E P I L O G

3K 145 90
                                        

Sebuah minibus abu-abu menepi ke pintu keberangkatan domestik dan menurunkan segerombolan orang di dalamnya sejam yang lalu. Gerombolan orang itu tidak lain adalah keluarga Suryo yang akan mengantar anak perempuan mereka pergi merantau ke tanah orang.

"Jaga diri dan jaga solatnya, ya. Hormati keluarga Pakdemu." pesan Halimah ketika Gemi mencium tangannya.

"Injeh, Kanjeng Ibuk." Gemi membalas dengan senyuman penuh. Mereka berpelukan erat dan saling tidak rela harus melepaskan pelukan tersebut.

"Bude, gantian, dong! Rara juga mau peluk Mbak Gemi." protes Rara rusuh-rusuh.

"Ngerusak momen Kamu ini!" komentar Halimah mau tidak mau mengalah, melepaskan Gemi pada keponakannya tersebut.

"Mbak Gem kenapa harus merantau, sih? Nanti yang ngabisin makananku siapa?" lontar Rara sontak mendapat cubitan dari Gemi di pinggulnya.

"Wedhus, sempat-sempatnya bilang gitu." balas Gemi.

Rara cengengesan, ia memeluk Gemi posesif.

"Suratnya udah Kamu kasih, kan, tho?" bisik Gemi.

"Udah. Tapi Aku ngerasa gak enak udah bohong soal keberangkatanmu, Mbak." terang Rara juga berbisik.

"Kemarin atau hari ini sama aja, Aku tetep berangkat juga pada akhirnya." tepis Gemi tidak mau sang adik sepupu meresa demikian.

"Emangnya Mbak sebenci itu, ya, sampek gak mau Jagat tau soal keberangkatanmu, Mbak?" telisik Rara.

"Mbak gak benci, Mbak hanya mau dia belajar mengikhlaskan yang sudah terjadi." perjelas Gemi apa adanya.

"Aku merasa ikut andil karena pernah nyumpahin kalian putus." Rara merutuki bibirnya yang asal ceplos, lupa bahwa ada kedua malaikat yang senantiasa membukukan prilakunya.

"Heleh, gak ada korelasinya! Memang sudah garisnya kami putus." ujar Gemi membantah.

"Heh, udah jam berapa ini? Cek in sana!" sela Nakula melerai paksa pelukan beruang kedua perempuan tersebut.

"Merusak suasana!" Rara mengerucutkan bibirnya sebal. Mau tidak mau pelukan itu diakhiri dan Gemi lekas menyalimi Nakula.

Tidak ada kata terucap, dua anak terakhir Suryo tersebut saling menampakkan ekspresi yang kontradiksi dengan perasaan mereka. Hatinya bilang sedih, tapi wajahnya mengajak gelut.

"Sudah, sana masuk!" Suryo mengingatkan.

Gemi mengangguk, mencium tangan sang bapak dan merengkuhnya sekilas. Gemi tidak mau semakin berat meninggalkan keluarganya jika terus-terus di sana.

Lambaian tangan dan senyuman yang agak dipaksakan mengiringi ayunan langka Gemi. Butir bening lolos mengiringi tapakan kakinya. Perempuan 28 tahun itu akan menginjakkan kaki ke tanah orang yang belum pernah ia pijaki dan menjajal hidup baru. Melupakan kisah asmaranya yang kandas 2 kali sembari menata hati.

Dek, di hubungan selanjutnya, jangan menjadi pelangi lagi. Jadilah hari-hari yang indah untuk pasanganmu.





Jagat termenung di halte depan sekolah menunggu jemputan. Ingatan siswa kelas 12 itu berputar mengingat hari pertama Gemi menjemputnya. Sudut bibirnya berkembang, drama lupa bawa STNK melintas.

"Ratu drama..." gumamnya disertai decihan kala mengingat banyak sekali drama saat bersama Gemi.

"Hei..." sebuah suara menginterupsi dunia Jagat, menarik penuh atensinya.

Mata Jagat membola, rahangnya jatuh seperti sedang bermimpi disiang bolong. "Mbak Gem?"

Sosok yang diyakini Jagat hanya ilusi itu mengangguk, bahkan mengambil tempat di sampingnya.

"Maaf untuk keputusanku hari itu." ujar sosok yang amat ia rindukan belakangan ini.

Tatapan Jagat masih menunjukkan tidak percaya atas perempuan yang pantas menjadi kakaknya tersebut. "Memang seharusnya begitu." sambungnya segera meyakini kehadiran Gemi.

"Makasih." Gemi menghadap ke samping serta mengucapkannya penuh senyum.

Demi apa pun, Jagat rindu senyuman itu. Senyuman sederhana yang berhasil merebut sebagian dunianya.

Jagat mengangguki, ia balas melempar senyuman.

"Oke, sekarang udah tuntas." cetus Gemi sambil menepuk kedua pahanya. Putri bungsu Suryo itu hampir berdiri, tapi dicegah dulu oleh Jagat.

"Kenapa, Dek?" tanyanya.

Jagat tidak menjawab, ia justru menarik Gemi ke dalam dekapannya. "Boleh gak kalo kita jadi teman baik meski kontrak selesai? Aku ngerasa gak ada alasan buat kita musuhan."

Gemi terkekeh pelan, kemudian melerai dekapan tersebut. "Gak ada alasan juga untuk nolak." tanggapnya, kemudian menjabat tangan Jagat.

Mereka saling berbalas senyuman, menyudahi semuanya dengan baik-baik tanpa harus menyisakan luka dan dendam. Kisah cinta 30 hari sesingkat pelangi itu akhirnya usai sudah. Mereka menyimpan rapi semua kenangan yang diukir bersama. Mengingatnya sebagai kado terindah dalam hidup mereka dan bersyukur akan hal itu.

"Jangan lupa solat, lho, ya!"

"Siaap, Mbak mantan! Mbak Gem juga jangan kebanyakan nonton drama, nanti halunya kebangetan."

"Wedhus Kowe!"











Bunyi klakson seketika mengambyarkan lamunan Jagat yang sudah mencapai awang-awang. Dewi menyembul dari jendela mobil yang dikendarainya.

"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?"

"Gapapa." singkat Jagat seraya bangkit memasuki mobil. Bocah SMA yang hampir lulus tinggal menghitung hari itu tetap pendiam seperti biasa, tidak mengacukan segala keingintahuan sang mama yang super kepo. Jagat memilih memandangi jendela yang meneruskan pandangannya ke deret bangunan sepanjang jalan. Berkelana jauh bersama angannya.









Mbak Gem, di mana pun Kamu berada, semoga pelangi yang kita lihat tetap sama indahnya.

T A M A T

T A M A T

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sekiranya sampai di sini dulu kisah ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sekiranya sampai di sini dulu kisah ini. Terima kasih atas segala bentuk partisipasi kalian semua. Sampai jumpa di karya selanjutnya, 👋👋👋...

SARANGHAE, MBAK! [TAMAT] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang