Jakarta, 2018.
"Jadi, gimana, Sha? Enak tinggal di sana?"
Prisha mendaratkan bokong di kursi yang ada di belakang pantry apartment-nya. Gadis itu mengambil sendok di dalam laci dan mulai melahap spaghetti yang baru dibuatnya.
Sambil mengunyah, matanya menatap ke arah ponsel yang didirikan dengan menggunakan cangkir sebagai tumpuan.
Di layar ponsel, Prisha bisa melihat Edrea yang sedang memasak makan malam juga. Mereka melakukan panggilan video.
"Nggak buruk, Bun. Walaupun Sha harus adaptasi juga sih," balasnya kemudian. "Tadi, Sha pas masak spaghetti-nya lihat tutorial di youtube, tapi tetap aja nggak seenak itu." Bibirnya mengerucut.
"Ya ... namanya juga belajar, Sha. Besok-besok jadi enak kok kalau kamu coba terus." Edrea berusaha menyemangati dari seberang sana.
"Lagian kalau nggak terpaksa tinggal sendiri gitu kamu nggak akan coba berbagai resep, 'kan?" lanjutnya sambil terkekeh.
Prisha membenarkan. Dia mengangguk kecil.
"OSPEK hari terakhir tadi lancar, Sha?"
"Lancar kok, Bun."
"Besok udah mulai belajar di kelas, ya?"
"Iya, Bunda."
"Semangat, ya, Bunda yakin kamu bisa."
"Makasih, Bunda. Kalau gitu Sha tutup dulu panggilannya, ya, mau beres-beres ini. Sha udah selesai makannya."
Setelah mendapat persetujuan dari Edrea, Prisha mematikan panggilan. Gadis itu lantas membereskan bekas makannya, lanjut mencuci piring di bawah air yang mengalir.
Suasana di apartment yang ia tinggali sungguh hening. Tidak biasanya Prisha merasakan suasana seperti ini. Apalagi apartment yang dibelikan oleh orang tuanya ini terlalu besar untuk Prisha yang hanya tinggal sendirian.
Prisha kesepian. Biasanya, setiap malam seperti ini ia akan mengobrol ngalur-ngidul dengan orang tuanya di meja makan, sambil menikmati makan malam terenak yang dibuat oleh Edrea.
Atau, sesekali mereka akan makan malam di luar. Entah itu Manaf mengajak istri dan anaknya ke mall, kadang juga makan di pinggir jalan saja.
Prisha melangkahkan kaki ke kamar utama apartment tersebut. Di dalam kamar, ia menyetel musik sekencang mungkin agar suasana lebih ramai.
Selagi mendengarkan musik sambil bersenandung pelan, gadis itu mulai menyiapkan buku dan alat tulis untuk keperluan kuliahnya besok.
Prisha menghela napas. Besok, kehidupan perkuliahannya akan dimulai. Semoga, dia bisa menjalani hari-hari dengan baik selama di kota ini.
***
Prisha selalu suka posisi duduk di pojok kelas. Maka dari itu, saat ia memasuki kelas pertamanya di masa kuliah ini, dia langsung mengambil duduk di pojok.
Di samping kiri Prisha sudah ada Kaila—teman barunya yang ia kenal sejak OSPEK kemarin. Dari sekian banyak mahasiswi baru di kampusnya, hanya Kaila yang bisa Prisha jadikan teman.
Entahlah. Prisha hanya merasa kalau dirinya akan cocok berteman dengan gadis itu. Dia bisa melihat kalau Kaila mempunyai sifat yang sama dengan Yudhistira. Jadi, pasti Kaila bisa memaklumi ke-introvert-an Prisha di luar lingkungan rumah.
"Sha, lo udah ngiri KRS, 'kan?" Kaila bertanya.
"Udah. Kaila udah juga, 'kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
First Love (Tamat)
ChickLitCinta pertama memang akan selalu membekas. Entah kenangan baik atau buruknya. -Galih Lesmana 📌 Cerita Pilihan Editor Wattpad HQ Bulan Oktober 2024 #1 in Acak 12-02-2023 #1 in Bocil 15-02-2023 #1 in Cintapertama 03-02-2022 #1 in Complete 20-08-2022 ...
