Tidak ada yang salah antara Jagat dan Gemi. Hanya saja, kebersamaan dua insan bak prangko ini membuat Edo, Bastian, dan Hilmi sakit mata. Coba lihat saja, mereka duduk berdekatan. Gemi menunjuk-nunjuk layar laptop sambil menjelaskan, sementara Jagat asyik menatapi Gemi dari dekat. Itu menjengahkan.
"Tatap terosss..." sindir Edo.
"Awas, lepas matamu, Gat!" Hilmi menambahi.
"Mentang-mentang baru jadian, astogehhh..." Bastian geleng-geleng kepala.
Gemi sontak menoleh menyadari dirinya jadi bahan sindiran. Matanya bertemu Jagat langsung saat menoleh. Bukannya kabur, Jagat malah menatapinya penuh cinta.
"Kamu gak dengerin Aku, ya?" Gemi mengomel alih-alih terpesona atau salah tingkah.
"Hayo, we ... kapokmu kapan!" sorak Edo mengompori.
"Sikat, Mbak! Jangan kasih ampun." Bastian ikut andil.
"Jagat gak dengerin Kamu dari tadi, Mbak." Hilmi ikut memanas-manasi.
Jagat seketika menoleh cepat, menghunus tatapan maut pada tiga sahabat laknatnya. Mereka tidak takut, malah tergelak berjamaah. Bastian sampai menepuk-nepuk lengan Hilmi di sebelahnya saking lucunya.
"Udahlah, Aku males bahas materi sama Kamu." Gemi merajuk, teracuni komporan tiga sahabat laknat Jagat. Mulutnya hampir berbuih dan tenggorokannya sampai kering menerangkan, tapi Jagat malah asyik dengan dunianya.
"Aku dengerin Kamu, Mbak." Jagat gelagapan, ia kembali memelototi ketiga sahabat laknatnya. "Iri bilang, dasar kompor!"
"Sorry, Gat. Wes due dewe (dah punya ndiri)." timpal Edo meroket.
"Wes bucin ki (dah bucin nih), angel (susah), angel..." olok Bastian menyulut api.
Gemi mematikan laptop, menutup pembahasan materi konten mereka pekan depan. "Aku mau pulang, dilanjutin daring aja." putusnya sudah lelah.
"Yah ... kok dah mau pulang aja, sih, Mbak?" Bastian yang justru sedikit kecewa dengan keputusan Gemi.
"Udah jam segini, Dek. Ndak engko digoleki mbokku (ntar dicariin ibuku)." terang Gemi walau sebenarnya Halimah tidak seperti itu.
"Oalah, gitu. Yowes, hati-hati, yo, Mbak. Makasih buat hari ini." Bastian menerima alasan Gemi.
Gemi memberi acungan jempol sambil mengangguk. Edo serta Hilmi juga tidak ketinggalan mengucapkan terima kasih padanya dan memintanya sabar menghadapi kebucinan Jagat.
"Aku anter, Mbak." Jagat serta merta berdiri kala Gemi bangkit akan beranjak dari sana.
"Lha nek gak mbok anter (kalo gak Kamu anter), Aku mbok suruh jalan kaki? Sepedaku kan masih di kantor." jawab Gemi bikin Jagat meringis.
"Lupa Aku, Mbak." ujar Jagat sambil mesem.
Gemi cuma bisa mendengus halus, kemudian mengayun kaki pergi. Jagat lantas mengikuti jejaknya.
...
"Mbak, Aku pingin sekali-kali kencan ke sebuah tempat. Bosen, udah jalan hampir seminggu cuman kencan di rumah Bastian atau warung bakso." usul Jagat saat berhenti di lampu merah.
"Lha, pinginmu ke mana?" sama Gemi langsung ditanggapi.
"Yang deket-deket aja dulu, telaga misalnya." kata Jagat.
"Deket apanya, dua jam setengah minimal perjalanannya!" oleh Gemi langsung ditimpali.
"Yea, masak cuman kencan di sekitaran kota sini, sih, Mbak. Gak seru!" Jagat menyanggah. Tepat saat ia bicara, lampu hijau menyala. Jagat mengegas motor, melanjutkan perjalanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SARANGHAE, MBAK! [TAMAT]
Ficción GeneralBagi Gemintang Soerjoprasojo, Mo Tae Goo adalah sosok pria idamannya setelah kisah asmaranya bersama Langit Djatmiko kandas dihantam gelombang restu. Tapi, bagaimana bila seorang bocah SMA yang terpaut 10 tahun lebih muda hadir dan menyukainya? Bag...
![SARANGHAE, MBAK! [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/280888379-64-k372609.jpg)