Palembang, 2013.
Pagi hari yang cerah, Prisha sudah berdiri di balkon sekolahnya yang menghadap ke jalan raya.
Matahari semakin naik, kicau burung semakin berisik, begitu pula suara kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya depan sekolahnya.
Gadis itu sedang menunggu kedatangan seseorang. Sudah menjadi hobi Prisha selama setahun terakhir—berdiri sambil menopang dagunya dengan sebelah tangan di pagar pembatas balkon.
Sesekali, ia melirik jam berwarna gold yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Sekitar lima sampai sepuluh menit lagi. Batin Prisha sambil tersenyum.
Dan ... benar saja, lima menit kemudian, orang yang ditunggu Prisha pun datang. Pemandangan favoritenya sedang tersuguh.
Pemandangan Galih yang mencium punggung tangan Bunda Ayana ketika diantar ke sekolah menggunakan motor vespa matic-nya.
Entahlah mengapa Prisha senang melihat interaksi itu. Mungkin, karena Galih terlihat sangat sopan. Dari dulu, Prisha tahu kalau Galih memang sangat amat menghargai wanita yang sudah melahirkannya ke dunia itu.
Ketika Galih berjalan memasuki gerbang sekolah, Prisha tidak juga melepas pandangannya dari lelaki itu. Sampai kemudian punggungnya hilang ditelan tangga di ujung koridor lantai satu, barulah Prisha mengalihkan pandangan ke depan lagi.
Saat ini Galih sudah menginjak kelas sembilan SMP, kelasnya terletak di lantai atas kelas Prisha—lantai tiga gedung SMP.
"Sha!"
Prisha berbalik, badannya menyandar pada pagar pembatas balkon. Dia menatap Yudhistira yang sedang berjalan ke arahnya.
"Aku tebak, kamu lagi ngintipin Kak Galih. Seperti biasanya, right?"
Bukannya malu dipergoki untuk ke sekian kalinya, Prisha malah mengacungkan kedua jempolnya. "Kak Galih itu enak dipandang tau, Dhis!"
Mengedikkan bahu, Yusdhistira kemudian menjawab, "Ya ... lumayan setuju. Aku juga sering dengar kok anak-anak cewek suka bicarain dia."
"Bicarain gimana?" Sebelah alis Prisha terangkat.
"Kayak nggak tau pengaruh kakak kelas buat adik kelas aja," cibir Yudhistira. "Apalagi Kak Galih orangnya ramah, meskipun bukan anak basket gitu."
"Ramah sih, tapi kadang ngeselin juga."
"Eiiittss, jangan lupa, kamu juga suka nyusahin dia."
Kalimat yang keluar dari mulut Yudhistira barusan membuat Prisha nyengir. Betul, sampai sekarangpun rasanya kurang afdol jika Prisha tidak menyusahkan Galih.
Yudhistira tahu semuanya—soal Galih dan Prisha—karena gadis itu sudah menganggapnya sahabat. Yudhistira adalah satu-satunya orang yang sangat dekat dengan Prisha selama ia duduk di bangku SMP. Dengan Yudhistira, Prisha bisa menjadi orang cerewet yang menceritakan banyak hal.
Prisha tidak menyangka kalau Yudhistira malah akan menjadi sahabatnya mengingat dulu saat pertama kali bertemu lelaki itu pernah menatapnya seolah ia orang aneh.
Prisha kini juga tahu kalau Yudhistira adalah lelaki yang memiliki selera humor yang sama sepertinya. Receh, pakai banget.
"Kok dia mau, ya, direpotin terus sama kamu?" celetuk Yudhistira kemudian.
"Soalnya Sha ini adik perempuan satu-satunya." Prisha menjulurkan lidah.
"Adik ketemu gede."
"Dih, sirik aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
First Love (Tamat)
ChickLitCinta pertama memang akan selalu membekas. Entah kenangan baik atau buruknya. -Galih Lesmana 📌 Cerita Pilihan Editor Wattpad HQ Bulan Oktober 2024 #1 in Acak 12-02-2023 #1 in Bocil 15-02-2023 #1 in Cintapertama 03-02-2022 #1 in Complete 20-08-2022 ...
