8

1.4K 150 1
                                        

Gemi langsung berbaring di kasurnya usai salat isya. Menonton drama yang biasa menjadi rutinitasnya selepas isya, kini tidak minat dilakukannya. Badannya benar-benar remuk bagai habis diinjak-injak kawanan badak.

"Halo, Jum... pie kabar e (pakabar), wes tepar tha (udah ko kah)? Lagi wae sedino wes koyok ngono (baru sehari dah kek gitu)." muncul Nakula yang baru tiba di rumah menyambangi adiknya dan mencemoohnya. Ia sengaja muncul untuk menggoda adiknya yang seperti sekarat itu.

"Mboh (au ah), rausah maedo (gak usah nyinyir)!" balasan keras Gemi. Ia sedang dalam mode 'senggol bacok'-nya.

Nakula terkikik geli, adiknya sungguh sasaran empuk untuk dipancing mengamuk.

"Kamu itu sebenarnya kerja apa, tho? Pulang-pulang kok kayak gini, kayak abis tempur di medan pertempuran." Nakula masih kepo dengan pekerjaan yang diambil Gemi. Pasalnya, adiknya itu masih merahasiakan darinya. Hanya Halimah yang tahu di rumah ini, tapi Halimah juga enggan membeberkannya.

"Kepo banget, sih, Kamu, Mas! Udah, pergi dari sini! Aku capek mau sleeping beauty." Gemi kukuh merahasiakannya.

"Kamu itu, sama Masnya sendiri pakek rahasia-rahasiaan segala. Gak seru!" hujat Nakula lalu pergi juga dari sana.

Gemi membuang napas pendek, lalu bangkit mengunci pintu kamarnya agar tidak diganggu lagi. Ketika akan berbaring, gawai di atas nakasnya menyala. Ada sebuah pesan masuk ke gawainya.

"Astagfirullah!" pekik Gemi saat membuka dan mengunduh gambar yang dikirim anak SMA tadi, si Jagat.

"Kenapa, Ndok?" Halimah yang ikut mendengar pekikan anaknya bertanya.

"Mboten enten nopo-nopo (tidak ada apa-apa), Buk. Iki lho (ini lho), Mo Tae Goo jahat tenan neng Paklik e (Mo Tae Goo jahat sekali ke pamannya)." dusta Gemi sekedar mencepatkan masalah.

"Healah, drama lagi! Ndang bobok (buruan bobok), jarene sambat kesel (katanya ngeluh capek)!" Halimah mudah saja percaya.

"Siap, Kanjeng Ibu!" Gemi iya saja biar cepat selesai.

Gemi cepat-cepat mengirim balasan untuk pengirim fotonya saat ketiduran di emperan tadi.

Hih, Kamu gak sopan banget sih ngefoto orang lagi tidur, hapus!

HAPUS POKOKNYA!!!

Gemi mebuangkan amarahnya lewat ketikkannya.

Tak lama kemudian datang balasan dari Jagat.

+62 812-1234-5678
🦍

Wani piroo???

Gemi bersungut-sungut tertahan, ia ingin mencak-mencak tapi takut dimarahi Halimah.

Kamu dah bosen hidup, huh?!!!!

😠😠😠

HAPUS!!!!

Gemi menuntut.

+62 812-1234-5678

G

Balasan super singkat itu membuat Gemi seakan-akan mau meledak detik itu juga. Kalau saja anak SMA itu ada di jangkauannya, sudah barang tentu Gemi akan mencabik-cabik anak itu.

Yo (ya), teros ne (lanjutkan), Le (Nak)! Teros no (lanjudkan)! Titeni wae (awas saja), karma pasti berlaku! Gemi bersumpah dalam batin yang membara-bara.

SARANGHAE, MBAK! [TAMAT] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang