19. Destiny That Ruins Life

2.1K 286 44
                                        

Flashback—

Malam hari dengan suasana sunyi di rumah sederhana milik mendiang kedua orangtuanya, Kim Youra tampak sedang melipat pakaian di dalam kamarnya dengan raut wajah yang terlihat begitu kelelahan. Pandangan matanya benar-benar kosong, sulit menahan diri untuk tidak meratapi hidupnya yang semakin hari terlihat semakin menyedihkan.

Salah satu tangannya sejenak terangkat perlahan untuk menyentuh tulang pipinya yang tampak membiru setelah terbentur pinggiran anak tangga ketika sang ibu tiri dengan tega mendorong tubuhnya sekuat mungkin begitu berhasil melayangkan satu tamparan keras di pipi kiri Youra hanya karena ia mengambil bingkisan roti untuk diberikan kepada ibu tua yang terlihat begitu kelaparan.

Gadis itu sesaat meringis walaupun hanya menyentuh pelan luka lebam di pipinya. Akan tetapi, ketika mendengar pintu kamarnya yang terbuka perlahan, lantas Youra pun mengalihkan pandangannya ke arah pintu sebelum berakhir mematri senyum kecil begitu melihat kehadiran adik tiri yang sangat disayanginya melangkah pelan memasuki kamarnya.

"Ada apa? Kenapa kemari?"

Aerra melemparkan tatapan sedikit sedih melihat Youra yang masih saja bisa tersenyum kendati wajahnya tengah terluka sekali pun."Aku hanya ingin mengobati lukamu."

"Aku sudah mengobatinya. Tidak perlu khawatir." Ujar Youra masih dengan senyum kecil yang menghiasi wajahnya.

"Kau tidak bisa membohongiku, Eonni. Seharian ini aku hanya melihatmu bekerja membersihkan rumah, sehingga tidak sempat mengobati lukamu. Aku bahkan merasa tidak berguna menjadi seorang adik karena tidak bisa membantumu."

Youra lekas menggeleng kecil."Tidak. Jangan merasa seperti itu. Kau akan selamanya menjadi adikku yang paling terbaik."

Aerra sesaat menghela nafas pelan untuk kemudian kembali melangkah dan mendudukkan dirinya di lantai yang beralaskan karpet tipis di samping tempat tidur Youra. Gadis muda itu tampak meletakkan baskom berisi beberapa balok es yang ia bawa bersama dengan handuk kecil guna mengompres luka memar yang berada di pipi Youra.

"Ibu akan marah jika dia tahu kau berada disini." Ujar Youra dengan suara lembutnya ketika sang adik tengah sibuk mengompres lukanya.

"Tidak. Ibu sudah tidur. Dia mendadak kelelahan tadi sehabis makan malam dan langsung beristirahat ke kamar." Sela Aerra masih sibuk dengan handuk berisi balok es kecil ditangannya.

"Bagaimana dengan Yoona Eonni? Apakah dia juga sudah tidur?"

"Yoona Eonni baru saja pergi dengan kekasihnya untuk berkencan." Jawab Aerra dengan tenang, sementara Youra tampak kembali terdiam setelah menghentikan aktivitas melipat kain miliknya.

"Apakah lukanya tidak sakit? Kenapa Eonni hanya terdiam disaat aku menekan-nekannya seperti ini?"

Youra lantas menggeleng kecil dengan senyum yang kembali terpatri."Lukanya sama sekali tidak sakit kok."

"Jika Eonni sedang berusaha untuk tidak membuatku khawatir, maka usaha Eonni hanya berakhir sia-sia saja. Wajah Eonni bahkan terlihat sedang menahan rasa sakitnya."

"Aku sudah terbiasa dengan luka seperti ini, Aerra-ya."

"Maafkan aku. Aku sungguh menyayangi Eonni. Aku berjanji akan selalu berada disisimu disaat kau sedang bahagia maupun sedih sekali pun."

"Eonni juga menyayangimu."

Setelah selesai mengompres luka lebam di wajah sang kakak, keduanya pun lekas berpelukan, menyalurkan rasa kasih sayang satu sama lain dengan air mata yang terlihat menggenang di pelupuk mata Aerra. Gadis bermarga Bae itu seolah turut merasakan rasa sakit yang sedang di derita sang kakak. Sehingga membuatnya sulit untuk tidak menangis ketika mengingat kembali segala perlakuan kejam sang ibu pada kakak tiri yang sudah ia anggap sebagai saudara kandungnya tersebut.

AppealTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang