Galih terbangun dari tidur nyenyaknya. Lelaki itu langsung menyibak selimut setelah mengecek jam di sudut atas layar ponselnya yang sudah menunjukkan hampir pukul tujuh pagi. Untung saja jadwal kuliah hari ini dimulai pukul satu.
Memutuskan bangkit dari kasur, Galih masuk ke dalam kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi.
Setelahnya, ia langsung mengambil kembali ponselnya yang berada di nakas dan langsung melipir ke apartment seberangnya.
Mengingat semalam Galih tidak menghampiri Prisha karena takut mengganggu sebab ia baru pulang pukul sebelas malam, akhirnya pagi ini dirinya langsung ke sana tanpa perlu mandi ataupun ganti baju terlebih dahulu.
Galih butuh melihat Prisha pagi ini. Setidaknya untuk menghilangkan rasa lelah yang ada di dirinya.
Namun, berkali-kali Galih memencet bel apartment seberangnya, tidak ada sahutan sama sekali. Rasa cemas dalam diri Galih pun memuncak.
"Ooooh, jadi ini apartment tempat kamu nyimpen cewek, Gal?"
Galih menoleh, lalu terkejut mendapati Kiara yang ada di hadapannya.
Lelaki itu menghela napas saat sudah berhasil melawan keterkejutannya. "Ngapain di sini?" tanya Galih pada Kiara.
"Harusnya aku yang tanya, Gal, kenapa kamu ngehindarin aku terus? Karena cewek itu sekarang ada di hadapan kamu?"
"Ki!"
"Apa?! Mau ngeles?!"
Untung saja apartment itu kedap suara, sehingga orang-orang di unit lain tidak bisa mendengar suara mereka berdua yang sudah mulai meninggi. Dan, lorong apartment tempat mereka berdebat juga sedang sepi.
"Jawab, Gal!" desak Kiara. Wajahnya memerah karena emosi yang tiba-tiba menyeruak.
Seketika Galih meremas rambutnya. "Ki." Dia mulai melunak. "Kita bicara lain kali, oke? Aku harus cari Prisha dulu."
Setelah mengatakan hal itu, Galih berlalu dari sana, meninggalkan Kiara yang sudah merasa muak karena terus dianggap tak acuh oleh sang pacar. Kiara benar-benar merasa dirinya murah karena perlakuan Galih terhadapnya.
"Damn, Galih!"
***
Galih terus mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan ibukota, tanpa tahu harus menuju ke mana. Dia sudah mencoba menelepon Prisha, namun tidak ada jawaban sama sekali. Ia juga sempat memeriksa CCTV di lorong apartment dan ternyata tidak ada tanda-tanda kalau Prisha pulang sejak kemarin.
Karena sempat hampir frustasi, Galih menelepon Bunda Prisha dan bundanya juga di Palembang sana. Namun, kebetulan yang buruk karena keduanya juga tidak mengangkat telepon.
Dari pagi hingga hari menjelang siang, Galih tidak juga menemukan Prisha.
Karena sadar usahanya sia-sia, lelaki itu memutuskan kembali ke apartment dengan harapan Prisha sudah kembali juga. Semoga.
Dan, benar saja, saat ingin memarkirkan kembali mobilnya di basement, mobil Prisha ternyata sudah ada di tempat biasanya parkir—di sebelah mobilnya.
Tanpa menunggu lama, Galih keluar dari mobil dan berlari menuju lift yang akan mengantarkannya ke unit apartment Prisha.
Galih sempat membuat keributan dengan memencet bel apartment Prisha berkali-kali. Dan, saat gadis itu membuka pintu dengan handuk yang terpasang di atas kepala, Galih langsung menubruk tubuhnya dan memeluknya erat. "Kamu nggak tau seberapa khawatirnya aku?"
Bukannya menjawab pertanyaan Galih, Prisha malah menepuk-nepuk punggungnya. Gadis itu merasa sesak karena Galih memeluk terlalu kencang. "Le-lepas, Kak Galih!"
KAMU SEDANG MEMBACA
First Love (Tamat)
ChickLitCinta pertama memang akan selalu membekas. Entah kenangan baik atau buruknya. -Galih Lesmana 📌 Cerita Pilihan Editor Wattpad HQ Bulan Oktober 2024 #1 in Acak 12-02-2023 #1 in Bocil 15-02-2023 #1 in Cintapertama 03-02-2022 #1 in Complete 20-08-2022 ...
