Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"SATYA PRADIPTA JANGAN GANGGU BISA GAK?!"
Teriakan Jake membuat Satya tersentak kaget, biasanya jika digoda Jake hanya akan bergumam kesal.
"Kamu kenapa?" Satya bertanya khawatir.
Jake yang masih berkutat dengan tumpukan buku-buku persiapan ujian akhir dan tes masuk Perguruan Tinggi menghela napas kasar, "kamu kalau gak bisa tenang mending pergi aja, bikin tambah pusing tau gak?!"
"Kamu kenapa marah-marah?! Ngomong kalau aku punya salah. Emang kalau kamu tiba-tiba marah gini aku tau salahku dimana, hah?!" Satya, untuk pertama kalinya menaikkan suara kepada Jake.
Jake hanya diam, walau dirinya sedikit takut karena Satya tak pernah membentaknya sebelum ini.
Keduanya mungkin tak sadar kelakuan mereka menarik perhatian pengunjung kafe belajar yang lain. Begitu sadar bahwa mereka jadi bahan tontonan, Satya memutuskan untuk pergi saja.
Satya berdecih sebelum dengan kasar memasukkan buku-bukunya ke tas, menyampirkan ke bahunya. Lalu beranjak berdiri, sebelum itu ia masih sempat berujar, "kontrol emosimu, kalau ke aku mungkin gapapa. Tapi beberapa orang gak bakal ngetoleren hal yang kayak gini, aku pulang duluan, kamu hati-hati pulangnya."
Setelahnya Satya berlalu meninggalkan Jake di meja yang mereka tempat seorang diri.
Manik Jake mengikuti kepergian Satya hingga menghilang di balik pintu kafe. Jake membenturkan kepalanya ke atas meja, seakan tidak cukup, ia juga memukul kepalanya bertubi-tubi dengan keras, menyesali sikapnya yang kekanakan.
Kelas 12, saat di mana stress dan rasa putus asa nyaris semua siswa benar-benar berada di ujung batas.
Jake mengira begitu ia lepas dari jabatan ketua MPK ia akan lebih tenang. Nyatanya beban menjadi siswa tahun terakhir lebih berat lagi, ulangan nyaris tiap hari, tugas-tugas, les, pengulangan materi dan sebagainya membuat kepalanya terus berdenyut. Belum lagi harapan orang tuanya agar ia bisa masuk universitas terbaik di Rasendriya.
Tidak, orang tua Jake bukan tipe pemaksa. Tapi kepribadian Jake yang selalu memaksakan dirinya untuk menjadi sempurna lah penyebabnya.
Karena tekanan dan beban serta ambisi berlaru Jake sering kali kehilangan kontrol akan emosinya, dan kali ini dia bahkan melampiaskan emosinya pada kekasihnya dengan melontarkan kalimat yang menyakitkan.
Jake mengerang lirih sebelum mengusap wajahnya kasar. Moodnya yang sedang tak stabil akhir-akhir ini saja sudah membuat Jake temperament, ditambah hari ini ulangan formatif pelajaran kimianya berjalan tak sesuai keinginan. Ia rasanya ingin marah saja, tapi tak tahu harus kesiapa, berakhir Satya menjadi sasarannya.
Jake menatap buku dihadapannya lagi, mencoba berkonsentrasi tapi masih gagal. Pikirannya malah terbang memikirkan semarah Satya padanya. Apakah Satya menyesal berpacaran dengannya? Apa Satya kecewa karena Jake merupakan orang yang temperamental? Dan pertanyaan lain yang datang bertubi-tubi membuat Jake khawatir.