Bibir Prisha mengerucut ketika menatap pada layar ponselnya. "Bun, Sha itu takut tau tinggal sendirian di apartment gini. Izinin Sha ngekost aja dong, soalnya, kan, kalau ngekost banyak orang. Kalau apartment gini serem, tetangganya pada masing-masing semua."
"Ngekost juga pasti kamu nggak mau berbaur, Sha." Edrea menimpali dari seberang telepon. Fokus wanita paruh baya itu kini terbelah dua, antara layar ponselnya yang menampilkan wajah cemberut sang anak atau layar televisi yang sedang memutar sinetron kesukaannya.
"Nanti Sha coba berbaur kok, Bun."
Edrea mengangkat jari telunjuknya, lalu ia goyangkan ke kanan dan kiri. "Tetap nggak boleh. Kamu tau, bahkan tinggal di kost yang ramai itu bisa lebih bahaya buat kamu yang terlalu polos ini. Kita nggak tau sifat orang seperti apa."
Prisha yang awalnya duduk di bibir kasur, segera merebahkan diri dengan ponsel yang ia angkat tinggi-tinggi. "Ya, udah, kalau gitu, bairin Sha tinggal di rumah lama kita aja."
"Apa? Bunda nggak salah dengar?" Edrea tertawa. "Mana mungkin Bunda biarin kamu tinggal di rumah sebesar itu, Sha. Lagipula rumah itu udah lama nggak ditunggu."
"Udah deh, nggak usah banyak protes. Udah bagus kamu di apartment biar gampang dijagain," lanjut Edrea kemudian.
"Jagain?!" Prisha memekik seketika, kini ia sudah duduk kembali di bibir kasurnya. "Ada hantu di apartment ini?!"
"Kadar halusinasi kamu semakin menjadi-jadi ya, Sha." Suara tepukan jidat Edrea kemudian menjadi kelanjutan dari ucapannya.
Prisha berjalan ke arah meja belajarnya yang menghadap langsung ke sebuah jendela besar. Dari sana, ia bisa melihat indahnya malam di Jakarta. Lampu dari gedung-gedung tinggi dan jalanan menjadi penerang malam itu.
"Lagian Bunda bilang jaga-jaga, padahal di sini nggak ada orang lain." Prisha berkata, "Nggak berhasil nih Sha bujuk Bunda biar pindah dari apartment, ya?"
"Nggak."
"Oke deh, kalau gitu Sha tutup telfonnya, ya, Bun, mau ke kafe bawah dulu beli makanan. Lagi mager masak," ujarnya sambil nyengir.
Melihat itu, Edrea menggelengkan kepalanya. "Ya, hati-hati, Sha. Bunda juga mau masak makan malam dulu, sebentar lagi ayah pulang dari rapat."
"Oke, Bun. See you later."
Kemudian, panggilan ditutup.
Setelah mematikan panggilan tersebut, Prisha segera mengambil outer di lemarinya. Dia sudah mengenakan setelan piyama berlengan pendek malam ini, makanya setidaknya harus mengenakan outer juga saat akan keluar.
Udara malam sangat tidak baik untuk tubuh.
Sesaat kemudian Prisha sudah membuka pintu apartment-nya untuk turun ke lobby yang tersambung dengan sebuah kafe. Prisha ingin membeli makan di sana.
Namun, matanya membola ketika mendapati seseorang di depan pintu apartment-nya. Ah, tidak, bukan seseorang, melainkan dua orang lelaki. Satu diantaranya sudah mengangkat sebelah tangan, sepertinya ingin memencet bel, tapi kebetulan sekali Prisha keluar lebih dulu.
"Sha." Salah satunya menegur Prisha dengan senyum yang mengembang, sedangkan orang satunya lagi hanya diam. Ya ... lagipula Prisha tidak kenal dengan orang satunya lagi itu.
Ketika ia sudah berhasil menetralkan keterkejutannya, Prisha bertanya, "Kak Galih kok bisa ada di sini? Tau dari mana apartment Sha?"
"Tadi, pas aku baru sampai di parkiran, Bunda Edrea telfon. Katanya, minta tolong temenin kamu makan di bawah."
KAMU SEDANG MEMBACA
First Love (Tamat)
ChickLitCinta pertama memang akan selalu membekas. Entah kenangan baik atau buruknya. -Galih Lesmana 📌 Cerita Pilihan Editor Wattpad HQ Bulan Oktober 2024 #1 in Acak 12-02-2023 #1 in Bocil 15-02-2023 #1 in Cintapertama 03-02-2022 #1 in Complete 20-08-2022 ...
