35

921 104 15
                                        

"Ini, Ma." Jagat menyerahkan selembar kertas beserta pulpen pada Dewi yang sedang bersantai di ruang tengah sambil minum teh bersama camilan.

Dewi menanyakan kertas apa itu seraya menyesap teh hangatnya. Jagat memberi petunjuk untuk membaca langsung.

"Kamu beneran buat ini?" Dewi tidak percaya atas kesungguhan anak semata wayangnya ini. Ia sampai tergelak singkat kala membaca isi surat pernyataan tersebut.

"Di sini Mama harus tanda tangan?" Dewi memastikan sebelum membubuhi tanda tangan. Tanda yang mengesahkan bahwa siapapun pacarnya sang anak, ia akan menerima.

Jagat memberi anggukan pasti tanpa banyak omong.

Dewi menandatangani, tak sedikitpun ada keraguan saat membubuhinya. "Berarti Kamu sekarang sudah punya pacar?" tanya Dewi lebih lanjut seraya menyerahkan kembali kertas dan pulpen tersebut ke Jagat.

"Masih usaha." jawabnya.

"Belum final berarti?" Dewi tergelitik ingin tahu lebih luas. "Emang, ceweknya seperti apa, sih, sampai susah didapetin? Jual mahal? Atau gimana?" rentetan pertanyaan ia sampaikan.

"Nanti Mama akan tau." Jagat pelit membeberkan. Tentu ia harus pelit jika tidak ingin benih cintanya layu sebelum berkembang. Ia mengayun kaki dari sana tanpa memberi keterangan lebih lanjut. Membikin Dewi gaduh menuntut penjelasan bak seorang wartawan gosip.

Maaf, Ma. Belum saatnya.

...

" ... Kamu nolak tawaran Pak Dirman untuk jadi sekertarisnya."

Gemi rasanya mau jantungan dengar Nakula bilang demikian. Punya kepentingan apa, sampai-sampai atasannya itu ikut menyumbang dalam proses pendamaian ia dan Nakula. Kesannya ikut campur.

"Mas berarti ketemu sama Pak Dirman?" Gemi penasaran akut tentang bagaimana semua ini bisa sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia. Oops, kelebihan.

Nakula mengangguk, "Kemarin Mas disuruh nganter laporan langsung ke Pak Dirman. Pas mau pulang, Pak Dirman nanya kenal sama Kamu atau enggak. Terus bilang itu." paparnya runtut.

Gemi menautkan kedua alisnya, mengurai benang-benang kusut yang menghubungkan semua perihal. Ruwet, Gemi tak bisa mengurainya. Bersikap masa bodoh jadi pilihannya saat ini. Terserah dengan motif atau modus atasannya itu.

Percakapan Nakula dan Gemi ditutup, Gemi tidak ingin tahu lebih atau apa pun mengenai atasannya. Ia pergi ke meja makan dan menyantap panganan yang dibelikan Nakula. Jarang-jarang Nakula mode dermawan padanya.

Selesai menyantap, Gemi kembali ke kamar dan mengecek hasil unduhan dramanya. Matanya sontak membelalak kala melihat layar laptop.

"Astagfirullah ... wes 96% kok yo ndadak gagal barang (udah 96% pakek gagal segala), tho ... tho..." rutuk Gemi jengkel lantaran unduhan dramanya tidak terunduh alias gagal. "Wedhus!" makinya tak tertahankan.

Gemi kesal bukan kepalang, sudah menunggu lama unduhannya malah gagal terunduh. Iapun menutup situs penelusuran dan mematikan laptopnya.

Gemi meraih gawai yang dianggurkan dari tadi. Tampak beberapa kali panggilan masuk dari Jagat dan beberapa pesan yang menanyakan ke mana dirinya. Ia ingin tidak mengacuhkan bocah SMA itu, tapi tiba-tiba Jagat melakukan panggilan bergambar dengannya. Terpaksa ia mengacuhkannya.

"Nelpan-nelpon!" Gemi mendengus pendek, lalu menggulir ke atas tombol biru.

"Loh, kok diganti panggilan suara, sih, Mbak?" Jagat langsung protes saat panggilannya diterima Gemi.

SARANGHAE, MBAK! [TAMAT] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang