"Saya dan Galih memang masih menjalin hubungan diam-diam selama dua tahun belakangan. Ya ... kalian tau lah sejak kapan, tentu sejak kita adu akting pertama kali dulu. Biasa, cinta lokasi."
Gadis yang ada di layar itu terkekeh pelan. Kemudian, ia melanjutkan, "Saya juga sudah lihat berita yang beredar. Soal perempuan yang belakangan ini sama Galih terus yang disebut-sebut sebagai orang ketiga, mungkin beritanya benar mengingat pacar saya sekarang sudah jarang bisa ditemui. Entah setelah ini hubungan kita akan berlanjut atau tidak."
"Doakan saja yang terbaik untuk kita berdua."
Klik.
Prisha langsung mengunci layar ponselnya, lantas mendesah pelan. Dia tahu kalau Galih masih menjalin hubungan dengan Kiara, tapi tidak tahu akan begini kejadiannya.
Mengingat pembicaraannya dengan Galih semalam, Prisha jadi merasa bersalah. Ia perempuan, tentu tahu bagaimana perasaan Kiara.
Namun, kalau Galih sendiri yang mengatakan ia juga menyukainya, artinya Prisha harus percaya. Karena, bagaimanapun keadaannya, Prisha selalu percaya pada Galih.
Prisha tidak tahu bagaimana hubungan Galih dengan Kiara. Tapi, Prisha tahu ada yang tidak beres mengingat Galih yang malah menyukainya.
Lamunan Prisha tidak bertahan lama karena notifikasi yang terus masuk ke ponselnya. Prisha tidak ingin melihat, tapi terlanjur melihat karena tulisan demi tulisan atau kalimat buruk yang dilontarkan orang-orang di luar sana langsung timbul di layar depan ponselnya.
Ganjen amat jadi cewek.
Berani banget lo ngerebut Galih.
Lo pikir lo cantik?
Cantikan Kiara dari sisi mana aja.
Culun juga kayaknya gayanya.
Cih, pelakor.
Nggak pernah diajarin orang tuanya kali, ya.
Penasaran orang tuanya kerja apa.
Jangan-jangan orang tuanya nggak berpendidikan.
Air mata Prisha tumpah lagi tanpa bisa ditahannya. Prisha tahu dia salah karena tidak menjaga jarak dari Galih meski sadar lelaki itu punya pacar, tapi sumpah, ia tidak sedikitpun punya niat untuk merebut Galih dari Kiara.
Prisha rela kalau memang Galih bukan jodohnya.
Hal yang paling membuat Prisha sedih adalah ketika mereka membawa-bawa orang tuanya yang bahkan tidak tahu apapun. Orang tua Prisha tidak pernah salah dalam mendidiknya, mereka orang tua terbaik bagi Prisha.
Kenapa mereka setega itu mengatai orang tuanya tidak berpendidikan?
***
Setelah bertemu Kiara, Galih langsung menuju apartment kembali. Dia bisa melihat area lobby apartment mereka mulai ramai oleh wartawan. Untungnya sistem keamanan gedung itu bagus, sehingga mereka tidak bisa masuk lebih jauh, bahkan ke basement pun tidak.
Galih menghentikan mobilnya di parkiran basement, lalu menarik rem tangan dan segera keluar setelah mobil itu mati.
Langkah Galih melebar saat melihat pintu lift sudah terbuka dan akan mengantarkannya ke lantai di mana unitnya berada.
Sesampainya di lantai yang dituju, Galih bukan masuk ke unitnya sendiri, melainkan memencet bel unit Prisha berkali-kali. Dia khawatir dengan gadis itu, sungguh.
"Kak Galih?"
Melihat keadaan Prisha, emosi Galih memuncak lagi. Ingin sekali rasanya mengamuk pada orang-orang di luar sana yang sudah membuat gadis favorite-nya sedih hingga penampilannya berantakan. Kantung mata, juga bekas air mata yang masih ada itu tidak bisa membohonginya.
Galih maju, memeluk Prisha. Namun, gadis itu hanya diam, tidak membalas pelukannya. "Sha, maafin aku."
