First Love | BAB 13

32.9K 2.4K 75
                                        

Prisha menatap sekelilingnya dengan pandangan bingung. Banyak orang yang berlalu-lalang di hadapannya, beberapa diantara mereka sempat menghentikan langkah sebentar untuk sekedar menyapa jika lewat di depan Prisha.

Selain banyak orang, di tempat itu juga banyak kamera dan lampu berukuran besar.

Di meja rias sudut ruangan, jauh dari sofa tempatnya duduk, ada Galih yang sedang dipegang-pegang wajahnya oleh seorang penata rias.

"Sha, butuh sesuatu?"

Pandangan Prisha kini tertuju pada Harun yang berdiri di hadapannya. Kemudian, ia menggeleng.

"Galih minta gue temani lo di sini. Lo nggak nyaman di lokasi shooting yang ramai kayak gini, ya?"

Mendengar itu, Prisha meringis. Harun menebak raut wajahnya dengan tepat. "Mungkin karena baru pertama kali lihat kayak ginian, Mas. Biasanya, kan, lihat di televisi atau bioskop enggak seramai ini," kata Prisha akhirnya.

Lantas Harun terkekeh mendengar penuturan gadis itu. "Ya ... kalau di layar mah kru-nya enggak kelihatan lah."

"Eh, tapi lo nggak pa-pa, ya, nunggu sebentar? Galih cuma shoot beberapa scene kok hari ini, soalnya ini hari terakhir juga," lanjut Harun.

"Santai, Mas. Habis ini Sha mau ke gramedia sama Kak Galih soalnya, tanggung kalau pulang dulu."

"Sebenernya lebih baik pulang dulu, sih. Tapi ... si Galih nggak ngebolehin lo pulang. Dia nggak mau jauh-jauh tuh dari lo."

Harun ikut duduk di sofa panjang bersama Prisha, tubuhnya ia miringkan agar bisa lebih leluasa menatap ekspresi wajah gadis itu. "Lo sedekat itu, ya, sama Galih?"

"Sha dekat sama Kak Galih karena tetanggaan waktu di Palembang, Mas. Dulu, Sha sering nyusahin Kak Galih." Cengiran khas muncul di bibir Prisha, membuat Harun tertular hingga ikut nyengir.

"Sha itu waktu kecil sering main sama Kak Galih, makanya jadi dekat banget. Sebelum Kak Galih tinggal di sebelah rumah Sha, Sha nggak punya teman lain lagi." Cerita itu mengalir begitu saja dari bibir Prisha.

Mengangguk-angguk, Harun kemudian berkata, "Pasti lo kesepian, ya, waktu Galih ke Jakarta."

Bibir Prisha terkatup. Hal itu mengingatkannya akan jarak yang sempat mereka ciptakan. Pernyataan cinta dari Prisha untuk Galih mungkin salah satu pemicu terbentuknya jarak tersebut.

"By the way, lo jangan bilang-bilang Galih, ya, kalau gue nanya-nanya tentang kehidupan pribadinya gini. Nanti dia ngamuk lagi." Harun menambahi.

"Ngamuk?" tanya Prisha bingung.

"Iya, dia aktor yang paling menuntut privasi. Makanya sejak lo datang tadi nggak ada yang nanya lo siapa walaupun mereka negur. Mereka udah tau, kalau lo dibawa oleh Galih dan kalau mereka nanya lo siapa-nya Galih, berarti mereka sama aja mengusik privasi Galih," jelas Harun. "Padahal, kan, kalau mau privasi-privasi banget, nggak usah jadi public figure aja sekalian."

"Kak Galih harusnya tau, ya, resiko pekerjaan dia," komentar Prisha, menanggapi penjelasan Harun sebelumnya soal privasi yang sangat dituntut oleh si aktor terkenal—Galih Lesmana.

Harun menjentikkan jarinya di depan wajah Prisha. "Nah! Lo aja tau, masa dia enggak?!"

Tawa Prisha menyembur ketika melihat Harun berbicara dengan nada menggebu-gebu itu.

Sepertinya sang manager sudah lelah menghadapi artisnya. Lebih tepatnya, mungkin, lelah harus diminta mengurus berita-berita yang menyangkut soal Galih untuk diturunkan karena lelaki itu tidak ingin kehidupan pribadinya dikonsumsi publik.

First Love (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang