Palembang, 2017.
Prisha menghirup udara segar di sekitarnya. Gadis itu memejamkan mata.
Danau yang ada di hadapannya kini terlihat sangat tenang. Hal yang membuat udara di sekitarnya jadi menyejukkan di minggu pagi ini.
"Sha, ayo sarapan dulu."
"Sebentar, Bunda," balas Prisha dengan mata yang tetap terpejam.
Edrea hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak semata wayangnya itu. Sedangkan Manaf—sang suami sekaligus Ayah Prisha malah terkekeh pelan.
Manaf pikir, ia tidak salah membawa istri dan anaknya ke Danau Jakabaring yang terletak di kawasan Jakabaring Sport City Palembang tersebut untuk sekedar refreshing dan menikmati libur akhir pekan mereka.
Mereka sekeluarga merentangkan sebuah karpet bermotif kotak-kotak di atas rumput, di pinggiran danau itu sebagai alas duduk.
Sebelum berangkat, Edrea juga sudah memasak sarapan simple berupa sandwich berisi telur yang kemudian dibawa saat berpiknik.
"Ayah, kita harus sering-sering ke sini kayaknya," ujar Prisha tiba-tiba. Dia langsung mengambil sepotong sandwich setelah puas menikmati udara di sekitaran danau yang tidak terlalu banyak polusi seperti di pusat kota.
"Setuju," balas Manaf. "Eh, tapi bentar lagi kamu kuliah ya, Sha."
"Mau kuliah di mana?" Edrea bertanya.
Prisha diam sejenak.
"Di UNSRI sini doang nggak pa-pa kali, ya?" tanyanya kemudian. "Kan, termasuk kampus negeri terbaik juga di Indonesia. Masuk ke dalam lima belas besar kok."
"Yakin?"
Cengiran khas dari bibir Prisha pun terbentuk. "Hm ... mungkin, Bun."
"Sha, kalau Ayah boleh saran, mending kamu pilih kampus di luar kota. Di Pulau Jawa sana, kampus negeri-nya banyak yang lebih bagus. Ayah yakin sama kemampuan kamu, kamu hanya lemah di matematika doang dan itu bisa diusahakan."
"Lagipula, kalau kamu kuliah di luar kota, kamu akan belajar mandiri. Hidup tanpa Ayah dan bunda," lanjut Manaf.
"Betul kata Ayah." Edrea menimpali, "Selama ini kamu selalu berada di lingkungan yang sama, Sha. Nah, mumpung ada kesempatan untuk ke luar dari rumah, manfaatkan kesempatannya. Cari pengalaman sebanyak mungkin di luar sana."
"Sha takut, Yah, Bun."
Menepuk-nepuk puncak kepala anak gadisnya adalah cara Manaf membujuk Prisha. "Gimana kalau Jakarta? Di sana, banyak keluarga besar kita yang tinggal. Jadi, kamu enggak bakal terlalu takut karena ada yang ngawasin."
Prisha menghela napas pelan. "Sha coba, deh."
"Enggak terpaksa, 'kan?"
"Enggak, Ayah."
"Jangan jadiin beban, ya, kalau emang kamu enggak mau. Ayah hanya menyarankan."
"Dan, Sha tau kalau saran Ayah memang pilihan terbaik untuk hidup Sha ke depannya."
Manaf dan Edrea menatap anaknya dengan pandangan haru. Mereka kini sadar, Prisha bukan lagi anak kecil yang polosnya kebangetan.
Prisha yang ada di hadapan mereka saat ini adalah gadis remaja yang sudah mulai mencari jati dirinya.
***
Jemari lentik Prisha menari-nari sambil menggenggam pena di atas kertas putih berisi formulir. Dia menuliskan kata demi kata, kalimat demi kalimat.
KAMU SEDANG MEMBACA
First Love (Tamat)
ChickLitCinta pertama memang akan selalu membekas. Entah kenangan baik atau buruknya. -Galih Lesmana 📌 Cerita Pilihan Editor Wattpad HQ Bulan Oktober 2024 #1 in Acak 12-02-2023 #1 in Bocil 15-02-2023 #1 in Cintapertama 03-02-2022 #1 in Complete 20-08-2022 ...
