Nanti batuk sama pilek."
"Ih!" seru Prisha refleks. "Kayak anak SD aja."
"Sadar, Sha, lo yang kayak anak SD. Masa udah kuliah jajannya es balon? Beli di mana coba?" Kaila ikut dalam obrolan karena sudah tidak habis pikir dengan temannya. Ia pikir, Prisha hanya bercanda perihal es balon.
Mereka berempat jalan ke arah parkiran bersamaan. Saat ini, orang-orang sudah tidak lagi terlalu memerhatikan kedekatan Galih dan Prisha selama di kampus, mungkin karena sudah terbiasa.
Selain itu, Galih juga tidak sesering dulu lagi diperhatikan—meski masih—karena mungkin juga mereka sudah sering melihat lelaki itu di kampus. Jadi, tidak heran lagi. Tidak perlu lagi meminta tanda tangan atau foto bersama karena Galih akan ada di kampus itu selama empat tahun ke depan.
"Hari ini pulang sama siapa, Sha?" Kaila bertanya.
"Prisha pulang sama gue," jawab Galih cepat. Lalu, lelaki itu menatap sang empunya nama. "Sha, kamu ikut aku shooting bentar, ya, jadi bintang tamu di channel youtube doang kok. Nggak bakal lama."
Setelahnya, mata Prisha mengerjap lucu, membuat Galih gemas melihatnya.
"Ikut shooting lagi?"
Galih mengangguk. "Iya. Mau, ya? Daripada kamu di apartment nggak ada kerjaan, mending temenin aku aja deh."
"Ada tau, Kak, tugas kita," sela Kaila.
Kening Prisha mengkerut sebelum bertanya, "Iya, ya, La? Yang mana?"
"Udah, nanti minta ajarin Dilan aja ngerjain tugasnya." Galih berujar.
Dilan yang namanya disebut itu hanya bisa pasrah. Memang sih Galih tidak pernah benar-benar menyontek atau langsung copy-paste tugasnya, namun kedua perempuan yang ada di dekatnya ini pasti tidak akan pernah mau dijelaskan lebih dulu. Mereka lebih memilih cara cepat, yaitu copas.
Alasannya sih ... tidak bisa ditangkap di otak penjelasan dari Dilan.
"Oke deh!" Prisha mengacungkan jempolnya. Dalam hati, tugas aman. Sekali lagi, Galih mengamankan tugasnya hanya karena ingin ditemani shooting. Tidak apa, meski kadang Prisha merasa tidak nyaman dan bosan di lingkungan itu, demi tugasnya akan ia lewati dengan senang hati.
"Asiiiikk!"
"Berarti gue juga dapat contekan," lanjut Kaila.
Hal itu membuat Dilan yang masih dendam karena kejadian kantin tadi mendelik. Lalu, menjawab, "Ogah nyontekin lo!"
***
Akhirnya update lagi setelah sekian lama >.<
By the way, teman-temanku dan para pembacaku, tolong like postingan terakhir di instagram natasyasptnda dong. Itu tugas kuliahku soalnya hehe
Thank you!
KAMU SEDANG MEMBACA
First Love (Tamat)
Chick-LitCinta pertama memang akan selalu membekas. Entah kenangan baik atau buruknya. -Galih Lesmana 📌 Cerita Pilihan Editor Wattpad HQ Bulan Oktober 2024 #1 in Acak 12-02-2023 #1 in Bocil 15-02-2023 #1 in Cintapertama 03-02-2022 #1 in Complete 20-08-2022 ...
