Semalam mas Danar menginap di salah satu hotel dekat dengan daerah rumah, menggunakan mobil milik bunda yang biasa kugunakan pergi kerumah sakit. Semalam setelah menghabiskan mie satu mangkok dengan di temani air mata yang bercucuran, mas Danar masuk kedalam kamar mandi di samping dapur, begitu lama di dalam kamar mandi hingga mie milikku tandas, bahkan aku pun telah selesai mencuci mangkok kotor.
Tetapi saat ingin ku ketuk pintu kamar mandi karena khawatir mas Danar yang kenapa napa, pintu kamar mandi terbuka lebih dulu, dan saat pandangan kami bertemu, dan lagi-lagi aku belum sempat menanyakan keadaan mas Danar, dirinya lebih dulu menghambur memelukku, kembali menangis dan hanya mengucapkan kata maaf tak lagi kata lain dari mulutnya selain suara tangisannya.
Berdamai dengan masa lalu bukan berarti melupakan semua kenangan, hanya saja aku memilah apa yang harus kuingat, mengingat akan kebaikan mas Danar selama ini kepadaku, bagaimanapun sejak kecil kami telah bersama, tumbuh dalam satu keluarga besar bersama-sama, mencoba mengawali kehidupan bersama mas Danar, sebagai adik yang dari dulu selalu dimanjakannya.
Mas Danar pagi ini kembali kerumah, untuk mengajakku keluar, yang katanya ingin membelikan mama Galuh sesuatu sebagai kado ulang tahun pernikahan, lagi-lagi membahas hal pernikahan, sedikit hatiku berdebar, seakan ada rasa trauma di dalamnya.
Mobilku yang sejak semalam dibawanya telah berbelok kearea halaman rumah, dan pagi ini sudah ada bang Saka sekeluarga yang mana setiap hari minggu selalu berkunjung kerumah.
"Ngapain Danar kesini?"
"Abi"
Gumanan bang Saka segera mendapatkan peringatan dari sang isteri, ketika mobil terparkir dan dari jendela rumah terlihat sosok yang mengendarainya turun.
Salam Mas Danar terdengar dan diikuti sang empu masuk kedalam rumah, menuju ketempat kami sedang berkumpul.
"Danar, sudah makan?"
Bunda lebih dulu menyapa mas Danar di saat dirinya menyalami bang Saka dan Kak Ais.
"Sudah bund, tadi sarapan di hotel"
"Sendiri aja, bini lu mana?"
Dengan senyuman pahit mas Danar menjawab pertanyaan bang Saka, padahal aku juga ingin tahu kenapa mas Danar hanya seorang diri kesini tak bersama mbak Rima.
Mas Danar menghampiri bunda untuk mencium tangan, kemudian berlanjut keluar rumah melalui pintu samping yang mengarah ke taman belakang dimana ayah yang menunggui si kembar bermain.
"Mau jalan ya kalian?"
"Iya mau beliin kado buat mama"
"Di Jogja kayak enggak ada toko aja"
Bang Saka belum bisa melupakan kesalah pahaman masa lalu, masih ada kebencian dan dendam kepada mas Danar, mungkin juga termasuk ungkapan sayang seorang kakak kepada adiknya yaitu diriku.
"Abi sewot banget sih"
"Bukan gitu ummi, masih sakit hati abi tuh sama tuh bocah"
"Kan dulu udah abi tonjok, ya udah lah sabar, dek Eca juga sudah move on, ikhlas, Allah itu membenci orang yang mendendam"
Aku tertawa mendengar bang Saka yang mendapatkan ceramah dari sang istri, maklum bang Saka adalah berondong kak Ais, jadi sifat mereka memang sedikit jomplang.
"Ketawa aja lu, gue itu belain lu dodol"
"Iye, makasih abang sayang"
Kupeluk bang Saka dan pura-pura ingin mencium pipinya, tentu saja bang Saka menghindar.
"Ih minggir"
Teriak heboh bang Saka dan memeluk sang istri untuk menghindari kecupanku.
"Ini tua-tua pada ngapain sih?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Jodoh Dentist (Tersedia Lengkap Di Ebook)
RomanceMenikah dengan seseorang yang sejak kecil sudah mengenal diri kita, keluarga besar bahkan mengetahui hal-hal buruk yang kita simpan, bukan lah hal mudah jika pernikahan itu hasil perjodohan yang dipaksakan. Berawal pernikahan yang diharapakan untuk...