Palembang, 2016.
Matematika adalah musuh terbesar Prisha.
Berkali-kali gadis itu mencoba mengerjakan tugas matematika-nya sendiri, namun tetap tak terisi satu angka pun juga.
Akhirnya, Prisha menyerah. Dia langsung menyambar ponsel di sebelah buku tugasnya dan menelepon Yudhistira. Tentu untuk meminta contekan. Apa lagi?
Prisha meregangkan badannya karena lelah berjam-jam duduk di belakang meja belajar. Sembari menunggu panggilannya diangkat oleh Yudhistira, dia mengayunkan kaki.
"Hallo." Suara Yudhistira terdengar dari seberang sana, membuat Prisha mendekatkan ponselnya ke sebelah telinga.
"Dhis!"
"Kenapa, Sha? Kamu udah lihat?"
"Lihat apa?" Dahi Prisha mengkerut, bingung. "Mau nyontek matematika ini."
"Nggak boleh kalau mau nyalin doang."
Mendengar itu, Prisha memasang wajah cemberut. Kemudian sadar kalau Yudhistira tidak bisa melihat. "Mau diajarin juga nggak bakal ngerti Sha, Dhis."
"Ngerti kalau ada niatnya."
"Ya, udah." Prisha berdecak. "Buruan ajarin! Tapi, kalau nggak ngerti, tetap contekin, ya?!"
Di seberang telepon, Yudhistira tertawa geli. Dia mengubah panggilan menjadi video call agar lebih mudah menjelaskan persoalan tugas matematika mereka pada Prisha.
"Coba tunjukkin mana yang nggak ngerti."
Prisha menurut, lantas mengarahkan kamera ponselnya ke buku tugasnya yang tergeletak di atas meja belajar.
"Demi apa nggak ada yang ngerti?!" Yudhistira berseru, lalu menggelengkan kepalanya. "Baru nulis soal doang gitu?"
"Dih, kalau ngerti juga Sha nggak bakal nanya kamu, Dhis. Sha ini bodoh."
Raut wajah Yudhistira melunak saat Prisha berkata seperti itu. Tentu dia tahu kemampuan sahabatnya. Makanya ia selalu memberi ultimatum untuk Prisha memahami jawaban dari tugas-tugas yang diconteknya dari Yudhistira.
Hal itu dia lakukan semata-mata agar Prisha semakin terlatih menjawab soal dan jadi ingin terus mencoba menjawab soal lainnya.
Seperti sekarang, gadis itu benar-benar sudah frustasi karena tidak bisa menjawab soal yang sudah ia coba untuk pecahkan. Karena tidak bisa, baru dia ingin mencontek dengan Yudhistira.
Jadi, bukan pure atau langsung mencontek saja.
Itu adalah sebuah kemajuan di diri Prisha, bagi Yudhistia—sahabatnya.
Yudhistira berkata, "Nggak ada orang bodoh di dunia ini, Sha. Mereka hanya malas belajar."
"Dan, jangan menyela. Aku tau kamu sudah berusaha, walaupun gagal. Jadi, mending kamu fokus dengerin aku jelasin sekarang, terus coba lagi besok-besok," katanya lagi.
Benar saja, Prisha diam setelahnya. Gadis berambut sebahu itu fokus mendengarkan penjelasan-penjelasan dari Yudhistira.
Satu jam menjadi murid private dadakan Yudhistira, Prisha merasakan kantuk menyerang. Dia hampir menutup mata ketika Yudhistira membuka suara lagi, "Udah ngantuk, Sha?"
Prisha tersentak. "Eh? Enggak kok, belum."
"Udah, nggak usah dipaksa kalau udah ngantuk. Mending kamu tidur. Besok subuh baru salin jawaban yang belum kita bahas. Tinggal dua soal doang, 'kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
First Love (Tamat)
Chick-LitCinta pertama memang akan selalu membekas. Entah kenangan baik atau buruknya. -Galih Lesmana 📌 Cerita Pilihan Editor Wattpad HQ Bulan Oktober 2024 #1 in Acak 12-02-2023 #1 in Bocil 15-02-2023 #1 in Cintapertama 03-02-2022 #1 in Complete 20-08-2022 ...
