First Love | BAB 10

39.2K 2.6K 101
                                        

Adegan tepuk-tepuk puncak kepala yang dilakukan oleh Galih hingga membuat para mahasiswi di sekitar mereka terpekik, untungnya bertepatan dengan masuknya dosen ke kelas.

Jadi, Prisha tidak perlu membalas pertanyaan aneh dari Galih.

Meskipun begitu, tetap saja, gadis itu tidak bisa fokus dengan kuliahnya saat ini karena Galih masih ada di sebelah kanannya, duduk tenang seolah tak melakukan apapun sebelumnya.

Kaila juga sejak tadi tak henti-hentinya membisikkan berbagai macam pertanyaan pada Prisha. Jiwa kepo temannya itu sudah meronta-ronta. Dia terus bertanya perihal bagaimana Prisha bisa mengenal Galih.

Ya ... wajar sih kalau Kaila sekepo itu, soalnya Galih ini adalah aktor yang sangat tertutup perihal kehidupan pribadinya. Orang-orang saja tidak tahu kalau dia sebelumnya tinggal di Palembang dan keluarganya ada di sana.

Galih paling tidak suka membicarakan privasinya lewat media. Entahlah, lelaki itu seperti agak memberi jarak dengan media.

Hebatnya lagi, media manapun sangat jarang berhasil menerobos privasi Galih.

Prisha malah makin tidak fokus. Padahal di depan kelas sana dosen mereka sedang menjelaskan perihal kontrak kuliah.

"Sha, cerita doooongg. Kok lo bisa kenal sama Galih Lesmana?" Lagi-lagi, Kaila berbisik, mengganggu fokus belajar Prisha.

Prisha menghela napas pelan, yang disadari oleh Galih. Kemudian, ia balas berbisik pada Kaila, "La, nanti ketahuan dosen."

"Penasaran, nih."

"Nanti gue gentayangan deh pas jadi hantu," lanjut Kaila santai.

Mata Prisha membola seketika. "Huushhh!"

Galih yang sejak tadi memperhatikan, kini tertawa kecil di bangkunya. Tapi, Prisha tidak menyadari itu.

Setelahnya, Prisha mencoba fokus pada layar proyektor di depan kelas lagi, menghiraukan cengiran dari Kaila.

Belum satu menit ia fokus, Galih mencuil lengan kanannya, hingga tubuh gadis itu menegang. Prisha pun melirik takut-takut pada Galih. "Kenapa, Kak?"

"Lihat catatan kamu dong, Sha. Aku pusing lihat layar di depan, agak nggak jelas."

Memang, tulisan di layar proyektor depan itu tidak jelas. Tadinya Prisha sempat mengira matanya sudah rusak jika Galih tidak berkata seperti itu.

Prisha menyodorkan bindernya pada Galih dengan ragu. "Kak Galih emangnya nggak punya catatan tahun lalu?" tanyanya kemudian.

"Catatan tahun lalu? Aku aja baru masuk tahun ini." Kekeh Galih.

"Eh? Sha kira Kak Galih ngulang buat perbaikin nilai yang belum sempurna."

"Enggak, aku terlalu sibuk tahun lalu, Sha, jadi baru bisa kuliah tahun ini."

"Oh."

Galih mengernyit ketika mendengar balasan dari Prisha. Namun, memangnya dia mengharapkan balasan seperti apa, sih?

Lelaki itu tahu betul kalau Prisha sedang mati-matian menahan rasa gugupnya. Dia juga tahu kalau Prisha bingung kenapa dirinya bisa sesantai ini setelah banyak hari yang mereka lewati tanpa tegur sapa atau melakukan hal menyenangkan bersama.

Satu yang Galih tahu dan Prisha tidak tahu, kalau mereka merindukan keberadaan masing-masing. Mereka tumbuh bersama di lingkungan yang sama, tentu tidak mudah saling melupakan.

***

Kantin fakultas ekonomi siang ini terlihat sangat ramai. Untungnya suasana kantin tersebut dibuat outdoor, jadi pengunjung tidak perlu merasa pengap akan keramaian itu.

First Love (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang