First Love | BAB 18

26.8K 2.1K 20
                                        

Galih dan Prisha berjalan beriringan di sepanjang koridor apartment mereka menuju lift.

Pagi ini, keduanya nampak serasi karena tanpa sadar mengenakan pakaian senada untuk kuliah. Bukan hanya senada, Galih dan Prisha sama-sama mengenakan kemeja berwarna navy yang dipadukan dengan celana jeans.

Hanya saja, di saat Galih memilih mengenakan sepatu kets, Prisha malah mengenakan flatshoes kesayangannya. Lebih simpel.

Mereka berdua masuk ke lift yang sepi, lantas Galih menekan tombol menuju basement. "Sha, hari ini pakai mobil kamu, ya? Kuncinya ada di tas, 'kan?"

Prisha menoleh, menatap Galih dengan pandangan bertanya. Lantas berkata, "Tumben."

"Mobilku di Mas Harun."

"Oh."

"Nanti sore nggak bisa pulang bareng. Maaf, ya."

"Kenapa?"

"Aku ada shooting, kayaknya bakal lama. Jadi, kamu pulang duluan aja." Galih tersenyum kecil. "Makanya aku suruh bawa mobil."

"Biasanya juga minta ditungguin walaupun lama."

Mendengar itu, Galih terdiam.

Ting!

Suara lift berdenting bagaikan penyelamat bagi Galih. Karena, lelaki itu bingung harus mengatakan apa pada Prisha.

Dia sangat ingin membawa Prisha seperti biasanya, mengenalkan gadis itu ke semua orang meski tidak jelas statusnya sebagai siapa. Namun, hari ini adalah jadwal syutingnya bersama Kiara. Galih tidak bisa membawa gadis favorite-nya ke hadapan Kiara.

Atau, masalah besar akan muncul.

Galih kenal betul dengan Kiara. Gadis itu diam-diam menghanyutkan. Citra baiknya sungguh berbeda dengan aslinya.

Saat mereka sudah berada di dalam mobil, Prisha menyodorkan kuncinya pada Galih karena lelaki itu yang ingin menyetir. Kemudian, ia bertanya, "Shooting apa sih, Kak, hari ini?"

"Jadi bintang tamu di acara talkshow, Sha. Sekalian promo film," sahutnya sambil mulai melajukan mobil untuk keluar dari kawasan apartment itu.

"Lah? Itu mah bentar, lama dari mana coba?"

"Ya ... nanti, kan, ada briefing dulu. Makanya lama."

Prisha kenal Galih. Dia bisa membaca gelagat aneh dari lelaki itu.

Namun, Prisha lebih memilih untuk pura-pura tidak tahu saja. Gadis itu sadar diri untuk tidak harus tahu seluruh urusan hidup Galih.

***

Pada jam istirahat, kantin fakultas ekonomi sudah seperti lautan manusia. Bukan hanya mahasiswa fakultas sana saja yang mengunjunginya, nyatanya banyak mahasiswa fakultas lain juga yang datang.

Satu orang yang Prisha kenal, Mia. Pacar kakak tingkatnya itu memang sering sekali datang ke kantin fakultas mereka.

Memang sih makanan di kantin fakultas ekonomi lumayan terkenal enaknya daripada kantin fakultas lainnya yang ada di kampus tersebut.

"Kita makan di gazebo aja." Galih berjalan mendahului Prisha, Kaila, dan Dilan menuju gazebo yang ada di dekat kantin. Mereka masing-masing membawa nampan yang berisi makanan yang sudah dipesan. Kecuali Prisha, dia tidak membawa nampan karena Galih memaksa membawakan miliknya.

Gazebo itu memiliki meja di tengahnya. Memang multifungsi, bisa digunakan untuk menulis ataupun makan seperti yang akan mereka lakukan.

Saat mereka sudah mendaratkan pantat, Galih menyodorkan semangkuk bakso pada Prisha. "Punya kamu."

First Love (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang