First Love | EPILOG

60.1K 2.3K 93
                                        

Jembatan penyebrangan antar kamar yang sempat membuat Prisha geger itu kini sudah jadi tepat dua hari sebelum pernikahan mereka.

Dan, karena hal itu Prisha dipaksa bundanya untuk tidur di kamar bawah sementara waktu, sampai ia sudah sah dengan Galih untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Walau Edrea percaya kalau keduanya tidak akan berbuat hal buruk, tapi tetap saja, bagaimana jika ada setan lewat?

Besok. Pernikahan mereka akan digelar besok. Pagi harinya akad di rumah Prisha, lalu malam harinya langsung resepsi di salah satu hotel bintang lima.

Undangannya mencapai ribuan karena memang Galih punya banyak relasi. Namun, mereka sepakat agar tidak memperbolehkan acara pernikahan mereka disorot oleh media, apalagi masuk televisi.

Siang ini, Prisha sedang duduk di jembatan penyebrangan antara kamarnya dan Galih dengan kaki yang menggantung ke bawah sambil menghadap ke jalanan. Di sebelah Prisha, ada Gilang yang sejak tadi disembur serangan badmood gadis yang sedang PMS itu.

"Kakak kamu mana sih, Lang?!" tanya Prisha untuk yang ke-sekian kalinya. Pasalnya, Galih menghilang sejak pagi dan tidak memberi kabar ingin ke mana meski sempat pamit serta berkata kalau Prisha tidak perlu khawatir.

Mana bisa Prisha tidak khawatir saat Galih menghilang sehari sebelum pernikahan mereka?! Amit-amit, deh.

Prisha menoleh pada Gilang yang tetap bungkam. Lalu, menabok punggungnya kesal. "Mana kakak kamu?!" tanyanya lagi.

Gilang jadi ikut kesal. Lelaki itu berdecak. "Ke bandara, Sha."

"APA?!" Prisha melotot hingga matanya hampir keluar. "Beneran kabur?!"

Mendengar teriakan dari calon kakak iparnya, Gilang mengusap-usap telinganya yang pengang. "Jemput orang, bukan kabur!" balasnya kesal. "Mana mungkin dia kabur saat udah susah payah dapetin kamu."

Prisha mengusap dadanya. "Kirain," katanya kemudian setelah menghela napas lega.

"Aneh aja mikirnya."

Komentar Gilang hendak dibalas Prisha kalau matanya tidak menangkap mobil Galih masuk ke pekarangan rumahnya. Apalagi saat melihat siapa yang ada di dalam mobil itu, Prisha langsung bergegas turun tanpa menghiraukan Gilang yang sudah mendengus jengkel.

Gadis itu berlari menuruni tangga rumahnya menuju pintu utama. Setelah membuka pintu, dia langsung memeluk dua dari tiga orang yang datang. "Dilan dan Kailaaaa!" serunya senang. Kemudian, cemberut dalam sedetik. "Bilangnya nggak bisa datang ke Palembang."

Kaila berdecak. "Mana mungkin gue nggak datang! Gue ini saksi cinta lo sama Kak Galih waktu jaman kuliah, tau!" katanya sambil membalas pelukan Prisha—sahabat yang lama tidak ditemuinya.

Ketika pelukan mereka terlepas, Prisha melirik Dilan dan Kaila bergantian, lalu berdecak kagum. "Kalian udah kelihatan dewasa banget, padahal rasanya baru tujuh tahun nggak ketemu."

"Tujuh tahun itu lama," celetuk Dilan.

"Iya!" imbuh Kaila. "Lo nih bacot doang mau ke Jakarta, tapi sampai mau nikah kagak datang-datang juga."

Tidak terima disudutkan, Prisha membalas, "Kaila juga bacot aja mau ke Palembang, tapi sampai Sha mau nikah baru datang."

"Seenggaknya gue datang."

"Sha juga nanti ke Jakarta habis nikah, tinggal di sana pula."

"Serius?!" Mata Kaila berbinar.

"Iya, serius."

"Asyik, dong! Bisa shopping bareng kita!"

Dahi Prisha membentuk gelombang. "Janji kita, kan, main ke Dufan, La. Bukan shopping."

First Love (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang