First Love | BAB 26

28.1K 2K 13
                                        

Setelah kepulangannya ke Palembang, kegiatan yang Prisha lakukan hanya belajar sepanjang hari. Dia juga dimasukkan ke salah satu bimbingan belajar yang cukup punya nama di Palembang agar bisa menghadapi ujian masuk kuliah dengan baik.

Selain ikut bimbingan belajar, orang tua Prisha juga memanggilkan guru private ke rumah untuk mengajar dirinya.

Semua itu dilakukan karena Prisha tidak yakin bisa lulus dengan pilihannya kali ini mengingat yang ia pilih adalah jurusan matematika dan matematika itu sendiri merupakan musuh terbesarnya.

Berbeda sekali dengan saat mengambil kuliah jurusan manajemen bisnis di Jakarta, Prisha hanya perlu menghapal materi karena tes jurusan itu dengan kemampuan soshum.

Tujuan Prisha mengambil jurusan matematika juga karena ingin melawan kelemahannya, selain karena dibujuk oleh Yudhsitira agar ia jadi adik tingkat lelaki itu. Intinya, Prisha tidak ingin jadi gadis lemah seperti sebelumnya lagi.

Dan, benar saja, usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Prisha diterima di jurusan matematika fakultas MIPA, Universitas Sriwijaya.

Universitas Sriwijaya terbagi menjadi dua kampus dengan kampus Indralaya yang merupakan kampus terbesar di Asia Tenggara karena luasnya mencapai 700 hektar lebih. Fakultas MIPA itu sendiri tidak berada di kampus Palembang, melainkan ada di kampus Indralaya.

Masa-masa kuliah Prisha di sana menjadi sebuah tantangan tersendiri karena setiap hari ia harus pulang-pergi Palembang dan Indralaya yang memakan waktu hampir satu jam perjalanan. Plus, menggunakan bus antar kota karena tidak worth it jika membawa mobil setiap hari.

Galih lumayan sering mengantar gadis itu ke kampus jika sedang di Palembang. Lelaki tersebut menepati janjinya untuk sering ke Palembang.

Jika sedang tidak ada Galih, Prisha tetap tidak pernah sendiri. Setiap pagi, ia akan janjian dengan Yudhistira di halte yang ada di kampus Palembang untuk berangkat ke Indralaya bersama sekaligus menunggu bus bersama.

Namun, karena Yudhistira masuk setahun lebih dulu dan lulus lebih dulu, memasuki tahun keempat Prisha mulai sendirian. Apalagi kebanyakan temannya ngekos di dekat kampus Indralaya sana.

Hal itu juga yang membuat gadis itu memeliki tekad agar lebih cepat lulus. Di tiga tahun setengah, akhirnya Prisha berhasil menyandang gelar S.Si.

Setelah kuliahnya selesai, Prisha memilih merantau ke salah satu kota kecil yang ada di Sumatera Selatan, yaitu Kota Lubuklinggau. Di sana, Prisha mengirim lamaran kerja menjadi guru matematika ke beberapa sekolah swasta.

Dari beberapa lamaran itu, ia diterima di salah satunya karena tempat lain sudah penuh dengan guru matematika. Sekolah tempat Prisha mengajar adalah salah satu sekolah menengah pertama yang terkenal kalau muridnya nakal-nakal.

Dua tahun bekerja di sana, Prisha belajar banyak hal. Dia belajar mengatasi berbagai macam karakter murid sambil mendewasakan diri.

Ya ... di sinilah ia sekarang. Berdiri di depan puluhan murid yang sedang menantinya membuka suara tentang materi yang akan diajarkan hari ini.

"Bu Prisha, hari ini belajar apa?" celetuk salah satu murid lelaki.

Prisha tersenyum, lalu balas bertanya, "Kalian mau belajar apa?"

"Belajar mencintaimu! Eaaakkk," balasnya.

Seketika suasana kelas delapan ini ricuh. Bukan hal baru melihat mereka seperti ini.

First Love (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang