First Love | BAB 27

29.5K 2K 25
                                        

"Udah boleh jemput Prisha belum, Bun?"

"Emangnya udah yakin?"

"Yakin banget."

"Perasaan kamu?"

"Tetap sama walaupun kita nggak kontak selama dua tahun. Udah jarak jauh juga sejak hampir tujuh tahun yang lalu."

"Bener?"

"Iya, Bunda. Buktinya, Galih nggak ada dekat sama perempuan manapun, 'kan?" ujarnya. "Prisha juga udah lebih dewasa."

"Kata siapa?"

"Kan, Galih selalu nanya perkembangan Prisha dari Bunda."

Mendengar itu, Edrea tersenyum. Dalam hatinya membenarkan ucapan Galih.

"Jadi, boleh jemput Prisha, Bun?" Galih mengulangi pertanyaannya dengan nada tidak sabar.

Sejenak, Edrea diam.

"Perasaan kamu sama Prisha bukan hanya sekedar perasaan sayang seorang kakak ke adiknya?"

"Bunda udah kasih Galih waktu dua tahun untuk bisa membedakan keduanya. Dan, sekarang Galih udah tau bedanya. Galih bukan cuma mau melindungi Prisha sebelum dia menikah dengan orang lain, karena sejujurnya Galih memang nggak suka dia dekat sama lelaki lain, tapi Galih mau melindungi Prisha seumur hidup Galih dan mengikat dia dengan status yang jelas. Sah secara hukum dan agama."

Perkataan Galih membuat Edrea terharu bukan main. Matanya sempat berkaca-kaca mendengar kalimat yang keluar dari mulut lelaki yang sudah dianggapnya anak itu.

Edrea sebenarnya senang karena tahu kalau Galih lah laki-laki yang mencintai anaknya. Edrea tahu watak Galih luar dan dalam, dia tahu perasaannya tulus terhadap Prisha.

Akhirnya Edrea menghela napas pelan. "Oke, kamu boleh jemput Prisha sekarang."

"Beneran, Bun?!"

Mengangguk, hanya itu jawaban yang bisa Edrea kasih karena tidak ingin suara serak hampir menangis itu terdengar oleh Galih.

Galih sendiri langsung berdiri dari duduknya, lantas memeluk Edrea kencang sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih.

Setelah pembicaraannya dengan Edrea selesai, Galih berlalu dari ruang tamu rumah Prisha dan segera kembali ke rumahnya untuk packing agar bisa secepatnya menjemput gadis favorite-nya di kota perantauan.

Galih tersenyum meningat pembicaraannya dengan Edrea kemarin. Lelaki itu melangkah dengan yakin menuju pintu kedatangan Bandar Udara Silampari. Dia telah sampai di kota yang ditinggali Prisha dua tahun terakhir ini setelah melakukan penerbangan selama tiga puluh menit.

Tidak ada yang menatap penasaran padanya di sini. Mungkin, mereka tidak ingin berekspektasi tinggi jika ada aktor terkenal yang datang ke kota kecil ini. Namun, Galih menyukainya, dia suka saat orang terkesan tidak ingin ikut campur soal kehidupannya.

Karena ingin cepat bertemu dengan gadisnya, Galih langsung menuju ke tempat taksi-taksi yang menunggu di depan bandara. Ia masuk ke salah satunya dan menyebutkan alamat rumah kontrakan Prisha yang sudah diketahuinya dari Edrea.

Sesampainya di sana, rumah berlantai satu dengan berbagai macam bunga di terasnya itu nampak sepi walaupun mobil Prisha terparkir di carport. Galih tebak, Prisha belum pulang dari tempat kerjanya karena Edrea sering cerita kalau gadis itu selalu menggunakan motornya kalau bekerja.

Galih memutuskan menunggu di depan pagar.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara motor mendekat. Saat Galih menoleh, ia mendapati Prisha memarkirkan motornya di hadapannya.

First Love (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang