29

927 102 4
                                        

Kamu pulang sendiri, ya. Mama sibuk dan Mbak Gemi sedang sakit.

Isi pesan dari Dewi nyaris saja membuat Jagat terkena hantaman bola yang datang padanya. Jagat masih di lapangan bermain sepak bola saat ia memeriksa gawainya dan membaca pesan tersebut.

"Woi, main bola bukan main HP!" Bima meneriaki Jagat yang hampir membuat gawang mereka kebobolan.

Jagat meringis, Bima berteriak tepat di kupingnya. "Gak usah teriak-teriak kenapa, sih!" balasnya.

Bima mesem lebar, "Aku mbok kacangin dari tadi." tuturnya.

Jagat mendecih, ia memasukkan gawainya ke saku celana. Ia memusatkan atensinya kembali ke permaian yang semakin panas.

"Am, oper!" Jagat berlari meminta umpan dari Amar yang sedang menggiring bola ke gawang lawan.

"Kak Jagat, Kak Amar semangattt..." para penggemar heboh menyemangati tim Jagat.

Permainan sepak bola itu terus berlangsung meski terik menyengat di atas ubun-ubun. Permainan mereka usai begitu bel masuk berdentang. Skor yang tercetak seri satu sama. Para pemain juga para penonton alias penggemar Jagat membubarkan diri. Kembali memasuki kelas masing-masing dan mengikuti pelajaran selanjutnya.

"Aku mau mandi dulu, izinin." pamit Jagat berpisah dengan Amar dan Bima.

"G gedi (caps lock)!" canda Amar disertai tawa gagah.

Kontan Jagat mengcungkan jari tengahnya seraya mengayunkan kaki ke arah berbeda. Dari kejauhan, tawa Amar dan Bima kompak meledak. Tapi Jagat tidak mengacuhkannya. Ia fokus melangkah sampai sebuah suara hampir membuatnya meloncat.

"Oi!" panggil seorang siswi tepat di balik dinding kelas. Seakan siswi itu memang sengaja berdiri di sana menunggu Jagat lewat dan hebatnya, tahu Jagat akan lewat.

Jagat mengelus dadanya yang hampir copot. "Kamu itu dah kayak hantu di situ, Nil! Bikin kaget orang aja." omel Jagat.

"Nal-nil, nal-nil, Aku bukan cenil!" gertak si siswi bikin jantung Jagat mau meloncat lagi.

"Cenil atau Nila hampir mirip, gitu aja diributin." balas Jagat. "Ngapain manggil-manggil Aku? Aku mau mandi, gerah." tanya Jagat tak ingin panjang lagi meributkan nama Nilakandi, nama si siswi tersebut.

"Kamu beneran macarin Amar?" Nilakandi juga langsung ke poin intinya menunggu Jagat lewat.

Mata Jagat sontak memicing, "Ngapain Kamu pingin tau? Gak denger gimana teriakan-teriakan para penggemarku tadi?" pertanyaan Nilakandi dibalas pernyataan balik oleh Jagat.

"Gak usah bumerang, tinggal jawab aja kenapa, sih!" si siswi Nilakandi naik pitam.

Nyali Jagat seketika menciut digertak macan sekolah yang sialnya, ia adalah mantan pacarnya Edo. Jagat pernah kena getahnya karena menutupi perselingkuhan Edo dengan gadis lain dan merasakan ganasnya amukan macan tersebut.

"Mending langsung Kamu tanya Amar aja. Toh, ucapanku gak bakal Kamu percaya." Jagat memilih jalan yang aman untuk menjawabnya. "Bener, kan? Bye!" Jagat cepat-cepat pergi dari sana sebelum dilahap macan sekolah tersebut.

"Woi, jangan lari Kamu!" teriak Nilakandi, tapi Jagat melakukan kebalikannya. Ia terbirit-birit menyelamatkan diri.

...

Gemi menyandarkan punggung dan kepalanya ke sofa. Kepalanya masih terasa berdenyut-denyut saat akan duduk.

"Kamu ngapain mampir segala? Nanti Bundamu tau, Aku yang dimarahin. Aku gak mau dituding macem-macem." ucap Gemi mengusir halus Langit dari rumahnya.

"Itu, kan, persepsimu. Lagian, Bunda sama Ayahku lagi keluar kota, Mbak sepupuku nikah." terang Langit secara halus menolak pulang.

Gemi memejamkan mata, ia lambaikan tangan ke kamera dan terserah mantannya itu saja.