"Kak Galih nggak salah."
"Tentu aku salah!" sentak Galih. Kemudian, ia melepaskan pelukannya dengan Prisha saat menyadari seseorang keluar dari unit sebelah. Seseorang yang menatap penasaran pada mereka berdua. "Kita masuk aja."
Prisha mengangguk, lalu mempersilahkan Galih masuk ke apartment-nya. Mereka berdua mengambil duduk berdampingan di sofa living room yang menghadap ke televisi yang nyala menampilkan berita keduanya.
Karena kesal mendengar Prisha disudutkan, Galih mengambil remote di meja depannya, lalu mematikan televisi tersebut. Dia menoleh pada Prisha. "Sha, dengarin aku, jangan pernah lihat berita apapun lagi, oke?"
Tidak ada jawaban dari gadis itu. Pandangannya kosong ke depan.
"Sha."
"Salah nggak sih kalau Sha suka sama Kak Galih?" tanya Prisha tanpa menatap Galih. "Padahal Sha nggak pernah punya niat rebut Kak Galih dari Kiara. Selama kita kuliah, Sha nekan otak Sha untuk anggap Kak Galih sebatas kakak yang sejak dulu lindungin Sha, itu aja. Nggak sekalipun Sha berani bikin perasaan Sha sama Kak Galih jadi lebih besar."
"Aku udah bilang, Sha, ini bukan salah kamu. Setiap
orang berhak menyukai orang lain."
Tanpa membalas perkataan Galih, Prisha berbicara lagi, "Sha selalu percaya sama Kak Galih, termasuk waktu Kak Galih bilang suka sama Sha dan nyuruh Sha nunggu kemarin. Tapi, bukan berarti Sha mau rebut Kak Galih dari Kiara, bukan berati Sha juga mau ada diantara kalian."
"Kalau selama Sha di Jakarta ini selalu bareng sama Kak Galih, itu karena Sha anggap Kak Galih sebagai kakak yang ngurusin Sha selama di sini. Demi Tuhan, Sha nggak mau rebut Kak Galih dari Kiara," lanjutnya sambil terisak pelan.
Ini pertama kalinya Galih melihat Prisha menangis sebegininya. Prisha yang ia kenal sebelumnya adalah gadis yang ceria yang hanya menangis kalau maunya tidak dituruti saja.
Hati Galih teriris melihatnya. Lelaki itu tidak tahan untuk tidak membawa Prisha ke pelukannya lagi, membiarkan gadis favorite-nya menangis di dadanya sampai baju yang ia kenakan basah.
"S-sha rela kalau Kak Galih bukan jodoh Sha, tapi Sha nggak rela kalau ayah dan bunda dikata-katain sama mereka," kata gadis itu terbata-bata.
Mendengarnya, Galih mendesah kasar. "Sha, dengar, aku bakal tanggung jawab selesaikan semuanya, oke? Tapi, tolong, jangan sampai mereka tau kalau kamu jadi kayak begini karena mereka akan makin senang melihat keadaan kamu ini."
"Sekali lagi, kamu cukup percaya sama aku. Selagi aku selesain semuanya, aku minta tolong supaya kamu nggak ke mana-mana dulu. Dan, jangan buka sosial media atau berita apapun dulu. Aku juga akan hubungi ayah sama bunda kamu soal ini, mereka aku jamin aman," imbuhnya.
Galih mengelus punggung Prisha dengan lembut. Hal itu membuat Prisha membalas pelukannya dengan erat.
Setidaknya, Prisha pikir, saat ini Galih ada di sebelahnya, menghiburnya.
Setidaknya, Prisha punya sandaran.
***
Menurut kalian, Galih salah nggak?
KAMU SEDANG MEMBACA
First Love (Tamat)
Chick-LitCinta pertama memang akan selalu membekas. Entah kenangan baik atau buruknya. -Galih Lesmana 📌 Cerita Pilihan Editor Wattpad HQ Bulan Oktober 2024 #1 in Acak 12-02-2023 #1 in Bocil 15-02-2023 #1 in Cintapertama 03-02-2022 #1 in Complete 20-08-2022 ...
