Pagi-pagi sekali tadi, Galih sudah menghampiri apartment Prisha. Dia tahu Prisha tidak pernah bangun siang, makanya berani datang saat matahari baru saja memunculkan diri.
Sepagi itu, entah dari mana, pokoknya Galih sudah membawakan sarapan berupa nasi uduk untuk Prisha. Lalu, setelah menemani Prisha sarapan, ia langsung pamit karena ada pekerjaan dan akan langsung ke acara gala premiere malam harinya.
Dia meminta Prisha untuk tidak menunggu.
Kalau dipikir-pikir, mereka sudah seperti suami-istri saja. Menggelikan, mengingat obrolan semalam saja tidak diteruskan lagi oleh Galih ketika Prisha menjawab secara gamblang kalau ia masih menyukai sosok lelaki itu.
Padahal Galih tidak bertanya secara spesifik, sebagai apa Prisha menyukainya. Prisha juga tidak mengatakan secara spesifik waktu menyatakan perasaannya. Meski sepertinya Galih bisa menangkap maksud Prisha.
"Ngelamun aja lo!"
Prisha menghela napas kasar ketika Kaila menyentaknya. Lumayan lelah ternyata memikirkan nasib percintaannya. Andai perasaan bisa diatur, lebih baik dia tidak jatuh cinta daripada harus merasakan ini pada Galih.
Gadis itu sampai lupa kalau saat ini ia sedang bersama Kaila di kamarnya.
"La, Sha mau cerita, deh."
Mendengar perkataan temannya itu, Kaila sontak saja beringsut dari posisi rebahannya di atas kasur queen size milik Prisha. "Cerita apa?"
"Kemarin, Kak Galih nanya Sha masih suka dia atau enggak," ujar Prisha.
Seketika Kaila berubah antusias. "Lo jawab apa?!"
"Masih."
"Bagus!" Kaila bertepuk tangan senang.
"Kok bagus?" Prisha menoleh dengan raut kesal. "Ini kedua kalinya lho Sha dibikin bingung sama Kak Galih. Dia nggak bilang apapun soalnya habis itu. Persis kayak waktu pertama kali Sha nyatain."
"Aduh, Sha, itu mah gampang!" sahut Kaila sambil menjentikkan jarinya. "Sekarang ini udah jamannya emansipasi wanita. Selagi Kak Galih enggak ngehindarin lo kayak dulu dan masih perhatian, artinya lo masih bisa mencoba rebut hatinya dia. Lagian kayaknya Kak Galih juga sayang sama lo."
Prisha mendengus. "Sayang sebagai adik."
"Ya, udah, tugas lo sekarang merubah sayang sebagai adik itu menjadi sayang sebagai perempuan. Gampang, 'kan?"
"Enggak."
"Apanya yang enggak?!"
"Enggak gampang, La. Kayaknya ... Kak Galih masih pacaran sama Kiara."
Seketika Kaila memekik, "WHAT?!" Kemudian, ia melanjutkan, "Bukannya udah putus? Nggak pernah ada beritanya lagi kok."
Prisha beranjak duduk sambil menyandar di kepala ranjang. "Mungkin, hubungannya enggak pernah diumbar aja."
"Lo tau dari mana, Sha?"
"Sha, kan, bareng Kak Galih terus. Sejauh ini Sha udah dapat beberapa bukti."
"Kak Galih sama lo terus. Kalau emang mereka pacaran, kenapa Kak Galih nggak pernah sama Kiara coba?!" Bicara Kaila sudah berubah menggebu-gebu.
"Alasan privasi ... mungkin."
"Tapi, Kak Galih juga bilang kalau Sha nggak perlu membatasi perasaan. Setiap orang berhak menyukai orang lain," lanjut Prisha.
Hening sejenak sebelum Kaila berbicara lagi, "Jujur aja, ya, Sha, gue nggak ngerti sama jalan pikiran Kak Galih itu. Di satu sisi, gue mikir kalau dia takut lo ngehilangin perasaan lo untuk dia. Tapi, di sisi lain, kayaknya dia nggak bisa sama lo, apalagi kalau dia benar masih pacaran sama Kiara."
KAMU SEDANG MEMBACA
First Love (Tamat)
ChickLitCinta pertama memang akan selalu membekas. Entah kenangan baik atau buruknya. -Galih Lesmana 📌 Cerita Pilihan Editor Wattpad HQ Bulan Oktober 2024 #1 in Acak 12-02-2023 #1 in Bocil 15-02-2023 #1 in Cintapertama 03-02-2022 #1 in Complete 20-08-2022 ...