"Kayaknya, Aku jadi dijodohin sama Bundaku, Gem." ungkap Langit seraya ikut menyandarkan punggung ke sofa. Ia tampak lesu saat menyampaikannya.

Gemi memelekkan matanya, melihat ke arah Langit dengan mata setengah menyipit.

"Lha terus?"

Langit bersedekap seraya memejamkan mata, "Aku takut gak sreg dan mainin perasaan anak orang." terangnya.

"Yaudah, ditolak aja. Terus terang ke Bundamu kalo gak sreg." saran Gemi enteng, ia kembali memejamkan mata.

"Itu dia masalahnya. Ditolak satu, Bunda nyodorin tiga. Susah." Langit mengeluh, ia menderu napas panjang nan kasar. "Kamu beneran gak sedikit pun pingin balik sama Aku, Gem?" tiba-tiba Langit mengulik pertanyaan itu-itu lagi.

Gemi merubah posisi menyamping ke arah lain, "Enggak." jawabnya singkat tanpa ragu.

"Kalo Aku masih berharap gimana, Gem?" Langit bangkit dari sandarannya.

"Hilangkan harapan itu." kini Gemi ikut menegakkan badan seraya membuka mata. "Bundamu sama sekali gak nyukain Aku, Lang. Mungkin Aku bisa nahan sakitnya, tapi Ibuk Bapakku?" Gemi mengambil jeda, ia menarik napas teratur. "Mereka pasti akan jauh lebih sakit ngeliat anaknya menderita. Dan Aku gak mau itu terjadi, Lang." tuturnya amat serius.

Langit tergeming, ucapan Gemi bisa dipahaminya dengan sangat baik. Meskipun, sulit untuk diterimanya. Langit dan Gemi saling berpandangan, diam sejenak dengan isi kepala sendiri-sendiri.

"Yaudah kalo gitu, Aku akan nunggu Kamu nemuin pria yang jauh lebih baik dari Aku. Setelah itu, baru Aku buat keputusan." putus Langit bikin dongkol hati Gemi.

"Lang..." Gemi memberi peringatan.

"Tolong ngertiin Aku juga, Gem. Sekali aja." kata Langit dengan tatapan memohon sangat.

Gemi mendesah pendek, ia memutar sejenak bola matanya ke arah lain.

"Melupakan itu gak secepat jatuh cinta, Kamu tau itu, kan? Aku..." Langit amat berat membahas hal ini. Sampai-sampai ia tidak kuat memandangi perempuan yang telah mengisi sebagian hatinya tersebut. Suasana terbangun serius dengan sendirinya entah kenapa. Menghilangkan kesan Langit yang sedianya jenaka dan jail.

"Bagaimana Aku bisa secepat kilat ngelupain setiap hari yang kita lewati, Gem? Saat kita temenan, jadi sahabat, PDKT, sampai akhirnya kita pacaran. Itu bukan proses yang ujug-ujug. Gim ... gimana bisa ... Aku..." lanjut Langit sambil tertawa miris sendiri. Menertawai kenyataan pahit yang ditetapkan untuknya dan untuk Gemi.

Mereka saling diam, melihat arah mana saja asal tidak saling temu pandang. Langit berulang-ulang membuang napas dari mulutnya. Oksigen yang ada di sekitar seakan tidak cukup memenuhi pasokan udara di dadanya. Sesak, rasanya sesuatu telah menghimpit dadanya.

Sementara itu, Gemi yang duduk tak jauh darinya cuma bisa geming seribu kata. Bohong bila Gemi tidak menyisakan sedikit pun perasaannya untuk Langit. Meskipun, perbandingan antara rasa itu dan menjaga perasaan orang tuanya tidak sebanding. Rasionya 2:8 mungkin.

"Aku pamit, jaga makanmu." Langit berpesan seraya bangkit, ia akan beranjak dari sana.

Segera Gemi mendongak, ia menatap sekali lagi Langit sebelum pergi. Tatapannya tertahan karena Langit menguncinya.

Gemi mengerjap-ngerjapkan mata, merasa aneh ditatapi Langit sebegitu mendalamnya. Mirip seperti saat Langit mengajaknya untuk menikah.

"Kabari Aku kalo pria itu udah dateng." pesan Langit sebelum benar-benar beranjak.

"Udah," Gemi keceplosan mengada-adakan yang belum ada.

Sontak mata Langit membelalak, "Siapa?" tanyanya syok.

Gemi melirik ke sana dan ke sini, ia mencari sosok yang pas untuk melengkapi karangannya.

"Byakta."

SARANGHAE, MBAK! [TAMAT] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang