15

3.8K 523 45
                                    

Masih mengenakan mukena, di dalam mushola berdua dengan mas Danar, hingga mama dan om Panji tiba di rumah, membuat kami berdua akhirnya mengakhiri diskusi yang berisi pertengkaran, lebih tepatnya unek-unek yang berisi caci makianku untuk mas Danar.

"Wah pengantin baru di mushola saja berduaan"

Suara om Panji atau papa mertuaku yang menggoda kami, tentunya kujawab dengan tawa, padahal aku baru saja menangis saat mencaci maki sang putra

"Ma, Eca ke kamar dulu"

Tak mungkin ku tunjukan jika aku baru saja menangis di depan kedua mertuaku, segera aku menuju kamar milik mas Danar yang saat ini aku juga harus tinggal di dalamnya.

"Ca, mas keluar bentar"

Pamit mas Danar setelah beberapa menit kami masuk kedalam kamar, dan mas Danar membuka ponselnya.

Memang saat aku baru saja masuk kedalam kamar ponsel miliknya berdering, dan aku sempat melihat siapa yang menghubunginya, dan  sekarang dapat kupastikan dia keluar menemui seseorang yang tadi menelponnya, tak ingat apa yang di katakan beberapa menit yang lalu saat kami di mushola.

Tak kujawab pamitannya, karena bagiku itu bukan menjadi urusanku, ketika dia menemui sang kekasih yang mana jika dosa itu pilihan yang dia mau.

Makan malam pertama di rumah om Panji dengan status menantu beliau, tanpa adanya sang suami yang menemani makan bersama keluarga, beruntungnya sejak kecil aku sudah menjadi putri beliau, sehingga jika ini aku baru saja mengenal mereka kupastikan tak akan bisa menelan makanan yang di hidangkan mama.

"Danar kemana tadi Ca?"

"Eca enggak tahu Om"

"Papa Ca sekarang, Om Om terus"

Tawa papa dan diriku akan protes mama membuat ku teralihkan dari membayangkan pertemuan mas Danar dengan sang kekasih di luar sana.

Mungkin saja mas Danar belum mengenal sepenuhnya diriku, aku memang diam tak suka mencampuri urusan orang lain, berbeda dengan saudari kembarku, akan tetapi ketika seseorang sudah memberiku tekanan yang tak bisa lagi kuterima, aku akan membalas itu semua lebih dari kekejaman mereka, bukankah aku ini adalah putri dari bunda Sachi.

Selesai makan kubantu mama dengan mencuci piring seperti biasanya ketika aku makan dirumah ini, dan setelahnya aku kembali ke kamar, mempersiapkan tugas-tugasku karena esok hari sudah mulai masuk kuliah kembali.

Rasa gelisah yang tak kutahu darimana asalanya dan alasannya, memikirkan keberadaan mas Danar untuk pertama kalinya, mungkin jika biasanya aku akan bodoh amat akan dirinya di luar sana tapi malam ini entah kenapa begitu menghantui pikiranku.

Hingga di pukul sepuluh malam sebuah story intagram dari mbak Rima telah memberikan jawaban padaku jika saat ini mereka berdua sedang makan bersama yang mana sebelumnya mereka berdua telah menonton film di bioskop.

"Dasar mulut manusia, gitu takut dosa katanya"

"Buaya kordes"

"Kampret memang si Danar"

Mengomel sendiri di dalam kamar dengan bermain ponsel, memaki seseorang yang tak ada di depanku.

Segera aku berjalan keluar kamar, terlihat papa masih menonton televisi sedangkan mama telah masuk kamar mungkin sudah beristirahat.

"Ca, mas Danar dimana sekarang?"

"Masih sama temannya Pa"

"Papa ngantuk, nanti kamu bukain pintunya ya"

"Iya Pa"

Aku tahu apa yang harus kulakukan, Papa memberikanku jalan untuk membalas sang putra.

Ketika papa sudah masuk kamar, dan aku yang berpura-pura menunggu mas Danar di depan televisi, segera bangkit untuk mematikan semua lampu dan mengganti dengan lampu yang lebih redup, mengunci gerbang maupun pintu, dan dapat kuapastikan tak akan ada maling yang bisa mengetuk pintu, di tambah dengan colokan bel pintu telah ku cabut.

Rencana akan tidur pulas ternyata tak bisa kulakukan, hingga satu jam aku di atas ranjang mata masih terbuka lebar, pikiranku akan seandainya-seandainya begitu memenuhi otaku, hingga kemudian terlihat ponselku menyala, karena dalam mode diam sehingga tak akan bersuara, dan gedoran gerbang depan pun terdengar nyaring.

