Prisha memakai sepatu kets-nya terburu-buru lantaran jam sudah menunjukkan hampir pukul delapan pagi.
Gadis itu memakai sepatu sambil berdiri dan berjalan terseok-seok untuk membuka pintu apartment-nya karena sebentar lagi jam kuliah pertamanya hari ini seharusnya sudah dimulai.
Sambil berusaha memakai sepatu dengan benar, dia merutuki Yudhistira dalam hati karena sudah memberikannya rekomendasi drama korea terbaru yang sedang booming sehingga ia semalam bergadang untuk marathon nonton.
Dan ... bangun kesiangan pagi ini.
Prisha membuka pintu apartment-nya dengan cepat setelah sepatunya sudah terpasang dengan rapi. Niat ingin berlari ke lantai bawah agar bisa sampai di kampus tepat waktu, dia malah menabrak seseorang yang kini berdiri di depan unit apartment-nya.
"Berangkat bareng?" tanya Galih santai. Lelaki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans yang ia kenakan.
Dahi Prisha mengkerut. "Kak Galih ngapain? Enggak ke kampus?" Matanya kemudian beralih pada jam di pergelangan tangannya. "Udah hampir telat ini."
"Mau ngajak kamu berangkat bareng. Kamu, kan, nggak pernah mau bawa mobil."
"Kok tau?!" pekik Prisha, refleks. Untung saja lorong apartment itu sedang sepi dan tiap unit sudah diatur kedap suara. "Kak Galih, ya, yang selama ini ngadu ke bunda Sha kalau mobil Sha cuma jadi pajangan di basement?" Mata gadis itu memicing.
Tawa kecil muncul dari bibir Galih. "Aku cuma bicara fakta kok."
"Ngeselin!"
"Eh, eh, kita telat, Kak! Ayo buruan berangkat!" Prisha heboh sendiri kemudian. Sedangkan Galih masih berdiri santai di depan itu, menikmati pemandangan kepanikan Prisha saat menutup kembali pintu apartment-nya.
"Sha."
"Ayo buruan, ngapain diam aja?!"
"Kelas pagi ini batal, Sha, kamu enggak cek grup kelas apa?"
"Hah?!" Prisha urung melangkahkan kaki. Dia berbalik, kembali menghadap ke Galih yang masih berdiri di depan pintu apartment-nya.
"Iya, kita cuma ada kelas jam sepuluh aja hari ini."
Prisha berdecak. "Kenapa Kak Galih nggak bilang dari tadi, sih?!"
"Siapa suruh kamu heboh bener gitu?" Kekeh Galih. Sedetik kemudian, ia mengambil sebelah tangan Prisha untuk dituntun. "Mending kita ke kafe bawah buat sarapan, Mas Harun udah nungguin di sana."
Mendengar itu, Prisha hanya bisa pasrah. Akhirnya ia mengikuti ke mana Galih membawanya. Lagipula dia memang belum sempat sarapan karena bangun kesiangan dan kelewatan shalat subuh.
Ingatkan Prisha untuk tetap memberi perhitungan pada Yudhistira nanti. Bagaimanapun lelaki itu yang merekomendasikan drama korea yang seru hingga Prisha bergadang dan kesiangan.
***
Galih dan Prisha turun dari mobil yang dikemudikan oleh Harun. Mobil itu berhenti tepat di depan gedung fakultas ekonomi.
Galih memang jarang mengemudi sendiri, dia lebih sering meminta diantar oleh Harun ke mana-mana. Selain Galih, sepertinya anak didik Harun sekarang bertambah satu lagi, yaitu Prisha.
"Mas Harun, nanti jemput jam 12, ya," kata Galih sebelum Harun melajukan mobilnya untuk pergi dari sana.
"Yoi!"
Ketika mobil hitam milik Galih sudah tak tertangkap di mata lagi, Prisha menghela napas.
Menyadari itu, Galih bertanya, "Kenapa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
First Love (Tamat)
Literatura FemininaCinta pertama memang akan selalu membekas. Entah kenangan baik atau buruknya. -Galih Lesmana 📌 Cerita Pilihan Editor Wattpad HQ Bulan Oktober 2024 #1 in Acak 12-02-2023 #1 in Bocil 15-02-2023 #1 in Cintapertama 03-02-2022 #1 in Complete 20-08-2022 ...
