Bab 14 — Daffa baikan?
***
"Jadi, aku ngambil konsep warna hijau yang identik sama Islam gitu. Tapi, aku buatnya agak cerahan biar enak dipandang. Nah, di bagian yang kosong ini tinggal dikasih aja program kerja apa yang bakal kita lakuin di tahun ini."
Aku menerangkan sebisaku, mempresentasikan apa yang sudah kudesain dadakan setelah shalat tahajud tadi. Kemarin malam aku ketiduran karena terlalu banyak pikiran.
Kulihat Ijah, Ami, dan Maryam mengangguk dengan raut mengerti. Sekarang, kami sedang berada di kantin yang sepi karena kami sengaja datang pagi-pagi sekali. Aku bersemangat bisa ikut membantu dan berkontribusi bersama mereka.
"Gue boleh kasih saran, gak?" tanya Ijah kemudian. Dengan senang hati aku mengangguk dan mempersilakan dirinya untuk mengutarakan pendapatnya. Sebab aku sendiri merasa ada yang kurang.
"Coba diganti aja gambar kartunnya. Lebih baik gak pakai aja. Atau kalau mau pakai, sebaiknya dihilangin aja mata, hidung, bibir, jadi kek ... tinggal nyisahin wajah tanpa ekspresi gitu."
Oh, aku mengerti. Setelah Ijah menyelesaikan perkataannya, aku mengangguk paham. Kemudian aku mengedit kembali poster yang terdapat gambar manusia di laptop.
"Jadi mirip sama Maryam. Sama-sama datar."
Ami berkomentar sambil membandingkan temannya sendiri, dia menahan senyum geli melihat karakter kartun yang barusan aku hapus bagian wajahnya. Maryam yang duduk di sebelah Ijah hanya diam sambil menyoroti tajam kedua mata Ami.
Gadis yang duduk tepat di sebelah kiri itu langsung bungkam dan berlagak tidak mengatakan apa-apa. Aku geleng-geleng kepala kemudian fokus lagi mengedit.
"Hati-hati, entar lo pulang tinggal nama," kata Ijah membuatku merinding. Begitupula dengan Ami yang langsung memperingati dan menyuruh Ijah untuk diam.
"Hust!" Ami meletakkan telunjuknya di bibir.
"Has-hus, has-hus. Sering-sering mengingat kematian, biar kita sadar kalau hidup ada batasnya. Kematian datangnya pasti. Lebih pasti daripada datangnya jodoh."
Aku cukup tercengang dengan penuturan Ijah yang langsung ngena di hati. Aku termenung menelaah kata-kata tersebut sambil menyimpannya diingatan. Supaya aku selalu ingat dan tidak lupa.
Aku melihat Ami mendengkus sebal. Dia menopang wajahnya dengan satu tangan, dan tangan lainnya terlipat di meja. Aku pun sedikit tersentak saat Ijah memegang pundakku. Ternyata dia hanya mengingatkan agar segera menyelesaikan pekerjaanku.
"Ini, gue ada beberapa proker yang bisa jalan di tahun kemarin. Cantumin aja, yang itu. Kalau kurang kompleks, nanti kita pikirin bareng-bareng," ucap Maryam sambil menyodorkan buku catatan kecil kepadaku.
Aku mengambilnya sembari mengukir senyum dan berterima kasih. Maryam nampak sedang tersenyum tipis sebelum dia kembali sibuk melihat ponsel.
Setelah beberapa saat berkutat dengan laptop seraya ditemani ketiga sahabat di kanan-kiri, akhirnya selesai juga desainku. Aku menunjukkan hasil finalnya pada mereka. Alhamdullilah, mereka menyukainya.
***
Sedari tadi, entah mengapa mataku sibuk melirik ke arah meja Daffa yang harusnya berada di barisan ketiga tengah dari depan. Dikarenakan, setiap hari kami berpindah tempat, sehingga posisiku sekarang sudah berada di barisan kedua dekat pintu.
Ami masih di depanku, Ijah berada di samping mejaku, dan Maryam duduk di depannya Ijah. Aku membaca buku yang disuruh membuka bersamaan dengan guru yang menjelaskan di depan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Keep Halal, Sis!
Novela JuvenilIni hanya cerita tentang perjalanan Hafsah setelah kepindahannya ke Jakarta. Di sekolahnya yang baru, Hafsah juga bertemu dengan orang-orang baru. Ada Ami yang orangnya asyik. Ada Ijah yang supel dan pintar. Juga ada Maryam yang jutek tapi perhati...