Aku keluar untuk mengintip apa yang terjadi di luar, dan di menit kemudian aku bisa melihat jika dokter gigi itu telah memanjat pagar, dan kulihat kini telah pukul dua belas.

Aku segera masuk kedalam kamar ketika mas Danar berhasil masuk kedalam halaman rumah, karena dapat kupastikan setelah ini dirinya akan mengetuk pintu rumah atau menggedornya.

"Semoga mama sama papa enggak dengar"

Entah sampai pukul berapa mas Danar mengetuk pintu, tetapi dapat kupastikan jika kami semua penghuni rumah sedang berada di dalam kamar apalagi sedang tidur nyenyak karena kecapekan, pastinya tak akan mendengar suara dari luar rumah.

Rasa iba, kasihan akan seseorang seperti biasanya segera ku bujuk dengan mengingat perilaku buruk mas Danar, sehingga aku bisa menahan untuk tetap berada di dalam kamar dan tak akan membuka pintu rumah.

Dan itu benar terjadi aku berhasil untuk tak membukakan pintu, lebih tepatnya kau tertidur pulas hingga pagi hari, disaat subuh sudah hampir berganti dhuha.

Tetapi disaat aku membuka mata betapa terkejutnya aku, mas Danar ternyata sudah tidur mendengkur di sampingku.

Sementara kuabaikan rasa penasaranku, segera bangkit dari ranjang untuk membersihkan badan dan menunaikan sholat wajib dua rakaat.

Seusai sholat, kulangkahkan kakiku menuju dapur terlihat mama sudah sibuk memasak untuk sarapan bersama sang asisten rumah tangganya.

Seperti biasanya ketika menginap di rumah mama Galuh, membantu mencuci piring atau sekedar memotong sayur dan menggoreng tempe, kali ini pun kulakukan ketika berstatus sebagai menantu beliau.

"Ca, semalam mas Danar pulang kamu enggak dengar ya?"

Pertanyaan pembuka mama ketika aku sudah mulai mengambil alih untuk menggoreng tempe, dan tentunya sedikit membuatku kaget ketika ekspresi mama terlihat tak bersahabat.

"Eca ketiduran Ma"

"Dia enggak kabari kamu pulang jam berapa gitu?"

"Enggak Ma"

"Biar saja, biar kapok sudah nikah juga masih keluyuran malam, enggak kasih kabar, dikira orang rumah mau nungguin pintu buat dia"

Sedikit lega ketika mendengar omelan mama kepada mas Danar, yang berarti mama marah kepada sang putra bukan kepadaku.

"Mama tuh jadi penasaran dia nongkrong sama siapa, biasanya dia pamit keluar itu ke apartemen kamu atau makan sama kamu atau antarin kamu keman gitu, lah ini kamu di rumah kok ya masih keluar malam"

Omelan mama masih berlanjut, dan akhirnya aku tahu jadi selama ini mas Danar membuatku menjadikan alasannya untuk keluar rumah di malam hari, meskipun sering kami keluar tapi tidak sampai selarut malam seperti mas Danar semalam.

"Ketemu pacarnya kali Ma"

"Hustt , sudah menikah kok punya pacar"

"Kan istrinya cewek, ya siapa tahu pacarnya cowok"

Jawabku bercanda karena mulutku yang tak bisa mengerem apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan mama yang mendengar jawabanku ikut terkekeh bersama dengan sang asisten.

Hingga di saat Papa sarapan dan aku pun ikut sarapan mas Danar tak juga terlihat bangun dari tidurnya, padahal kutahu jika dirinya harus bekerja pagi ini.

"Biarin Ca, enggak usah di bangunin mas mu, biar ngerti tanggung jawab"

Di saat aku akan beranjak menuju kamar ternyata papa menyadari jika aku ingin membangunkan sang putra.

"Beruntungnya gue, punya mertua yang berada di kubuku semuanya, tapi tidak dengan suami gue tak seberuntung Eci"

Setelah papa berangkat dan aku pun bersiap untuk ke kampus, mas Danar yang ku kira masih tertidur pulas, akhirnya akupun berganti pakaian di dalam kamar.

Tetapi semua itu membuatku menjerit kaget ketika aku baru saja memakai kemejaku dan mengancingkan satu kancing teratas siulan mas Danar benar-benar mengagetkanku.

"Suit-suit"

"Masss, kamu ngintip ya"

"Enggak ngintip cuma lihat saja"






Tbc

Jodoh Dentist (Tersedia Lengkap Di Ebook)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang