Bab 7 — Hafsah yang usil
***
"Eh, entar ngerjain tugas di rumahnya Maryam, ya? Habis ini kita langsung berangkat aja."
"Oke."
"Kenapa harus di rumah gue, gak di rumah lo aja yang gede?" tanya Maryam kelihatan bingung membuatku mendongak menatap obrolan tiga orang yang satu kelompok denganku.
Sebenarnya sejak awal dibentuknya kelompok, kami sudah menyetujui akan mengerjakan tugas setiap pulang sekolah, jika belum selesai. Satu kelompok dengan anak-anak rajin, sadar tidak sadar bisa memengaruhiku menjadi tambah rajin. Seolah tidak ada istilah buang-buang waktu bagi Ijah dan Maryam.
"Kalau bisa selesai dengan cepat, kenapa harus nunggu tenggat waktu?"
"Emangnya kita tahu apa yang bakal terjadi ke depannya? Enggak, kan?"
Aku sempat tertampar dengan ucapan Maryam juga Ijah waktu itu. Waktu Ami mengeluh karena mereka terlalu ambisius, tapi aku suka melihat orang yang semangat mengerjakan tugas, meski diri ini lebih banyak malas.
"Jangan di rumah gue. Gue, tuh bosen kalau di rumah terus. Sekali-kali gue pengen main. Mumpung dibolehin."
Ami tersenyum riang kemudian ia memasukkan buku-buku ke dalam tas karena bel pulang sudah sejak tadi berbunyi.
Ijah yang juga sedang berkemas-kemas itupun segera menanggapi, "Yoi, tuh! Sekalian kita nostalgia."
"Hafsah dibolehin, kan? Udah izin?"
Di sela-sela perbicangan Ami dan Ijah, Maryam menanyaiku yang langsung aku jawab dengan anggukan. Setelah pertanyaan yang aku ajukan beberapa waktu lalu kepada Maryam, sikap gadis itu perlahan-lahan meleleh, tidak kaku seperti awal bertemu.
Lantas mereka bertiga beranjak dari duduknya, tapi tidak denganku yang masih sibuk mengecek kembali buku-buku yang belum aku masukkan ke dalam tas, takut jika ada yang ketinggalan.
Melihat mereka bertiga menungguku, aku pun berkata, "Kalian tunggu aja di parkiran. Nanti aku nyusul."
"Oke. Duluan, ya!" Ami berseru, kemudian kami saling bertukar salam. Mereka bertiga lalu pergi tanpa diriku.
Selesai semuanya, aku langsung mematri langkah keluar kelas sambil menggendong tas. Namun, tiba-tiba saja Daffa menghalangi jalan dengan berdiri merentangkan tangan di depan pintu.
"Minggir, Daf, aku mau lewat!" kesalku sambil memegang tali tas. Menatap tajam Daffa yang malah menyengir tanpa dosa. Aku terus berusaha mencari jalan, tapi secepat itu juga Daffa memblokir dengan badannya.
Daffa menggeleng tegas. "No, no, no. Gak bisa! Kecuali ...."
Cowok itu menggantungkan ucapannya membuatku semakin geram, sehingga suaraku meninggi. "Kecuali apa?!"
"Nanti malem kita jalan, gimana? Kalau lo mau, gue bukain jalan," tawar Daffa yang sama sekali tidak ada yang perlu diiyakan.
"Sinting kamu!" umpatku sambil menggesek hari telunjuk di keningku sendiri.
Spontan, terdengar tawa dari Amran dan Bian yang berada di belakang Daffa—mereka berdua berdiri agak mepet ke dinding dekat pintu.
"Sabar, Bos. Orang ganteng banyak cobaannya," tutur Bian terkekeh, menepuk pundak Daffa. Namun Daffa langsung menepisnya.
"Cewek berhijab biasanya emang jual mahal, Bos," bisik Amran tapi masih bisa kudengar. Aku mengepal geram melihat tingkah mereka.
Kembali pada Daffa yang refleks menghilangkan senyumnya dengan malas saat menatapku karena keputusanku yang tidak menyetujui tawarannya. "Yah ... kok gitu? Masa cowok seganteng gue ditolak?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Keep Halal, Sis!
Teen FictionIni hanya cerita tentang perjalanan Hafsah setelah kepindahannya ke Jakarta. Di sekolahnya yang baru, Hafsah juga bertemu dengan orang-orang baru. Ada Ami yang orangnya asyik. Ada Ijah yang supel dan pintar. Juga ada Maryam yang jutek tapi perhati...
